Kategori: Kilat

  • Peluncuran Jurnal Mahasiswa Filsafat Cogito: Kematian Tuhan dan Kategori The Social

    Peluncuran Jurnal Mahasiswa Filsafat Cogito: Kematian Tuhan dan Kategori The Social

    Kerumunan orang memadati Perpustakaan Fakultas Filsafat pada Kamis (02-14) pukul 09.00 WIB untuk menghadiri peluncuran Jurnal Mahasiswa Filsafat COGITO Vol.4 No.2. Dr. Rr. Siti Murtiningsih selaku Wakil Dekan Fakultas FIlsafat mengungkapkan bahwa peluncuran jurnal ini merupakan angin segar untuk Fakultas Filsafat yang akan membawa atmosfer keilmuan yang lebih baik kedepannya. Terdapat dua tulisan yang dibahas dalam acara ini, yaitu Kematian Tuhan (Tentang Bahasa, Logika, dan Metafisika) yang ditulis oleh Risalatul Hukmi dan Kategori The Social dalam Filsafat Politik Hannah Arendt yang ditulis  St. I Nyoman A. W. . Pembedah jurnal kali ini adalah St. Sunardi.

    Topik pertama yang dibahas adalah Kematian Tuhan (Tentang Bahasa, Logika, dan Metafisika) oleh Risalatul Hukmi. Ia mengklarifikasi banyak pembaca salah memahami konsep Nietzsche tentang kematian Tuhan. “Kenapa Tuhan mati?” ia memberikan asumsi, “sebab Nietzsche menolak metafisika dan Tuhan yang selama ini dipahami oleh kaum agamawan yang mengasumsikan Tuhan secara metafisis.” Risalatul mengatakan bahwa penolakan Nietzsche atas metafisika ada hubungannya dengan kritiknya terhadap logika, bahasa, dan metafisika. Ia menjelaskan bahwa Nietzsche hanya ingin mengatakan bahwa Tuhan yang selama ini kita percaya adalah sebuah konsep. Pada akhirnya Tuhan tetaplah mati sejauh Ia dipahami sebagai sesuatu yang-ada-di-dalam-dirinya-sendiri.

    Setelah Risalatul membahas tulisannya, St. I Nyoman A. W. memaparkan tulisannya tentang Kategori The Social dalam Filsafat Politik Hannah Arendt. Untuk mengerti kategori The Social, Nyoman mengajak audiens untuk memahami terlebih dahulu tentang kritik filsafat politik Hannah Arendt terhadap tradisi filsafat barat. “Jika kita membaca Plato dan tradisi filsafat Yunani klasik sampai Marx, ada tendensi dalam memahami (bahwa) ruang publik itu sekunder,” paparnya. Nyoman menjelaskan bahwa ruang publik hanya dijadikan sebuah instrumen tanpa ada yang mengetahui sebenarnya apa itu ruang publik.

    Menurut St. Sunardi orang yang akalnya sehat dan hatinya masih bersuara akan berpikir sama seperti Hannah Arendt. Sunardi menyampaikan bahwa Arendt mengkhawatirkan kualitas The Social yang tidak manusiawi. “Sebab menurut Arendt kualitas sosial tidak lagi menjadi tempat manusia itu menampakan dirinya secara spirit popularitas,” tuturnya.

    Selanjutnya, Sunardi berkomentar tentang pemaparan yang disampaikan Risalatul. Menurutnya, Nietzsche mempunyai kegelisahan yang mendalam bahwa dirinya mengalami hambatan ketika ingin memaknai hidupnya. Hambatan itu adalah agama, sehingga dia tidak bebas memaknai hidupnya. Ia juga mengingatkan audiens agar berhati-hati memaknai kematian Tuhan. “Atas dasar kepentingan apa mencari tentang kematian Tuhan, entar yang ada malah murtad,” ujar Sunardi sambil tertawa. Ia juga memberikan saran jika ingin menulis tentang Nietzsche tulislah dengan kreatif. “Jangan sampai hanya terjebak dalam segi pemikiran metafisik Nietzsche saja,” pesannya. (Alfin)

  • Peran Intuisi dalam Dunia Kepenulisan

    Peran Intuisi dalam Dunia Kepenulisan

    Pada Senin (05-02) Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada mengadakan Studium Generale dengan tema “Proses Kreatif-Intuitif dalam Dunia Kepenulisan” yang diisi oleh seorang novelis yang juga merupakan penceramah dan sutradara, Habiburrahman El Shirazy. Kuliah umum tersebut bertempat di Ruang Auditorium Lantai 3 Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Kuliah umum tersebut dihadiri ratusan mahasiswa baik dari Fakultas Filsafat, luar Fakultas Filsafat, maupun dari luar kampus UGM.

