Nadin Amizah, seorang penyanyi kelahiran Bandung, terkenal dengan ciri khas suaranya yang memiliki cengkok dan vibra yang bersih sehingga memancarkan ketenangan dengan kesan mendalam. Musik yang dibawakannya berupa campuran dari pop dan folk yang diiringi dengan elemen akustik, menjadikan lagunya memiliki melodi yang melankolis. Lirik-lirik yang dilahirkannya cenderung bersifat reflektif-introspektif yang dibungkus secara puitis dan dapat dikatakan meromantisasi perasaan dalam merenungi hidup, sehingga tak jarang liriknya akrab terhadap hal-hal kecil dalam hidup kita.
Dalam lagu-lagunya, Nadin seolah mencongkel perasaan yang berusaha dipendam sedemikian rupa oleh para pendengarnya. Hal ini tercermin jelas dalam lagu-lagu pada album Selamat Ulang Tahun yang lahir pada tahun 2020. Album ini menceritakan runtutan kisah selama dua puluh tahun hidupnya. Album yang memiliki sepuluh lagu ini merupakan representasi perjalanan Nadin yang bergelut dengan berbagai lika-liku dan uraian pembelajaran atas peperangan batin yang ia alami.
Perjalanan hidup Nadin dalam album Selamat Ulang Tahun diawali oleh lagu “Intro”. Lagu ini menjadi representasi bagaimana jiwa baru mulai lahir dan tumbuh serta mulai memasuki fase dewasa yang tergambarkan melalui sorak-sorak perayaan ulang tahun, diikuti oleh tawa seorang anak kecil, lalu disambung monolog Nadin dan diakhiri ucapan kalimat sayang dari sang ayah.
Pada lagu selanjutnya, “Kanyaah”—diambil dari bahasa Sunda yang berarti “kasih sayang”—merupakan lagu yang merepresentasikan bagaimana cinta kasih seorang ibu yang selalu mengiringi dan berperan sebagai petunjuk arah bagi Nadin. Dalam lagu ini, eksistensi ibu Nadin direpresentasikan sebagai “bunga merah” yang kerap membasuhnya dengan penuh cinta dan kasih sayang serta sebagai tempat ternyaman untuk pulang bagi Nadin ketika ia lelah. Nadin juga merepresentasikan eksistensi ibunya sebagai “doa” yang menjaganya dari standar sosial yang tak pernah menemui titik akhir serta ketidakcukupan kasat yang kusut dalam ego dan persepsi orang lain terhadap dirinya. Ibu Nadin dengan segala kelembutan yang ia miliki mengajarkan bahwa “lemah” tak harus selamanya ditelan sebagai persepsi yang negatif, melainkan ia dapat memvalidasi sisi lemahnya yang sudah sekian lama dipaksa untuk gagah. Lalu di sisi lain, ibu Nadin mengajarkannya untuk berani dalam merasakan segala perasaan tanpa merasa khawatir sedikit pun, sekaligus mengingatkannya untuk tetap menjaga dan mengontrol perasaan tersebut sesuai porsinya. Bagi Nadin, ibunya adalah tujuan terakhir untuk pulang dan menjadi wadah untuk menumpahkan segala lelahnya yang tak dapat ia lepaskan di depan mata telanjang orang-orang.
Lagu “Paman Tua” menjadi urutan ketiga pada album Selamat Ulang Tahun yang menceritakan sosok ayah di hidup Nadin yang dibanting tulangnya untuk bekerja menghidupi angan. Angan pada hal ini diartikan sebagai mimpi yang menjadi alasan utama mengapa pagi hari nampak seperti ilusi bagi sosok Paman Tua. Meskipun sosok ayah menganggap pagi hari sebagai sebuah ilusi karena lelahnya akan kembali bermuara, tetapi hatinya bersandar kuat pada berakhirnya hari di mana ia akan kembali kepada keluarganya dan bergabung dalam hangatnya suasana malam. Nadin menceritakan bagaimana sang ayah adalah sosok lelaki yang sangat mengusahakan angan yang bahkan bukan miliknya; angan yang duduk tenang di dirinya menunggu untuk dipanggil dan bermuara; angan yang sejatinya milik seseorang yang dilimpahi kasih sayang olehnya. Nadin menceritakan lagu “Paman Tua” melalui sudut pandang seseorang yang diusahakan angannya. Pada akhir lagu “Paman Tua”, Nadin menghaturkan rasa terima kasih dan sayangnya terhadap sang ayah yang telah bekerja keras mengusahakan angannya dalam lirik, “Aku ini hanya ingin berjumpa.”
