Calon Tunggal di Bursa Pemilihan Dekan Filsafat UGM 

Bursa bakal calon Dekan Fakultas Filsafat UGM periode 2026–2031 berakhir hanya dengan satu nama, yakni Prof. Siti Murtiningsih. Jalan menuju nama tunggal itu, bagaimanapun, tak luput dari sederet proses seleksi yang cukup alot. 

Proses bermula tatkala Panitia Seleksi—tim yang dibentuk oleh Senat Fakultas—membuka pendaftaran bakal calon dekan pada 1–14 Juli. Sayangnya, hingga hari terakhir pendaftaran, hanya ada satu nama yang muncul. Nama itu tak lain adalah Prof. Siti Murtiningsih, Dekan Fakultas Filsafat periode 2021-2026. Usut punya usut, Murtiningsih sendiri dicalonkan oleh Departemen Filsafat Barat untuk kembali maju dalam bursa pemilihan dekan periode 2026–2031.

Kendati demikian, Panitia Seleksi harus memperpanjang masa pendaftaran lantaran jumlah pendaftar bakal calon dekan hanya satu orang, sebagaimana aturan main yang tertuang dalam Peraturan Rektor UGM Nomor 7 tahun 2016. Berangkat dari ketentuan tersebut, pendaftaran kembali dibuka pada 15–21 Juli. Hingga mendekati batas akhir, belum ada nama lain yang muncul. Baru pada 21 Juli, tepat di hari terakhir perpanjangan, nama Dr. Abdul Rokhmat Sairah masuk ke dalam kotak pendaftaran. Berbeda dengan Murtiningsih yang dicalonkan oleh departemennya, Rokhmat mendaftarkan diri atas inisiatifnya sendiri. Untuk sesaat, bursa yang semula sepi itu akhirnya memiliki dua nama pendaftar. 

Peta Bursa yang Mendadak Berubah

Sehari pasca penutupan pendaftaran, Panitia Seleksi mulai melakukan verifikasi administrasi terhadap berkas kedua pendaftar. Akan tetapi, bayangan akan adanya persaingan antara dua calon tak bertahan lama. Pasalnya, nama Rokhmat Sairah gugur usai dinyatakan tidak memenuhi salah satu persyaratan, sementara Murtiningsih dinyatakan memenuhi persyaratan untuk tetap maju sebagai bakal calon dekan. 

Menjawab hal tersebut, Sekretaris Panitia Seleksi, Dr. M. Rodinal Khair atau yang akrab disapa Odi, mengungkapkan bahwa sempat terjadi perdebatan dalam rapat internal Panitia Seleksi saat memverifikasi kelengkapan berkas Dr. Abdul Rokhmat Sairah. Menurutnya, terdapat satu persyaratan dalam Peraturan Rektor UGM Nomor 7 Tahun 2016 Pasal 3 poin m yang lantas membuat Rokhmat tak dapat maju sebagai bakal calon dekan. “Yang kami permasalahkan adalah masa jabatan struktural minimal 2 tahun. Sebagian dari kami menghitung, saat Pak Rokhmat menjabat sebagai Kepala Laboratorium Filsafat Nusantara, itu hanya 1 tahun 11 bulan,” kata Odi. 

Meski demikian, Odi mengaku, saat itu perdebatan mengenai masa jabatan struktural Rokhmat tak kunjung menemukan titik terang. Pada akhirnya, Ketua Panitia Seleksi, Prof. Armaidy Armawi, memutuskan untuk menyerahkan berkas Rokhmat kepada Help Desk Pemilihan Dekan (Pildek) di tingkat universitas, yang ada di bagian Hukum dan Organisasi (Hukor). “Jadi, karena di sini deadlock, ya berkas Pak Rokhmat itu kami serahkan ke universitas, agar mereka yang mengecek,” ujar Odi. Tak hanya itu, Panitia Seleksi juga mengirim dua anggotanya, Dr. Lailiy Muthmainnah dan Dr. Ridwan Ahmad Syukri, untuk mengawal berkas Rokhmat hingga ke universitas. “Nah, mereka berdua ini juga kan anggota Pansel, mereka inilah yang kami tugaskan secara resmi untuk menyelidiki dokumen dan mengawalnya sampai ke Hukor,” lanjutnya. 

Tak lama berselang, Panitia Seleksi menerima hasil penelusuran dari Tim Hukum dan Organisasi (Hukor). Hasilnya, berkas atas nama Rokhmat Sairah dinyatakan tidak memenuhi persyaratan. “Itu sudah final, langsung dari universitas yang menyatakan demikian,” pungkas Odi. Lalu, pada tanggal 30 Juli, Panitia Seleksi langsung mengadakan rapat guna menindaklanjuti hasil investigasi Tim Hukor. “Dan pada rapat itu lah, kami memutuskan bahwa hanya ada satu calon di Fakultas Filsafat yang memenuhi syarat, yaitu Bu Murti,” tutupnya. 