    Kuliah umum dibuka dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Filsafat UGM, Arqom Kuswanjono.  Ia menjelaskan latar belakang dipilihnya tema Studium Generale kali ini sekaligus memperkenalkan latar belakang pembicara kuliah umum kali ini.

    Habiburrahman membuka kuliahnya dengan perbincangan tentang firasat (intuisi). Menurutnya sumber firasat ada tiga, pertama dari Tuhan, farosatul al-mukminin (firasat orang–orang beriman). Kedua, yaitu firasat yang datang dari setan. Firasat yang ketiga ada dalam diri kita yaitu nafsu yang terbagi menjadi an-nafs al-mutmainah (nafsu baik) dan an-nafs al-amarah (nafsu buruk).

    Gaya kepenulisan Habiburrahman banyak dipengaruhi oleh latar belakangnya yang dahulu sebagai seorang santri. Proses kreatifnya dimulai ketika ia masih MTS, salah satunya menulis cerpen. Ketika Madrasah Aliyah ia membuat pementasan  di Taman Sriwideri Solo. Selain itu ia sempat menulis dan membaca puisi di Malaysia. Juga ia mendapat banyak pengalaman ketika menempuh studi di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Hobinya menerjemahkan kita-kitab berbahasa Arab. Hal-hal tersebut membuat karya tulisnya dibumbui oleh semangat Islam moralis.

    Habiburrahman menceritakan pengalaman mudanya ketika membaca syair-syair cinta, salah satunya Majnun dan Laila. Ia membacakan “Aku melewati rumah Laila dan aku ciumi dinding-dindingnya. Bukan aku cinta pada rumah sehingga aku ciumi rumah itu, tapi aku cinta pada yang menghuni rumah itu (Laila).”

    “Segalanya tidak berlangsung tiba-tiba, tetapi ada prosesnya,” ujarnya. Modal paling penting dari sebuah karya adalah imajinasi (ide). Menurutnya, ide biasa didapat lewat intuisi an-nafs, yang bersifat baik dan hal yang paling utama agar mendapat ilham adalah dengan berdoa.

    Mira mahasiswi FIB UGM bertanya bagaimana cara mengatasi writer’s block. Habiburrahman menjawab setiap penulis pasti pernah mengalami writer’s block. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan hal itu, pertama lemahnya kerangka kepenulisan (kurang matang), kedua kurangnya eksposur terhadap gaya kepenulisan meski telah mendapat ide yang kuat, ketiga karena penulis merasa lelah dan bosan.

    Tanggapan datang dari Josardi, mahasiswa Filsafat UGM, menurutnya ia tidak mendapatkan pembicaraan filosofis pada pembahasan ini. Juga pembicaraan tidak mengarah pada landasan pedagogik pembahasan. Ia berpendapat bahwa sepanjang kuliah umum pembahasan hanya sebatas pengalaman intuitif personal.(Aldi/Rananda)

  • Goenawan Mohamad: Pada Masa Intoleransi

    Goenawan Mohamad: Pada Masa Intoleransi

    “Sejarah intoleransi merupakan sejarah yang sangat panjang,” ujar Goenawan Mohamad, sastrawan dan jurnalis terkemuka, selaku pembicara dalam kuliah umum berjudul “Pada Masa Intoleransi”. Kuliah umum tersebut berlangsung pada Jumat (02-02), di Kafe Basabasi, Bantul.

    Goenawan Mohamad atau yang akrab disebut GM, membuka kuliahnya dengan menceritakan intoleransi yang ada dalam sejarah antarumat tiga agama besar. Ia memberi contoh intoleransi yang terjadi saat perpecahan antara Katolik dan Protestan. Intoleransi sangat erat hubungannya dengan konflik identitas atas nama agama. “Pembunuhan masal yang terjadi pada masa lampau selalu diberi makna religius,” ujarnya.