“Malam, kota lamaku,” menjadi lirik pembuka lagu keempat—“Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat”—pada album Selamat Ulang Tahun yang merujuk kepada kota Bandung, tempat lahir dan tumbuh bagi jiwa kecil Nadin. Pada lagu ini, diceritakan perjalanan hidup Nadin mengenai cinta, luka, dan waktu yang membuatnya seolah kembali memijaki masa lalu, di mana jiwanya terjebak pada kenangan pahit atas kotornya ruang hati dengan barang bukti yang berserakan berupa luka batinnya. Nadin proteskan secara gamblang tentang bagaimana waktu yang berlalu terlalu cepat seakan berperan jahat bagi hidupnya yang masih diselimuti konflik batin, sehingga menciptakan lubang kebingungan pada dirinya. Ia membutuhkan ruang yang lapang untuk mencoba memahami dan merefleksikan kejadian-kejadian serta luka-luka yang telah dilaluinya. Terdapat sirat putus asa yang terselip pada lagu ini; menggambarkan bagaimana Nadin sudah tidak sanggup lagi untuk menopang segala kejadian yang datang menghantamnya secara beruntun. Titik puncak perasaan Nadin tergambar dengan jujur pada lirik akhir lagu ini, “Kereta ini tak gentar/Terus melaju/Aku takut,” menggambarkan kontras yang tebal antara luka masa lalu yang belum sembuh dengan waktu yang berputar begitu cepat seakan memaksa Nadin untuk segera berdamai dengan luka masa lalunya.
“Beranjak Dewasa” ditandai sebagai lagu kelima sekaligus sebagai sebuah representasi sosok Nadin yang mulai memijaki fase dewasa. Pada lirik awal, Nadin memberikan peringatan bahwa sebuah kejadian yang berwadah senang ataupun sedih akan tergilas pula oleh waktu. Nadin memberikan penggambaran akan bagaimana jiwanya pontang-panting setelah menapaki kehidupan dewasa yang seolah-olah tak kenal lapang dalam memberikan lika-liku pada hidup. Lirik, “Kita beranjak dewasa/Jauh terburu seharusnya,” dapat dimaknai sebagai kedewasaan yang menjemput Nadin terlalu cepat atau sebagai dirinya yang berlari terlalu kencang diburu oleh kedewasaan. Nadin memaknai beranjak dewasa bukan berarti segalanya menjadi lebih jelas, melainkan langkahnya yang kian lama kian cepat, diburu oleh waktu, tanpa dapat dipahami sepenuhnya. Dalam doanya, Nadin teriakkan sirat kepasrahan yang begitu berat akan kehidupan dewasa yang terlalu cepat bergerak dan dirinya seakan terseok-seok dalam memahami alur kedewasaan tersebut. “Mati lebih cepat” merupakan lirik ikonik representasi bagaimana jiwa dan batin seorang Nadin dengan mudahnya mati dan hidup kembali atas rutinitas dewasa yang tak ada habisnya. Maka dari itu, pada pembuka dan penutup lagu “Beranjak Dewasa” terdapat peringatan bahwasanya dalam akhir akan selalu ada awal.