Demi mengetahui seperti apa hasil penelusuran berkas Rokhmat di tingkat universitas, Pijar sempat mengajukan permohonan wawancara kepada Lailiy Muthmainnah dan Ridwan Ahmad Syukri selaku anggota Panitia Seleksi yang ditugaskan untuk mengawal berkas Rokhmat Sairah. Namun, Lailiy menolak permohonan wawancara dengan alasan bahwa penyampaian hasil penelusuran bukan merupakan kewenangannya. “Tidak bisa (wawancara) ke saya, Itu kewenangan dari Ketua Pansel. Saya sebatas melaporkannya ke Ketua Pansel saja,” ujarnya lewat pesan singkat. Sementara itu, hingga tulisan ini diterbitkan, Ridwan tak kunjung membalas permohonan wawancara yang diajukan Pijar via WhatsApp. 

Balon Meletus

Ditemui terpisah di Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, saat itu Dr. Abdul Rokhmat Sairah tengah bersantai sembari menunggu jadwal pertemuan dengan mahasiswa bimbingannya. Di sela waktu tunggu tersebut, Rokhmat menyanggupi permohonan wawancara yang diajukan Pijar, Senin (10/8) siang.

Dalam wawancara tersebut, mulanya Rokhmat bercerita tentang posisi barunya sebagai Kepala PSP UGM. Terhitung sejak Juni 2026, Ia dipercaya menggantikan Dr. Agus Wahyudi untuk memimpin pusat studi yang terletak di Jalan Podocarpus II Blok D-22 tersebut. Sebelum di PSP, Ia juga sempat menjabat sebagai Ketua Laboratorium Filsafat Nusantara (Lafinus) selama 1 tahun 11 bulan.

Kepada Pijar,Rokhmat juga bercerita tentang alasan yang membuat dirinya mantap mendaftar sebagai bakal calon dekan di penghujung masa perpanjangan pendaftaran. Awalnya, kata Rokhmat, ia tergerak mendaftar setelah mengetahui bahwa bursa pemilihan hanya diisi satu nama, yakni Prof. Siti Murtiningsih. Baginya, keberadaan calon tunggal berpotensi memunculkan berbagai tanda tanya di kalangan sivitas akademika. “Saya tidak ada ambisi maju jadi dekan. Saya hanya ingin meramaikan untuk menyeimbangkan proses,” ujarnya. 

Meski begitu, Rokhmat sadar betul bahwa posisinya tidak diunggulkan. Ia mengaku bahwa keputusannya ini sama sekali bukan untuk menandingi sang juara bertahan, dalam hal ini Dekan Fakultas Filsafat UGM sekarang, Prof. Siti Murtiningsih. “Peluang saya mungkin sangat kecil. Siapa yang tidak kenal dengan Bu Murti? Dia kan cukup punya reputasi,” jawabnya. Tak lupa, Ia juga menegaskan bahwa keputusannya di menit-menit terakhir itu murni karena ingin menjaga napas demokrasi di lingkungan kampus. “Setidaknya ada dua calon yang maju, kan? Siapa yang bakal terpilih, ya itu persoalan nanti,” katanya. 

Saat ditanya mengenai hasil verifikasi yang menggugurkan namanya, Rokhmat mengaku tak ingin ambil pusing. “Ya, balik lagi, saya hanya ingin meramaikan. Kalau saya pribadi ya, saya akan lebih bangga terpilih jadi dekan ketika bukan sebagai calon tunggal,” kata Rokhmat. Kendati demikian, ia sempat heran dengan keputusan panitia seleksi yang menyatakan dirinya terganjal syarat masa jabatan struktural minimal 2 tahun. “Saya tidak tahu bagaimana perhitungan di sana (panitia seleksi). Tapi kalau saya hitung, di Lafinus sekitar 1 tahun 11 bulan, di PSP sudah berjalan 1 bulan, seharusnya kalau ditotalin, ya pas dong?” tanyanya sembari mengernyitkan dahi.

Ketika Kursi Dekan Tak Banyak Dilirik

Ketua Senat Fakultas Filsafat, Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, tak bisa menyembunyikan wajah kebingungannya tatkala jumlah pendaftar bakal calon dekan mulanya nyaris tak lebih dari satu orang. Ia mengungkapkan, sebenarnya banyak dosen yang memenuhi syarat (eligible) di masing-masing departemen. Kendati demikian, hanya Departemen Filsafat Barat yang mencalonkan nama anggotanya untuk masuk ke bursa pemilihan, sementara sisanya nihil. “Banyak yang eligible. Tapi, apakah bisa kita paksakan? Ya, nggak lah,” jawabnya.

Etsar menilai, saat ini banyak dosen yang enggan terbebani oleh kerja-kerja administratif. Menurutnya, sepinya peminat dalam bursa pemilihan dekan merupakan fenomena umum yang perlu ditelusuri lebih jauh. “Masalahnya nggak hanya di filsafat, beberapa fakultas lain juga ada yang seperti itu. Contohnya Fakultas Kedokteran Hewan,” ungkapnya.