    Menurutnya, abad-20 adalah abad kemarahan. Salah satu pemicu hal tersebut ditandai dengan kecemasan akan perkembangan ilmu pengetahuan yang dianggap akan mengancam keyakinan gama. Ia memberi gambaran, jika suatu saat umat manusia berhasil menemukan kehidupan di luar bumi atau jika suatu saat manusia dapat melawan kematian sehingga dapat hidup abadi. Hal tersebut tentu akan menampar kepercayaan yang selama ini diyakini secara tekstual oleh kaum fundamentalis.

    GM mengutip Voltaire. “Inti dari intoleransi adalah sikap kefanatikan”. Hal itu yang kemudian melandasi pemikiran identitas, sehingga atas dasar perbedaan indentitas, suatu kelompok cenderung bersifat agresif ataupun defensif terhadap kelompok lain yang memiliki perbedaan identitas, dalam hal ini agama. Menurutnya, kini agama sudah tak lagi menjadi penghayatan umat terhadap Tuhan, melainkan telah menjadi identitas kelompok, partai, maupun organisasi. “Kalau kita melihat diri kita tanpa identitas, maka toleransi akan berjalan dengan baik,” sambungnya mengutip Amartya Sen.

    GM menceritakaan intoleransi yang terjadi di negara-negara dengan agama yang beragam, contohnya Pakistan dan India. Di Pakistan terdapat banyak intoleransi atas dasar agama, banyak terjadi serangan bom untuk menyebar teror kepada minoritas. Ada banyak korban berjatuhan. Belum lagi kebijakan blasphemy law, di mana seorang penista agama akan mendapat ganjaran hukuman mati.

    Menurut GM, di India masih terdapat ketegangan di masyarakat terkait intoleransi agama, namun mereka berupaya untuk menjadi negara yang lebih bersahabat dengan perbedaan. Tia Setiadi selaku moderator, mengafirmasi pendapat GM dengan mencontohkannya lewat film yang berjudul PK. Film yang disutradarai oleh Rajkumar Hirani ini dikenal karena alur cerita yang kritis dan dibumbui dengan adegan humor tersebut menggambarkan tentang pencarian terhadap sosok Tuhan. Tia juga mengutip percakapan dari film tersebut “Andai di tempatmu, bagaimana cara kamu mengekspresikan kebahagiaan sehingga kamu tidak punya Tuhan?”

    Rio, salah satu audiens, menanyakan apa seharusnya kita punya identitas universal atau justru malah sebaliknya, menghilangkan identitas sebagai solusi atas problem intolerasi. GM menjawab bahwa kita harus menyadari kalau identitas itu plural dan berproses. Negara dan kekuasaan politik menghendaki penyeragaman. Ia menambahkan mustahil bagi kita untuk menghilangkan identitas universal di mana identitas partikular saja sangat banyak beserta kerumitan masalahnya seperti yang terjadi saat ini.

    Tanggapan pengunjung seusai kuliah umum beragam, salah satunya tanggapan dari pengunjung bernama Mono. Menurutnya, dalam menanggapi problem intoleransi, kontrol seharusnya ada pada diri sendiri, bukan pada kelompok, organisasi, ataupun aliran agama yang melingkupi individunya. (Aldi/Rananda)

  • Runding Gairah Sastra, Mengulas Sastra dalam Musik

    Runding Gairah Sastra, Mengulas Sastra dalam Musik

    “Sastra dan Musik itu tema yang besar,” ujar Ugoran Prasad selaku penulis dan peneliti seni, saat menjadi pembicara Runding Gairah Sastra (RGS) yang diselengarakan oleh Forum Seni Budaya (FSB) Retorika. Selain Ugoran, RGS juga menghadirkan Berto Tukan seorang penulis dan kurator seni, dan Yab Sarpote yang dikenal sebagai aktivis dan musisi. Acara RGS berlangsung pada Kamis (31-08) di Lapangan Firdaus Fakultas Filsafat UGM dan mengangkat tema “Sastra dalam Musik”.

