Menjadi EO Revolusi, Bukan Menjadi Abang-abangan

Oleh: Surya Iman, Mahasiswa Fakultas Filsafat

0
723
(bpmfpijar.com/tirta)

Menghabiskan waktu senggang dengan bermain domino dirasa relevan, oleh penulis, selepas penat dengan keseharian akademik dan kerja-kerja domestik. Seakan membunuh waktu, nuansa kompetitif yang dihadirkan dalam permainan domino mampu menyita konsentrasi sesaat. Bagaimana tidak? Berbagai pertimbangan dihadirkan dalam permainan domino. Mulai dari kalkulasi jumlah kartu yang keluar hingga upaya konfigurasi terhadap jalannya permainan yang merupakan fokus penting dalam permainan domino.

Namun, seakan petir di siang bolong, konsentrasi penulis terpecah begitu saja ketika seseorang menyodorkan sebuah tulisan eksentrik sekaligus progresif mengenai residu gerakan, serta solusi yang ditawarkan. Tulisan tersebut ditulis oleh Anju Gerald dengan judul “Tips and Trick Menjadi EO Revolusi yang Sukses”. Tentu saja, tulisan tersebut mengaburkan fokus permainan domino penulis. Penulis pun memilih untuk menyediakan waktu membaca dan sedikit memberikan analisis dari tulisan menarik ini.

Menurut penulis, tulisan yang cukup berapi-api dalam menggambarkan gerakan hari ini, jelas menunjukkan bahwa Anju merupakan pelaku gerakan yang cukup konsisten dan militan dalam “memperjuangkan” idealisnya. Dalam tulisannya tersebut, Anju menunjukkan keresahannya dalam tubuh gerakan. Keresahan tersebut ia gambarkan dengan tidak adanya progresivitas dalam gerakan, serta banyaknya individu (disebut sebagai oknum) yang kontra revolusioner ketika mengalami ketergantungan alkohol dan rokok. Menurut Anju, dalam tulisan tersebut, ketergantungan alkohol dan rokok juga mengaburkan tujuan dari gerakan itu sendiri.

Tentu, pernyataan tersebut cukup menciptakan atensi bagi penulis. Kendati tulisan ini cukup subjektif, penggambaran yang realistik dari Anju cukup menghibur penulis. Namun, ketika penulis mencoba melacak solusi dalam tulisan tersebut, terdapat suatu hal yang menggemparkan benak penulis. Sebab, solusi yang ditawarkan guna mengatasi kemandekan gerakan adalah sentralisasi pengorganisiran massa gerakan dengan kepemimpinan yang ideal dan pembentukan basis politik.[1] Sontak, penulis terkaget-kaget dan mengucap dalam hati, “Sungguh Marxis anak ini!”

Terlepas dari seberapa valid kedalaman Anju dalam memahami Marxis-Leninis, kepeloporan sendiri merupakan wacana yang terus digaung-gaungkan, layaknya radio soak yang dimainkan setiap pagi hanya untuk membuat bising. Ditambah, dalam tulisannya, Anju mengatakan, “sentralisasi layaknya Partai Komunis Rusia”. Sungguh, penulis semakin terheran-heran. Tapi, alangkah baiknya penulis mencoba menjelaskan mengenai kepeloporan dan probabilitas yang terjadi jika ide ini direalisasikan. Ditambah, pandangan penulis terkait pecandu alkohol dan rokok.

Kepeloporan : Elitisme politik dan Monopoli Kesadaran

Ide mengenai kepeloporan atau partai pelopor sejatinya didasarkan oleh tulisan Lenin dalam bukunya What is to be Done? (1902). Kemudian, ide tersebut diungkapkan secara eksplisit dalam pertemuan Communist International, ketika Lenin menyatakan bahwa, “Bolshevisme telah menciptakan fondasi ideologis dan taktis dari internasional ketiga.”[2] dan, “Bolshevisme dapat berfungsi sebagai model taktik untuk semua.”[3] Model partai kepeloporan sendiri adalah upaya kaum sosialis mengintegrasikan diri ke dalam prinsip-prinsip “sentralisme demokratik”.

