
Sejumlah masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Tali Jiwa Penolak Tambang Semen Pracimantoro menyambangi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Jumat (24/7) siang.
Adapun kedatangan mereka bertujuan untuk menggelar audiensi sekaligus meminta pertanggungjawaban publik atas keterlibatan dua dosen Fakultas Geografi UGM dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) proyek penambangan batu gamping dan pembangunan pabrik semen di kawasan karst Gunung Sewu.
Kedua dosen tersebut adalah Dr. Tjahyo Nugroho Adji, S.Si., M.Sc. Tech. dan Dr. Tommy Andryan Tivianton, S.Si., M.Sc.
Dalam audiensi yang bertema “Kawal Isu Penolakan Pendirian Pabrik Semen di Kawasan Pracimantoro", masyarakat mempertanyakan sikap dan keberpihakan akademisi UGM. Mereka menilai, alih-alih menjalankan peran sebagai penyambung aspirasi masyarakat, keterlibatan akademisi dalam penyusunan dokumen AMDAL justru menjadi bentuk legitimasi terhadap industri ekstraktif yang mengancam ruang hidup masyarakat dan kelestarian kawasan karst Gunung Sewu.
"Kepada siapa lagi kami harus mengadu di saat para orang pintar dan akademisi yang seharusnya membela kepentingan masyarakat kecil justru berpihak kepada perusahaan?," tanya Perment, salah seorang warga Pracimantoro.
Berdasarkan pantauan PIJAR, usai audiensi berakhir pada pukul 17.10 WIB, warga Pracimantoro berkumpul untuk menggelar konferensi pers. Sejumlah warga tampak mengenakan kaus bertuliskan "Tolak Pabrik Semen" sebagai simbol penolakan terhadap rencana pembangunan pabrik semen di Pracimantoro.
Di saat yang sama, warga juga membentangkan berbagai poster berisi kritik. Salah satu posternya bertuliskan "UGM Kampus Kerakyatan?", yang merupakan bentuk kritik terhadap keberpihakan sejumlah sivitas akademika yang tidak mencerminkan jati diri UGM sebagai kampus kerakyatan.
Akademisi bersama rakyat, bukan sengsarakan rakyat!
Pracimantoro, menang!!
Teks: Agito Sitepu
Fotografer: Agito/Vito
Artistik: Najwa Nazailla Al-adzanie






