“Bertaut” menjadi lagu paling fenomenal yang merupakan lagu keenam di album ini. “Bun, hidup berjalan seperti bajingan” merupakan sebuah awalan yang menyimpan banyak emosi dan menarik perhatian banyak telinga yang memiliki kisah atau rasa yang sama untuk mendengar. Kata “bajingan” yang menjadi sorot utama ditujukan sebagai luapan emosi marah dan sedih bagi hidup yang memperlakukan dirinya sebagai antagonis. Hidup Nadin dianalogikan sebagai landak karena landak dapat menusuk jika berinteraksi terlalu dekat sehingga, dapat disimpulkan bahwa, meski ia telah berteriak meminta pertolongan, Nadin merasa dirinya menjalani hidup penuh kesendirian dengan bayang-bayang takut kepada orang sekitar.
Pada lagu ini juga peran ibu Nadin kembali dimunculkan sebagai cahaya penolong yang gagah dan kharismatik bagi hidupnya. Terdapat penggambaran ikatan darah dan batin seorang anak dengan ibu yang tak akan pernah lerai oleh apa pun; terdapat aliran yang membawa sifat serta karakteristik seorang ibu yang mengalir pula ke dalam darah daging anaknya. Nadin gambarkan citra emosi yang kencang tentang dirinya yang menjadi saksi jatuh-bangun hidup ibunya dan peran besar sang ibu dalam lika-liku hidupnya dengan nyanyian yang mengandung melodi lembut berpigura aman. Dalam lagu ini, Nadin menjadikan ibunya inti hidup, tempat bergantung dan pulang bagi jiwanya yang tak muncul di atas panggung serta sebagai segala jawab atas kebingungan langkah sekaligus tempat berlindung dari sudut pandang yang menghakimi dari satu arah.
Pada lagu ketujuh, Nadin ber-“Taruh” kepada dirinya sendiri mengenai perjalanan cinta yang merupakan sesuatu yang baru bagi dirinya. Ia melihat cinta sebagai taruhan, akankah cintanya utuh hingga garis akhir, atau perlahan runtuh seperti bagaimana cinta kedua orang tuanya berakhir. Dalam taruhannya, Nadin mencoba untuk usai atas bayang-bayang cinta yang keruh lalu melangkah dengan membawa pelajaran atasnya. “Kupelajari sedari kecil” merupakan lirik berulang yang ikonik sebagai sebuah pemahaman Nadin bahwa cinta yang dipikul dengan bijak pada akhirnya akan melebur eksistensinya akibat goresan luka yang berselimut cinta. Walaupun banyak mata yang menghakiminya, dan ia takut berumah pada dirinya sendiri, Nadin masih menggenggam harap untuk dapat melewati segala luka yang akan menancap pada dirinya. Dalam perjalanan cintanya, Nadin—dengan latar belakang pandangan akan cinta sebagai sesuatu yang kasar, mencekat, dan pahit—mulai sadar bahwa mencintai bukan tentang siapa yang paling lama bertahan, melainkan bagaimana kita dapat menerima segala jernih dan keruhnya cinta yang diberikan.
“Cermin” merupakan lagu kedelapan dari album Selamat Ulang Tahun yang merupakan sebuah fase refleksi diri bagi Nadin yang kerap menelan pahit dan menyulam senyum. Pada lirik pembuka, Nadin menggambarkan sosoknya yang penuh luka keruh dan batin yang berantakan akibat tuntutan ego yang diikrarkan penggemar dengan telanjang saat dirinya mulai diagungkan. Lirik-lirik pada lagu ini seakan menguliti perasaan pilu atas mahirnya ia berpura-pura tenang dalam melantunkan melodi, entah sebagai beban ekspresi atau sebagai sarana ekspresi. Lemah yang tervalidasi eksistensinya dalam hidup Nadin seolah-olah dimaknai sebagai konotasi yang negatif, sehingga dalam lirik, “Kusulam senyum/Meleburkan yang pilu/Demi menjadi/Aman ‘tuk yang butuh,” Nadin mempertahankan senyum sambil bernyanyi di tengah sendunya hati demi memvalidasi segala perasaan para penikmat lagunya tanpa dibalut penilaian apa pun. “Cermin” menjadi sarana pengakuan Nadin sebagai penyanyi bahwa ia berbalut sendu yang bertopeng tawa, serta sebagai refleksi diri untuk berhenti menghapus lemah dari kamus hidupnya.
Selain “Bertaut”, “Mendarah” juga tidak kalah melambung tinggi di telinga banyak orang. Lagu ini tepat menyasar anak perempuan yang kehilangan sosok ayah dalam hidupnya. Lirik yang dihadirkan mungkin terdengar romantis, tetapi dalam konteks lagu “Mendarah” yang berkutat pada luka batin, lirik pada lagu-lagu ini dimaknai sebagai raga yang harus tetap tegak sedangkan luka di hati tak akan pernah bisa disembuhkan oleh si pemberi luka. Dalam ikhlasnya, Nadin tidak membutuhkan kata maaf, melainkan penerimaan tulus atas dirinya yang menyembunyikan eksistensi sang ayah dari hidupnya demi batin yang waras. Nadin dan sang ayah tidak lagi dapat menerima eksistensi satu sama lain baik secara fisik maupun batin; mereka tidak lagi dapat berdiri dalam ruang yang sama karena ada luka besar yang membekas pada diri masing-masing sehingga, sebagai gantinya, Nadin hanya dapat menghantarkan doa sebagai bentuk pendekatan terbaik. Penerimaan utuh Nadin perihal hubungan darah dengan sang ayah dilantunkan secara implisit dalam lirik, “Dalam diam ‘kan kubawa, mendarah.”
“Sorak Sorai” ditandai menjadi sarana pembebasan sekaligus lagu penutup bagi album Selamat Ulang Tahun. Pada lirik pembuka, Nadin memberikan gambaran besar tentang awal mula kesembuhan dan keikhlasannya tumbuh. Langit dan laut yang disebutkan dalam lirik ini ditujukan sebagai gambaran dua kubu perasaan atau ego yang berjibaku satu sama lain. Diksi “saling membantu” merupakan sebuah peluruhan dari perasaan dan ego yang telah terlukai oleh orang-orang yang hadir dalam setiap fase hidupnya. Nadin mengakui dan menerima bahwa tak semua manusia dapat mengekspresikan kasih sayangnya dengan jelas, maka ia, sebagai manusia yang tahu bagaimana sebuah kasih sayang itu dapat disuarakan, akhirnya berperan sebagai sang pembicara. Hujan pada lagu ini dimaknai sebagai sebuah perasaan ikhlas yang jatuh dengan tulus bagi dimulainya hidup baru Nadin. Ia simpulkan secara gamblang bahwa sebuah pelepasan akan keegoisan dapat menyembuhkan perasaan dan memenuhi cinta pada dirinya. Dalam lirik penutup, Nadin persembahkan kalimat penyimpul untuk menyambut umurnya yang ke-20 tahun, yakni “Mungkin akhirnya tak jadi satu/Namun bersorai pernah bertemu.”
Album Selamat Ulang Tahun menjadi sebuah hadiah ulang tahun yang berupa refleksi diri dan memori pembelajaran bagi diri seorang Nadin. Lagu-lagu dalam album ini mengandung diksi yang puitis dan bermakna ganda sebagai bentuk estetika dalam menapaki kembali kehidupan masa lalu yang seakan-akan berlubang jalannya. Nadin melalui lirik-liriknya mencongkel bekas luka yang membusuk hingga lupa perannya merupakan seorang pemberi atau penerima. Satu per satu lagu yang Nadin lahirkan dalam album Selamat Ulang Tahun berperan sebagai cermin refleksi akan rekahnya batin yang tergores serta memvalidasi perasaan-perasaan yang kusut. Penerimaan yang sabar dan ikhlas menjadi simpulan final tersusunnya lirik-lirik yang tepat menusuk hati berselimut kabut. Selamat Ulang Tahun, dengan romantisasi batinnya, Nadin lahirkan untuk menuntun jiwa-jiwa yang tidak punya gambaran pada cinta di dunia.
Penulis: Aghniya Adzra Adyaksa
Editor: Salwa Fitria
Ilustrator: Lizama Qisthi