    Terkait sastra dalam musik, Yab yang sempat tergabung dengan kelompok musik Ilalang Zaman mengatakan bahwa selama proses bermusiknya, ia tidak terlepas dari pengalaman hidupnya yang selalu bersentuhan dengan musik. Selain itu, ia juga mengatakan jika buku-buku sastra, zine, dan diskusi membuka referensi baru selain yang ia dapatkan dari televisi. Yab juga menambahkan jika segala yang digelisahkan dalam pikirannya menjadi manifestonya dalam bentuk musik. “Ilalang Zaman menjadi medium untuk menentang semua yang tidak sesuai dengan sikap politik kami,” tuturnya.

    Dalam kepenulisan lirik, Ugoran yang biasa disapa Ugo menambahkan, musisi kerap kali tidak terlepas dari metafora. Ia mencontohkan larik “…semut merah, yang berbaris di dinding, menatapku curiga…” dari lagu “Kisah Kasih di Sekolah” milik Chrisye sebagai bentuk metafora dalam lirik. Menurutnya, hal ini membuktikan proses pengolahan bahasa dalam kepenulisan lirik musik mengubah bahasa sehari-hari menjadi sastra.

    Berikutnya, Ugo berpendapat jika kategorisasi ‘musik yang sastrawi’ dan ‘musik yang tidak sastrawi’ telah mengaburkan pengertian esensial dari sastra dan musik itu sendiri. Lalu ia menjelaskan bahwa kategorisasi ini telah merasuki pikiran dan membentuk pola pikir masyarakat terhadap musik. “Padahal bahasa kita memiliki temponya sendiri, dan musik pun tidak terlepas dari teks dalam proses penulisan lirik dan nada,” jelas Ugo.

    Senada dengan Ugo, Berto mengatakan jika sastra dalam musik bukanlah sesuatu yang baru, bahkan purba. Baginya, dalam kesenian tradisional terdapat semua elemen seni termasuk sastra dan musik. “Misalnya dalam masyarakat agraris, mereka merayakan panen dengan kesenian,” ungkapnya. Berto menjelaskan kesenian tradisional-agraris terutama dalam drama, sudah memuat elemen musik, sastra, dan tari di dalamnya.

    Selain itu, Berto memberi tanggapan mengenai fenomena puisi yang dimusikalisasikan. Menurutnya musikalisasi puisi adalah upaya memberikan rasa baru yang lain, yang tidak didapatkan saat membaca puisi. Ia menambahkan, jika musikalisasi puisi tidak memberikan rasa yang baru, dapat dikatakan musikalisasi tersebut telah gagal.

    Jonas Vysma selaku ketua FSB Retorika mengatakan tujuan mengadakan acara ini adalah untuk turut serta dalam perayaan Lustrum X Fakultas Filsafat dan peluncuran buku antologi puisi Me- dan yang lainnya. Selain itu, Jonas mengatakan jika pemilihan tema “Sastra dalam Musik” adalah untuk menjawab tren yang berkembang. “Puisi sekarang banyak dimusikalisasi, dan acara ini berusaha menjawab, berhasilkah upaya para seniman yang menggunakan medium yang variatif?” pungkas Jonas. (Ozi/Aldo)

  • Antara Jurnalisme dan Sastra

    Antara Jurnalisme dan Sastra

    Pada Minggu (27-08), Lembaga Pers dan Penerbitan Mahasiswa (LPPM) Sintesa mengadakan Seminar Sastra dan Jurnalistik dengan tema “Membaca Dinamika Pergerakan Bangsa melalui Jurnalisme Sastra”, yang diisi oleh Sapardi Djoko Damono, sastrawan kenamaan Indonesia. Acara bertempat di Ruang Auditorium, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM).

    Acara dimulai dengan pembacaan puisi oleh Teater Selasar Fisipol yang mengundang antusiasme penonton untuk menyimak lebih dalam acara yang diselenggarakan oleh LPPM Sintesa. Dr. Wawan Mas’udi selaku Wakil Dekan Bagian Akademik Fisipol UGM turut hadir dalam acara tersebut.

    Dalam seminar ini, Sapardi memulai seminar dengan pembahasan tentang berita dan cerita. Ia menjelaskan perbedaan antara keduanya. “Berita adalah fakta, sedangkan cerita itu fiksi,” ujarnya. “Setiap berita akan digantikan dengan berita yang baru, sedangkan cerita bisa bertahan hingga ratusan tahun,” sambungnya. Sapardi juga beranggapan bahwa cerita membutuhkan bahan pengawet seperti metafor dan paradoks, sementara itu berita adalah informasi yang baru atau bermanfaat untuk diketahui terutama tentang kejadian yang hangat.

    Sapardi, yang juga Guru Besar di Universitas Indonesia, juga memberikan penjelasan lebih dalam persoalan jurnalisme. Menurutnya, wartawan pada hakikatnya juga tukang cerita yang memiliki keterampilan menggunakan piranti bahasa. ”Saat pertama kali ada media cetak (jurnal), jurnalis pada umumnya adalah sastrawan” ujar Sapardi. Ia memberikan contoh nama-nama seperti Mas Marco Kartodikromo, Semaun, Rustam Effendi, Tan Malaka dan Tan Teng Kie sebagai jurnalis yang mengawetkan berita menjadi syair dan cerita.
    Pada akhir seminar, Sapardi membahas perkembangan teknologi dan hubungannya dengan jurnalisme. “Jadilah tukang berita yang pandai bercerita, kembangkan terus teknologi, dan kuasai teknologi sebaik-baiknya” pesan sapardi kepada para hadirin. Menurut Fajar Syahrir, salah satu peserta seminar, acara ini bagus. “Acara ini sangat menambah wawasan dan dapat memperbanyak relasi,” ujarnya. Acara ditutup dengan penyerahan cenderamata oleh ketua panitia sekaligus pemimpin umum LPPM Sintesa kepada Sapardi Djoko Damono. (Rif’at Amri)

  • Cerpen Perempuan yang Disingkirkan dan Batas Kenyataan

    Cerpen Perempuan yang Disingkirkan dan Batas Kenyataan

    Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM rutin mengadakan diskusi sastra tiga bulan sekali. Acara ini dimaksudkan sebagai pergesekan atau persentuhan antar penyair dari generasi yang berbeda, yang dirasakan mempunyai perspektif atau wawasan estetik yang berbeda. Senin (14-07) malam, PKKH UGM menggelar kembali Diskusi Sastra Nasional yang membahas cerpen Perempuan yang Disingkirkan karya A.S. Laksana.

    Pembahas diskusi kali ini adalah I Made Iwan Darmawan (Sastrawan) dan Sarwo Ferdi Wibowo (Mahasiswa S2 Ilmu Sastra FIB UGM) yang dimoderatori oleh Fransiskus Tri W.S.. Sebelum diskusi dimulai, aktor film Landung Simatupang membacakan cerpen Perempuan yang Disingkirkan.

    Cerpen ini bercerita tentang Katip Mustopa Jember—pensiunan menteri agama—yang terus-terusan diperas oleh dua oknum karena kasus lamanya. Katip akhirnya merasa terganggu dan atas saran seorang dukun ia membangun rumah peristirahatan di sebuah dusun. Di dusun itu hal-hal magis terjadi, seperti kutang terbang, meriam yang mengucurkan air mata dan biawak padang pasir yang memiliki dua alat kelamin yang keluar dari sebuah gua di dusun itu.

    Menurut Iwan, pembaca selalu memerlukan ruang imajinasi atas apa yang dibacanya. Bila pembaca bisa tuntas membaca cerpen ini dalam satu kali tarikan nafas, pastilah tak bisa berimajinasi sama sekali. Susunan kata yang disajikan A.S. Laksana cukup rumit untuk dikunyah dalam sekali gigitan, yang terkadang paragraf satu dan yang lain tampak tak punya kaitan. “A.S. Laksana tidak membuat lompatan (dunia sekarang ke dunia lain), tapi rembesan dari logika kekinian ke dunia yang melebihi dongeng,” kata Iwan.

    Sarwo mengatakan bahwa A.S. Laksana dalam cerpennya ini mendorong batas-batas unsur realis dan magis sehingga semuanya kabur dan sulit dibedakan mana yang nyata (rasional) dan yang tidak (irrasional). Penggunaan dua paradigma, realisme sekaligus magis, lewat cerpen ini meniscayakan munculnya banyak persepsi akan kebenaran. Menurut Sarwo, pengalaman kita dalam hidup sering kali tidak dapat dijelaskan secara empiris. Baginya, Setelah membaca cerpen ini kita mungkin percaya bahwa usaha-usaha manusia menginterpretasi fakta untuk menemukan kebenaran, dengan satu paradigma tertentu saja, malah semakin menjauhkan manusia dari kebenaran itu sendiri. Bahwa dunia tanpa kacamata paradigma adalah keajaiban dalam keseharian atau keseharian yang merupakan keajaiban itu sendiri,” tuturnya. (Rananda Satria)

  • Film Indie Kembali Meramaikan Bioskop Indonesia

    Film Indie Kembali Meramaikan Bioskop Indonesia

    Puluhan orang memadati Aita Coffee di Jalan Urip Sumoharjo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Selasa, (25-04) malam. Melanjutkan tradisi hari Selasa, Aita Coffee kembali mengadakan diskusi rutin bertajuk Selasa Sinema. Diskusi diisi oleh Bagus Suitrawan sebagai pembicara dan Tedi Kusnyairi sebagai moderator. Bagus merupakan asisten sutradara merangkap co-producer film Ziarah karya B.W. Purbanegara.

    Film Ziarah menceritakan perjalanan Mbah Sri mencari makam Prawiro, suaminya yang tidak pernah kembali setelah Agresi Belanda II. Perjalanan Mbah Sri bermula saat mendapatkan kabar dari seorang veteran perang. Bermodalkan cerita tersebut, Mbah Sri memulai perjalanannya mencari makam sang suami. Naskah film yang ditulis oleh B.W. Purbanegara ini masuk nominasi Piala Citra untuk Penulis Skenario Asli Terbaik 2016.

    Bagus menjelaskan bahwa film ini bertujuan untuk mengembalikan nilai-nilai perfilman Indonesia yang sudah tercemar budaya populer, seperti dibintangi artis-artis terkenal dan alur cerita cinta segitigaremaja. Selain itu, Bagus dan tim produksi Ziarah menjauhkan budaya eropa-sentris yang selama ini tertanam dalam dunia perfilman Indonesia. “Alasan utama kita mengangkat film dengan latar sawah dan kampung-kampung adalah untuk mengingatkan masyarakat bahwa film tidak harus mengisahkan cinta remaja dan budaya Eropa. Film ini menggambarkan tema kisah cinta dan nilai luhur yang terkandung di tanah Jawa.”

    Menurut moderator Selasa Sinema, Tedi Kusnyairi, film seperti ini merupakan sebuah terobosan baru bagi perfilman Indonesia. Film indie telah berhasil menunjukkan taringnya dan ditayangkan di layar lebar Indonesia. Tedi menambahkan dunia perfilman Indonesia membutuhkan sebuah pembaruan, seperti film Istirahatlah Kata-Kata dan Kartini. “Film ini bercerita tentang sejarah serta nilai-nilai dari leluhur kita,” pungkas Tedi.

    Sani, mahasiswa STIQ An-Nur Yogyakarta yang menjadi peserta Selasa Sinema mengatakan bahwa film seperti ini harus ditonton. Ia tertarik dengan peran utama yang diperankan oleh nenek yang berusia 95 tahun. “Menurut saya, ini sebuah pembaruan. Saya penasaran dengan akting seorang wanita yang sudah berumur,” ucap Sani.

    Diskusi Selasa Sinema diselingi dengan beberapa tarian khas daerah Yogyakarta. Selasa Sinema ditutup dengan peluncuran website suarapemudajogja.com oleh SuaraPemudaJogja. (Yolbi Fanszola)

  • Menyoal Imajinasi Budi Darma dalam “Hotel Tua”

    Menyoal Imajinasi Budi Darma dalam “Hotel Tua”

    Rabu (19-04) malam, Penerbit Buku Kompas mengadakan diskusi buku Hotel Tua karya Budi Darma. Acara ini merupakan agenda terakhir dari acara Blonjo Buku Kompas di Bentara Budaya Yogyakarta. Bincang sastra ini dimoderatori oleh Naomi Srikandi yang ditemani oleh B. Rahmanto serta Agus Noor sebagai pembahas. Budi Darma, sebagai penulis buku, turut hadir dalam diskusi ini.

    Dalam kumpulan cerpen Hotel Tua, disebutkan bahwa Budi Darma merupakan penulis yang produktif meskipun telah berusia senja. Hal tersebut terbukti dengan terbitnya kumpulan cerita pendek ini. Buku ini memuat delapan belas cerpen yang Budi Darma tulis dalam rentang waktu dari tahun 1970 sampai 2014. Ia tidak berhenti menulis karya-karya baru, kendati berbagai penghargaan telah diraihnya.

    Menurut Rahmanto, cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini akan membuat pembaca awam kaget karena dahsyatnya imajinasi yang dimiliki Budi Darma. “Setiap saya membaca satu cerpen, saya selalu ingin cepat-cepat selesai untuk mengetahui ujung kisahnya. Dan setiap selesai, saya dipaksa atau terpaksa tak beranjak dari imajinasi-imajinasi Budi Darma yang berkelebatan susul-menyusul, kemudian memaksa saya berhenti untuk membayangkannya dengan emosi yang sesak,” tutur Rahmanto.

    Budi Darma sendiri telah menjabarkan tentang imajinasinya dalam Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (1983). Budi Darma menjelaskan bahwa imajinasi adalah sesuatu yang tidak ada, kemudian menjadi ada dalam alam pikirannya. Imajinasinya sering menyiksa, menakutkan, dan nampak mengada-ada tapi memang ada. “Saya tidak dapat mengada-adakan imajinasi. Imajinasi saya datang dengan sendirinya,” tulis Budi Darma.

    Rahmanto menjelaskan bahwa imajinasi dihasilkan oleh dua faktor, yaitu faktor insting, yang merupakan ketajaman dan naluri dalam merespons gejala, dan faktor persepsi, yang merupakan ketajaman intelek dalam menangkap yang ada di balik gejala itu.  Menurut Rahmanto, insting, persepsi, dan imajinasilah yang menggerakkan proses kreatif Budi Darma.

    Rahmanto melanjutkan penjelasannya tentang insting, persepsi, dan imajinasi dengan mengutip tulisan Budi Darma. “Dengan insting dan persepsi ini saya tidak hanya melihat bayang-bayang hidup yang tercermin dalam tindakan manusia, akan tetapi hakikat hidup sendiri. Saya dapat melihat segala sesuatu yang berkelebatan di sekitar takdir manusia. Mata saya dapat menembus segala sesuatu, kuping saya dapat mendengar apa pun, dan perasaan saya dapat menangkap apa yang tidak mungkin saya tangkap andaikata saya bukan pengarang,” kutip Rahmanto dari buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang.

    Agus Noor berpendapat bahwa Budi Darma melalui cerita-ceritanya, berhasil menangkap realitas dalam perspektif yang unik dan kocak. “Kocak dalam perspektif manusia melawan takdirnya, bukan usaha untuk melucu,” ujar Agus Noor. Naomi Srikandi mengafirmasi pendapat Agus Noor dengan mengatakan bahwa cerpen-cerpen Budi Darma membuat kita berpikir ulang tentang apa yang kita anggap sebagai yang wajar.

    Budi Darma juga sempat membacakan salah satu cerpennya dengan semangat. Bincang-bincang sastra yang diiringi dengan gerimis tersebut diakhiri dengan penandatanganan buku oleh Budi Darma. (Rananda Satria)

  • Radio Buku Mengadakan Diskusi Novel Raden Mandasia

    Radio Buku Mengadakan Diskusi Novel Raden Mandasia

    Klub Baca Radio Buku mengkaji novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi (2016) karangan Yusi Avianto Pareanom. Pertemuan perdana klub baca ini diadakan pada Sabtu (4-3) sore, di Radio Buku, Sewon, Bantul. Belasan peserta menyimak lalu saling bergantian mengutarakan pendapat mereka setelah salah seorang membaca penggalan novel.

    Nikita Ariestyanti sebagai pemantik utama diskusi ini mengatakan bahwa novel ini mengingatkannya pada serial televisi Game of Thrones, sebab selain sama-sama bersifat kolosal, keduanya juga menghadirkan banyak nama tokoh pada bagian-bagian awal dan barangkali membuat pembaca kebingungan. Namun, itu tidak mengurungkan niatnya untuk membaca novel ini sampai selesai.

    Sungu Lembu (tokoh “aku” dalam novel ini), menurut Nikita, adalah anak muda yang songong dengan isi pikiran yang kurang ajar. Namun, hal tersebut justru membuat novel ini tidak membosankan. Kegemaran ganjil Raden Mandasia yakni mencuri dan memutilasi daging sapi dengan cantik sementara kerajaannya sibuk berperang, menambah semangat peserta diskusi lain untuk menamatkan buku ini.