Upaya tersebut bertujuan memperjelas arah perjuangan kelas untuk tujuan jangka panjang; revolusi dan perebutan kekuasaan. Dan, untuk jangka pendek, bertujuan menciptakan kesadaran kelas para pekerja guna menjadi sebuah partai yang efisien dan efektif. Dengan harapan semua anggota tunduk pada keputusan partai, jelas menggambarkan bahwa partai ini sangat tersentralisasi. Sebab, setiap tindakan dilaksanakan dengan satu cara. Menurut kaum leninis, ketiadaan partai pelopor sama dengan ketidakmungkinan revolusi.[4]

Secara sederhana, analogi yang paling tepat menggambarkan partai kepeloporan adalah komunitas abang-abangan[5] dalam gerakan. Pelabelan abang-abangan atau senior dalam gerakan sering kali dipahami sebagai seorang sosok yang paling mengerti tentang idealnya sebuah gerakan. Abang-abangan sering kali merasa sadar bahwa tirani adalah musuh besar, korporasi adalah momok bagi perubahan dan sarang eksploitasi, serta merasa paling tahu cara menciptakan revolusi. Ya, tentu cara yang terlalu ndakik-ndakik dan non-esensialis.

Berbekal pembacaan buku yang mungkin hanya dibaca bagian pendahuluan saja, abang-abangan ini merasa telah “sadar” tentang revolusi. Abang-abangan ini kemudian membentuk komunitas dan membius para junior dengan dalih pendisiplinan. Inilah bentuk kepeloporan! Kepeloporan selalu menempatkan diri sebagai partai yang memiliki “kesadaran kelas” dan memahami makna revolusi. Jelas, menurut penulis, ini adalah sebuah kemunduran dalam gerakan itu sendiri.

Pengandaian bahwa partai pelopor adalah penggerak revolusi telah menunjukkan diri secara eksplisit sebagai elite politik, yang secara implisit mengeksklusi kelompok sosialis lainnya. Partai kepeloporan dengan pengaruh elitisme-nya telah memonopoli kesadaran sosialis dengan memposisikan diri sebagai inisiator revolusi. Jika kembali dianalogi ke dalam abang-abangan, maka mereka sendirilah yang mengamini dirinya sebagai perumus strategi gerakan dan memaksakan strategi tersebut kepada juniornya. Kemudian, ketika juniornya menolak langsung saja dianggap sebagai pengkhianat revolusi dan kemungkinan besar dikucilkan dalam gerakan.

Hal ini juga tercatat secara historis ketika Stalin menginisiasi Great Purge (1936-1938) guna melawan musuh-musuh politiknya. Kala itu, Stalin mengkonsolidasikan kekuatan dengan cara penangkapan, eksekusi, hingga pembuangan. Ia melontarkan tuduhan pengkhianatan kepada kelompok “oposisi kanan” yang dipimpin oleh Nikolai Bukharin, Grigory Zinoviev, dan Lev Kamenev.[6] Itulah respons Stalin atas potensi penggulingan dirinya dan ketakutan terhadap potensi infiltrasi di tubuh partai.

Meskipun terbagi dalam beberapa periode pembersihan, terdapat satu benang merah dari respons Stalin, yakni pembersihan terhadap elite politik yang dinilai berseberangan dengannya.[7] Dari sini terlihat dengan jelas bahwa kelompok yang berbeda pandangan dituntut, secara implisit, melebur kedalam kesatuan gerakan dan tidak memiliki pilihan lain. Hal ini seakan mengisyaratkan partai pelopor sebagai partai otoriter yang membenarkan kediktatoran.

