Ketidakjelasan Dekanat dan Forkom Menyikapi Kebutuhan Ruang BKM

0
235
(bpmfpijar.com/Intan)

“Kembali pada ruang, saya kira silakan teman-teman untuk mengatur sendiri. Ngobrol dan dialog dong, katanya mahasiswa filsafat,” ujar Rr. Siti Murtiningsih, Dekan Fakultas Filsafat dalam Hearing Dekanat yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi (Forkom) Mahasiswa Filsafat UGM di Co-Working Space (CWS) pada Rabu (27/3). Agustinus sebagai delegasi internal Forkom mengatakan bahwa Hearing Dekanat ini dilaksanakan dalam rangka membahas cita-cita bersama untuk memiliki tata kelola yang baik di Fakultas Filsafat. Acara ini dihadiri oleh jajaran Dekanat, serta perwakilan dari Biro Kegiatan Mahasiswa (BKM) Fakultas Filsafat.

Dalam forum ini, Forkom dan BKM mengeskalasi beberapa isu, antara lain mengenai kebutuhan ruang, dana BKM, dan kemahasiswaan. Salah satu isu yang paling mencuat dalam forum ini ialah masalah kebutuhan ruang bagi BKM. Hal ini diutarakan oleh beberapa BKM, seperti LSF Cogito, FSB Retorika, Colosseum, Panta Rhei hingga Chrisphy. Fachriza, perwakilan dari LSF Cogito, mengatakan, “Kita menjalani keseharian secara menggelandang, sehingga dampaknya adalah kegiatan aktivitas kultural, seperti interaksi antar sesama anggota, inventarisasi buku, sampai melakukan kerja penyuntingan terhadap artikel tidak bisa berjalan secara maksimal.”

Bram, perwakilan FSB Retorika turut mempertanyakan keberadaan ruang terkait dengan kebutuhan inventarisasi barang. Menurutnya pihak dekanat belum bisa menjawab masalah kebutuhan ruang, karena kehadiran CWS dirasa tidak cukup aman untuk penyimpanan barang. Ia juga mengeluhkan banyaknya orang yang berlalu-lalang  masuk ke CWS. “Hal itu menyebabkan beberapa barang Retorika termasuk lampu, lukisan, backdrop, dan hal-hal yang biasa digunakan dalam kegiatan berkesenian, hilang dan tercecer di mana-mana saat ditaruh di CWS, maka kami cukup skeptis dengan ruangan ini,” tandasnya.

Hal serupa juga dipertanyakan oleh perwakilan Colosseum, Singgih. Menurutnya, kebutuhan ruang bagi Colosseum memang penting, karena Colosseum memiliki banyak barang untuk menunjang kegiatan yang memerlukan perawatan. “Sehingga tidak tergeletak di pojokan CWS serta tidak dititipkan di kos ketua atau kos para anggota Colosseum,” tegasnya.

Menanggapi permasalahan kebutuhan ruang tiap BKM, Murti mula-mula mempertanyakan urgensi keberadaan ruang tiap BKM. Ia menjelaskan bahwa saat ia menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan telah ada kesepakatan bersama untuk memperbaiki ruang per BKM. “Tapi sekarang ketika saya menjabat sebagai Dekan, pengertian sekretariat bersama tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati sebelumnya,” tambahnya. 

Senada dengan Murti, Hastanti Widy Nugroho selaku Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia juga berbicara mengenai peran Forkom dalam sekretariat bersama. Ia menjelaskan bahwa sejak pertama kali diresmikan, pihak dekanat menyerahkan urusan pengelolaan dan manajemen CWS sepenuhnya kepada Forkom. “Apa itu Forkom? Forum yang tidak komunikatif itu,” tanya Widy.

Lathifa sebagai Ketua Badan Advokasi Filsafat menanggapi kegiatan Hearing Dekanat tersebut. Menurutnya, dalam forum tersebut pihak dekanat tidak memberikan jawaban secara spesifik terkait pertanyaan kebutuhan BKM akan ruang. Hal ini diamini oleh Tri, Ketua Panta Rhei yang menilai tanggapan dari pihak dekanat terkait kebutuhan ruang BKM hanyalah sebuah dalih semata. “Kami rasa dekanat itu nggak mau ngasih ruang. Sebenarnya cuma mau dengar keluhan kita dan kasih alasan yang sebenarnya sudah pernah disampaikan di tahun-tahun lalu,” ungkapnya. 

Ketidakpuasan juga muncul dari Koordinator PSDM LSF Cogito, Dian. Ia menambahkan jika adanya sekretariat BKM dapat menimbulkan sense of belonging antar-awak. Ia juga menyesalkan hasil akhir dari Hearing Dekanat tersebut, “Aku sih merasa nggak puas ya sama jawaban jajaran dekanat tentang kebutuhan ruang itu. Karena pada saat diskusi kemarin antara pihak BKM dengan dekanat tidak dalam language game yang sama, sehingga yang diinginkan BKM dengan solusi yang ditawarkan dekanat tidak nyambung,” pungkasnya.

 

Penulis       : M. Teuku Thamrin, Arya Hakiim
Penyunting : Moh. Misbakhul Huda
Fotografer  : Intan Nisa’

LEAVE A REPLY