    Tentu tidak hanya umpatan-umpatan lugas dari Sungu Lembu dan perilaku aneh dari Raden Mandasia saja yang membuat novel ini memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2016. Muhidin M. Dahlan, pendiri Radio Buku yang turut hadir dalam diskusi, mengatakan Raden Mandasia adalah puncak meledaknya novel-novel silat dari tahun 2010. Pengalaman Yusi sebagai wartawan dan penerjemah membuatnya mampu menulis cerita yang sangat detail.

    “Yusi adalah pendongeng kontemporer,” kata Muhidin. Penjelasan tentang makanan yang begitu rinci dan berbagai hal lain dalam Raden Mandasia, menurut Muhidin, juga dipengaruhi oleh Serat Centhini dan sastra Jawa lainnya. “Perbedaan antara novel silat dan kolosal lainnya dengan Raden Mandasia adalah ketika novel lain menggunakan bahasa senonoh, Raden Mandasia menampar dengan kata-kata yang membuat mual,” ujar salah satu peserta diskusi.

    Akhirnya, disimpulkan bahwa kesamaan antara Raden Mandasia dan Yusi adalah mereka sama-sama pemberontak. Raden Mandasia memberontak pada nafsu perang ayahnya, sedangkan Yusi melakukan pemberontakannya dengan menulis di jalur independen. (Rananda Satria)

  • BPPM Equilibrium Meluncurkan Majalah Bertema “Marginalitas”

    BPPM Equilibrium Meluncurkan Majalah Bertema “Marginalitas”

    Pada Sabtu (4-3), Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Equilibrium mengadakan peluncuran Majalah BPPM Equilibrium Edisi 19 bertema “Marginalitas”. Acara bertempat di Djarum Hall, Pertamina Tower, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM). Tidak hanya peluncuran majalah, buku kumpulan cerita pendek berjudul Kelakar Dalam Candu, serta Sui Generis yang berisi hasil penelitian juga diluncurkan dalam waktu yang sama. Bincang-bincang seputar marginalitas dan kaum penyandang disabilitas juga diadakan dengan diundangnya tiga orang pembicara. Para pembicara menjelaskan pentingnya usaha menyelesaikan masalah marginalisasi dan mengajak masyarakat untuk peduli pada penyandang disabilitas.

    Bincang-bincang diawali oleh Derajad S. Widhyharto, S.Sos. M.Si. yang membahas tentang marjinalisasi. Menurut dosen Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM ini, marginaliasi ialah proses pemutusan hubungan suatu kelompok dengan lembaga sosial utama yang berupaya untuk membatasi peran kelompok tersebut. Baginya, cara untuk menyelesaikan marginalisasi adalah dengan cara memarginalkan marginalitas, sehingga membebaskan kelompok tersebut. “Dimulai dari diri sendiri dulu, tidak mesti memaksakan orang lain,” ujarnya

    Drs. Pramudya Hadi Prianto, M.Si, selaku Kepala Bidang Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), juga memberikan opininya terhadap isu marginalitas. Menurutnya peran masyarakat dalam mengatasi marginalisasi, khususnya untuk penyandang disabilitas, sangat penting. Ia juga menjelaskan pentingnya pendidikan bagi penyandang disabilitas, “Pendidikan termasuk hak yang harus dicapai bagi penyandang disabilitas,” pungkasnya.

    Selain dua pembicara tersebut, hadir pula Hariyanto, Ketua National Paralympic Commitee DIY yang berpusat di Solo, Jawa Tengah. Setelah menjelaskan sedikit tentang organisasi yang ia pimpin, Hariyanto menjelaskan pentingnya membangun stigma positif dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas dalam olahraga. Ia berbicara banyak tentang difabel yang dianggap hambatan atau beban dalam aktifitas masyarakat. Menurutnya, setiap manusia memiliki hak yang sama dalam masyarakat, termasuk penyandang disabilitas yang kadang terabaikan haknya. “Padahal banyak kontribusi mereka yang membanggakan bagi keluarga dan  bangsa, termasuk di bidang olahraga,” ucapnya. (Rif’at Amri)