Selain itu, monopoli kesadaran dan elitisme partai sejatinya dapat dilihat sebagai replikasi pengorganisasian kapitalisme: menempatkan proletar di bawah pemilik alat produksi. Tentu ini sebuah ironi! Lantas, tawaran apa yang dimungkinkan jika kepeloporan bukanlah solusi? Mungkin, sebagai tawaran dari penulis, Marxisme Otonomis layak dicoba.

Marxisme Otonomis : Perlawanan terhadap Kerja dan Pembentukan Realisme Alternatif

Marxisme Otonomis sendiri merupakan tradisi spesifik yang dapat identifikasi dalam tradisi marxisme yang lebih luas.[8] Konsep ini mendapatkan maknanya lewat beragam gerakan dan aktivitas politik yang menekankan pada kekuatan otonom pekerja terhadap kapital dan otonomi dari organisasi formal sosialis (seperti serikat buruh dan partai politik). Otonomi di sini merujuk pada kemampuan mendefinisikan kepentingan-kepentingan pekerja itu sendiri yang kemudian diperjuangkan.[9]

Secara historis, gerakan otonomis berkembang di Italia Utara melalui front populer yang di dalamnya berbagai kelompok pekerja–baik pelajar, mahasiswa, maupun ibu rumah tangga–yang merespons kapital manufaktur dengan prinsip Post-Fordism.[10] Tuntunan yang diajukan oleh gerakan otonomis ini berupa: pengurangan jam kerja, kenaikan upah, dan konsep “produktivitas” (penambahan efisiensi kerja).[11] Namun, perlu dipahami bahwa gerakan otonomis terbentuk atas serangkaian kelompok yang memiliki latar belakang dan kepentingan berbeda.

Tentu, dalam model gerakan populer seperti otonomis ini, diperlukan sebuah wacana katalis yang efektif. Mario Tronti, salah seorang teoritisi otonomis, berpendapat bahwa bagi buruh, kerja sendiri merupakan suatu kontrol sosial.[12] Sebab, di bawah relasi kerja, kapitalisme telah mensubordinasi seluruh kehidupan manusia. Dan, karenanya, manusia telah dibatasi jalur-jalur eksplorasi aktualisasi dirinya. Secara sederhana, baik mahasiswa, buruh, bahkan ibu rumah tangga, selalu tersubordinasi dengan mengikuti jam kerja kapital.

Mahasiswa dibiasakan untuk bangun pagi dan berangkat kuliah. Buruh dibiasakan menghabiskan waktu 8-9 jam untuk bekerja. Ibu rumah tangga yang diwajibkan menanggung beban ganda kerja-kerja domestik. Ditambah, harus menenangkan sang suami yang menginginkan pembunuhan terhadap majikannya. Bahkan, hari Sabtu dan Minggu dapat diartikan sebagai pemulihan terhadap kondisi fisik dan mental bagi mereka yang telah tersubordinasi dalam kerangka kerja kapital.

Jika kita kembali pada tulisan Anju, tentu ia secara tegas mengamini subordinasi tersebut. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa jam kerja akan menuntut waktu konsolidasi yang ideal bagi semua kelompok. Namun, jika mengeksklusi kelompok-kelompok yang tidak bisa memenuhi jam tersebut, sama saja memutus jaringan gerakan. Solusinya, menurut penulis, adalah pembagian waktu konsolidasi yang ideal bagi tiap kelompok dengan memahami kesanggupan tiap-tiap kelompok. Ketika kelompok pekerja menyanggupi waktu yang relatif sore, maka bagi orang-orang yang tidak dapat hadir dikelompokkan saja.

Selain itu, bagi penulis, pecandu alkohol dan rokok merupakan sebuah fenomena yang tidak dapat dipahami sebatas narasi kontra revolusioner. Antonio Negri, seorang teoritisi otonomis, menyebutkan istilah Swa-Valorasi[13] (Self Valorization). Istilah tersebut dimaknasi sebagai pengembangan diri kelas pekerja; sebuah bentuk realisasi diri. Dengan meminjam bentuk pengembangan diri tersebut, pecandu alkohol mungkin saja merupakan refleksi atas penderitaannya di bawah tekanan jam kerja kapital. Tentu, yang patut digaris bawahi adalah, “Apakah ia menjadi produktif dalam kondisinya sebagai pecandu?”

Penutup

Diakhir paragraf ini, penulis menyimpulkan bahwa tulisan Anju sebenarnya menunjukkan upaya romantisasi tentang gerakan yang (menurutnya) bersifat efisien, disiplin, dan terorganisir. Meskipun, secara historis, kepeloporan sendiri telah membentuk model pengorganisasian massa yang otoriter dan memonopoli demarkasi antara yang-sosialis dan yang-borjuis. Selayaknya, abang-abangan yang selalu merasa serba tahu.

Selain itu, perlu digaris bawahi bahwa logika manajemen waktu adalah replikasi dari kerangka kerja yang telah tersubordinasi oleh kepentingan kaum kapitalis. Maka, tidak ada salahnya mencari common ground dalam berbagai kepentingan kelompok melalui model kreasi gerakan. Hal ini ditujukan agar gerakan sendiri menjadi bentuk yang memanusiakan manusia. Selayaknya logika sosialis itu sendiri adalah logika memanusiakan, bukan memekaniskan. Oleh karena itu, EO[14] revolusi seharusnya menggali berbagai potensi dari berbagai komunitas dan bukan menjadi abang-abangan!

Referensi

  1. Para kaum leninis menyebutnya sebagai vanguardism atau “kepeloporan”. Lih. V. Lenin (1902), “What is to be Done?”, dalam Lenin’s Collected Works (Moscow: Foreign Languages Publishing House, 1961), Vol. 5, hal. 347-530.
  2. Lih. V. Lenin (1918-1919), dalam Lenin’s Collected Works (Moscow: Foreign Languages Publishing House), Vol. 28, hal. 292-293.
  3. Ibid.
  4. Lih. V. Lenin (1902), “What is to be Done?”, dalam Lenin’s Collected Works (Moscow: Foreign Languages Publishing House, 1961), Vol. 5, hal. 51.
  5. Abang-abangan dipandang sebagai penguasa yang menerapkan model “authoritharian leader”. Lih. J. Malik (2013), KEKUASAAN DAN KEPEMIMPINAN SEBAGAI PROSES SOSIAL DALAM MASYARAKAT. Society, Vol 1, hal. 64-74. https://doi.org/10.33019/society.v1i1.43
  6. Persidangan mereka dikenal sebagai “Unite Zinoniev-Kamenev Center”. Lih. Geoffrey Roberts (2022), Stalin’s Terror?. Modern History Review, hal. 30-33. https://geoffreyroberts.net/wp-content/uploads/2022/08/Stalins-Terror.pdf
  7. Ibid.
  8. Lih. Rikki Rikardo, Marxisme Otonomis: Makhluk Apalagi Itu? (Rioter Academy, 2019).
  9. Ibid.
  10. Post-Fordism adalah metode produksi yang memiliki karakteristik produksi yang fleksibel, individualisasi hubungan tenaga kerja, dan fragmentasi pasar menjadi segmen-segmen yang berbeda. Lih. Bob Jessop, Fordism and Post-Fordism: A critical reformulation (Routledge, 1992), hal. 46-69.
  11. Lih. Rikki Rikardo, Marxisme Otonomis: Makhluk Apalagi Itu? (Rioter Academy, 2019), hal. 5.
  12. Ibid. hal. 9.
  13. Lih. Rikki Rikardo, Marxisme Otonomis: Makhluk Apalagi Itu? (Rioter Academy, 2019), hal. 17.
  14. Istilah yang digunakan oleh Anju Gerald dalam menggambarkan sebuah kepeloporan atau ‘penyelenggara revolusi’. Lih. https://bpmfpijar.com/tips-and-trick-menjadi-eo-revolusi-yang-sukses/

LEAVE A REPLY