Pers Bersatu Melawan Antagonisasi Kekuasaan

0
46
(bpmfpijar.com/Ariel)
(bpmfpijar.com/Ariel)

“Londo-londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis, apa itu? pengamat, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?” kata Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Puncak Harlah (Hari Lahir) ke-28 PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), Jakarta (23/7).

 

Sebagai bentuk respons pernyataan Presiden Prabowo Subianto, Koalisi Pers Mahasiswa Se-DIY (KPM DIY) yang disertai oleh Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta (AJI YK) pada hari Minggu (26/7) sore melaksanakan aksi simbolik dan pernyataan sikap di Boulevard UGM. Aksi dimulai sekitar pukul 16.00 WIB, aksi dimulai oleh perwakilan dari Koalisi Persma Se-DIY selaku koordinator lapangan yang memulai rangkaian kegiatan.

Orasi dimulai dengan penyelarasan pandang massa aksi yang didominasi awak-awak Pers Mahasiswa. “Kita hari ini berkumpul untuk mengecam pernyataan yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto,” jelas Jogi, selaku perwakilan KPM DIY. Dalam keterangannya, aksi ini merespon stigmatisasi jurnalis sebagai sebagai londo ireng. “Padahal siapa yang sesungguhnya memiliki hubungan darah dengan londo ireng,” tegas Jogi.

 

Barangkali tidak ada cermin sama sekali di Istana Kepresidenan yang kini didiami Prabowo; kalaupun ada, mungkin hanya terdapat cermin satu arah yang suka melihat kesalahan dan menuduh keluar, tanpa pernah, maupun dapat melihat kembali ke dirinya sendiri,” ujar Jogi terlebih lanjut.

 

Aksi dilanjutkan dengan orasi dari Afkar, anggota Divisi Advokasi AJI YK. Ia mengingatkan pernyataan presiden Prabowo adalah mencerminkan watak dari seorang presiden. “Selip lidah ini sesungguhnya mencerminkan watak sesungguhnya dari Presiden Prabowo Subianto, yaitu sikap bebal dan tidak suka mendengar kritik,” ujar Afkar. Ia turut menyatakan bahwa sikap anti-kritik pemerintah yang memandang pers sebagai musuh negara adalah bentuk penindasan demokrasi.

 

“Dan perlu kita ingat kembali, jangan termakan oleh isu-isu remeh yang bertujuan untuk memukul kita ke samping. Tentang hal-hal yang kita anggap sebagai sesat, salah, entah kelompok dengan perbedaan agama, orientasi gender, ras atau etnis. Anda semua tidak berhak untuk mengambil hak hidup bermartabat seseorang. Jangan turut berperilaku selayaknya maupun termakan sikap rezim militerisme Prabowo,” tegas Afkar.

 

Usai orasi dari perwakilan-perwakilan Pers Mahasiswa dan AJI YK, aksi turut diramaikan dengan pementasan pembacaan puisi yang dipersembahkan oleh salah satu anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Himmah.

 Beriringan dengan itu, Afkar, menilai pernyataan Prabowo sebagai  presiden adalah bentuk sikap anti-kritik. Afkar menegaskan pernyataan presiden ini secara terang-terangan menyatakan perlawanan dan tuduhan tak berdasar terhadap pers. “Dengan seolah-olah menganggap remeh suara jurnalisme, jelas adalah suatu tendensi kediktatoran. Maka dari itu, kami hendak mengingatkan kembali Presiden Prabowo Subianto yang telah lupa, bahwasanya tugas dan peran pers adalah sebagai pengingat (watch dog), bukan musuh,” terang Afkar.

Lebih lanjut, Afkar menyatakan presiden Prabowo kerap menyatakan ujaran yang dinilai mengandung tendensi sedang mencari kambing hitam. Dalam hal ini, Ia memberi contoh ujaran Londo ireng dan antek-antek aseng. ”Terma tersebut digunakan untuk merujuk kepada pihak akademisi, LSM, pers, seolah-olah mereka adalah lembaga asing atau pengkhianat yang lebih memilih berkoalisi dengan pihak asing,” Jelas Afkar. Menurutnya penggunaan terma seperti ini merupakan repetisi yang dapat ditemui dalam narasi pemerintahan-pemerintahan fasis dalam sejarah dunia.

“Maka dari itu, pihak AJI, terutama AJI Yogyakarta pada hari ini, memutuskan untuk membuka suara bersama dengan adik-adik Koalisi Pers Mahasiswa Se-DIY, terutama juga untuk membersamai bentuk solidaritas jurnalis yang diupayakan kawan-kawan Pers Mahasiswa,” tegas Afkar, Ia menambahkan, aksi ini didukung setelah terdapat sejumlah tindakan opresi, terror, maupun sensor yang menimpa beberapa awak Pers Mahasiswa usai pekerjaan liputan mereka.

Aksi dilanjutkan dengan pementasan pertunjukan teatrikal. Di tengah-tengah ruang terbuka yang menyerupai amphitheater tersebut, dapat terlihat sosok Presiden Prabowo Subianto—seorang aktor yang mengenakan topeng wajah Prabowo—yang sedang menindas sosok jurnalis, dengan melakbannya mulutnya, dan mengikatnya di kursi. Dan pertunjukan berjalan dengan adegan Prabowo yang mengejar-ngejar jurnalis tersebut untuk ditangkap dan lanjut disiksa. Kisah teatrikal tersebut diakhiri dengan sosok jurnalis yang menggunakan senjata mutakhirnya, yaitu cermin, sebagai bentuk peringatan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk segera sadar, bercermin, dan berbenah diri.

Seusai pertunjukan teatrikal, Koalisi Persma Se-DIY dan AJI YK membacakan lima tuntutan dan pernyataan sikap yang berisi:

  1. Mengecam pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengasosiasikan wartawan, jurnalis, pengamat, dan organisasi masyarakat sipil dengan istilah “londo ireng” karena berpotensi mendelegitimasi profesi jurnalistik dan mengancam kebebasan pers.
  2. Mendesak Presiden Prabowo Subianto menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf kepada komunitas pers akan pernyataan yang dapat ditafsirkan sebagai bentuk stigmatisasi terhadap kerja jurnalistik.
  3. Mendesak pemerintah menjamin perlindungan terhadap jurnalis serta menghormati kemerdekaan pers sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.
  4. Mendesak pemerintah mencabut kebijakan dan regulasi yang membuka ruang penyensoran terhadap informasi publik, termasuk mengevaluasi implementasi PP Nomor 71 tahun 2019 dalam mencabut Keputusan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 127 Tahun 2026 yang menjadi dasar pemblokiran media.
  5. Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kemerdekaan pers sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi dan hak publik atas informasi.

 

 

Penulis: Noah Tan Yoong Ern
Fotografer: Ariel Johan Sulistyo
Editor:  Jati Nurbayan Shidiq

LEAVE A REPLY