Senada dengan Etsar, Sekretaris Panitia Seleksi, Odi, menilai bahwa setiap dosen memiliki kesibukan masing-masing untuk mengurusi hal-hal yang tidak bersifat politis. Meski demikian, ia masih belum tahu pasti apa yang menjadi pertimbangan utama para dosen untuk tidak maju dalam pemilihan dekan. “Ada banyak kemungkinan dan spekulasi. Tapi, saya nggak tahu jelas apa pertimbangan kolektif atau individu sehingga sepi peminat,” ujarnya.

Di sisi lain, Giovanni Ramadhani, mahasiswa Filsafat angkatan 2022, melihat persoalan tersebut dari kaca mata yang berbeda. Menurutnya, sepinya bursa tidak hanya dapat dijelaskan oleh kesibukan akademik maupun keengganan dosen mengurusi birokrasi. Ia menduga terdapat faktor kultur dan relasi kuasa yang juga memengaruhi keberanian seseorang untuk mencalonkan diri. “Kultur feodalnya di sini gede, sehingga kalo ada calon kuat yang maju, nggak ada yang mau melawan. Kita justru malah menghindar,” kata Gio. 

Pandangan lain juga datang dari Dwi Hernawan, Tenaga Kependidikan Lembaga dan Kerja Sama Fakultas Filsafat UGM. Pria yang biasa dipanggil Wawan itu melihat posisi Murtiningsih sebagai petahana (incumbent) turut memberikan keuntungan tersendiri dalam bursa kali ini. Pengalaman menjabat sebagai dekan pada periode sebelumnya membuat Murtiningsih memiliki modal yang belum tentu dimiliki calon lain. “Biasanya yang incumbent sudah membangun akar kekuatan di periode dia menjabat sebelumnya,” duga Wawan. Ia menyebutkan, modal tersebut antara lain berupa jaringan pendukung, tim lobi, dan berbagai jejaring lain yang telah terbentuk selama seseorang menduduki jabatan. “Saya sudah cukup lama mengamati, jadi saya tahu kira-kira siapa saja yang berada di belakang calon sekarang,” ujarnya. 

Satu Suara

Guna menjawab fenomena sepi peminat tersebut, rasanya tak elok apabila tulisan ini hanya menyajikan dugaan dari luar tanpa mendengar alasan dari mereka yang sebenarnya memiliki kesempatan untuk mendaftar. Pijar sempat memperoleh beberapa nama dosen yang dinilai memenuhi syarat untuk maju sebagai bakal calon dekan. Dari sejumlah nama tersebut, Pijar kemudian menemui Dr. Agus Wahyudi, salah seorang dosen yang eligible untuk mengikuti bursa pencalonan.

Saat ditemui di Gedung Pascasarjana UGM, Rabu (12/8), Awe mengungkapkan alasan di balik keputusannya untuk tidak mendaftarkan diri sebagai bakal calon dekan. Kepada Pijar, Ia mengaku mendukung kepemimpinan perempuan sekaligus meyakini Murtiningsih masih mampu membawa Fakultas Filsafat jauh lebih baik. “Saya kebetulan posisinya mendukung women leadership. Dan saya percaya di tangan beliau filsafat bisa berkembang lebih baik,” kata Awe. 

Meski demikian, dukungan tersebut bukan berarti membuat Awe menutup mata terhadap kekurangan Murtiningsih selama memimpin fakultas. Ia mengakui, kepemimpinan Murtiningsih pada periode sebelumnya tentu tak luput dari kelemahan. Kendati demikian, masih terbukanya peluang bagi Murtiningsih untuk melanjutkan satu periode kepemimpinan lagi membuat Awe berpandangan bahwa hal-hal yang telah berjalan baik dapat diteruskan, sementara kekurangan yang ada masih dapat diperbaiki bersama-sama. “Cara berpikir sebagian atau mayoritas teman-teman mungkin seperti itu, ya. Makanya banyak yang tidak mendaftar, walaupun eligible,” jawabnya. 

BPMF Pijar turut mengajukan permohonan wawancara kepada Prof. Siti Murtiningsih, Dekan Fakultas Filsafat UGM periode 2021–2026 sekaligus bakal calon tunggal dalam bursa pemilihan dekan periode 2026–2031. Saat dihubungi via WhatsApp, Murtiningsih menyatakan kesediaannya untuk diwawancarai, tetapi meminta waktu untuk menyesuaikan jadwal di tengah kesibukannya. “Dengan senang hati, tapi kita sesuaikan agenda dulu ya,” balas Murtiningsih. Namun, hingga berita ini diterbitkan, belum ada kepastian lebih lanjut perihal jadwal wawancara setelah Pijar kembali menghubunginya. (*)

Penulis: Agito Yacobson Sitepu
Editor: Fradipta Azzahra
Desainer: Ariel Johan Sulistyo

Terbaru

Terkait

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini