Gema Panci Melawan Rezim, Secarik Resah Rakyat Kecil di Bundaran UGM

0
41
(bpmfpijar.com/Randi)
(bpmfpijar.com/Randi)

Para ibu rumah tangga serta berbagai elemen masyarakat sipil menghadiri Aksi Damai dan Diskusi Publik bertajuk “Liburan Tetap Melawan” yang berlangsung di Bundaran UGM, Jumat (3/7) sore. Aksi yang diinisiasi oleh Suara Ibu Yogyakarta tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai persoalan negara, mulai dari tekanan ekonomi nasional, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dinilai buang-buang anggaran, korupsi, hingga kriminalisasi terhadap aktivis. Adapun aksi yang dimulai pada pukul 15.30 WIB tersebut diisi dengan berbagai kegiatan, seperti orasi, mengangkat poster sekaligus membunyikan panci sebagai simbol protes, membagikan sembako ke pengguna jalan, karaoke, hingga doa bersama. 

 

Keresahan dan Kekecewaan Rakyat 

Berdasar pantauan awak PIJAR di lapangan, tampak massa aksi mengangkat poster “Rakyat Kerja, Elit Pesta”, sebagai simbol kekecewaan atas kondisi saat ini. Poster-poster kritik yang dihadapkan ke arah jalan tersebut mendapat respons positif dari sejumlah pengguna jalan yang melintas dan membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan.


Dalam aksi tersebut, Wuri selaku perwakilan Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif (Wakanda) Yogyakarta turut menyuarakan dampak kebijakan pemangkasan komisi oleh perusahaan aplikator terhadap pendapatan ojek mitra. Dalam orasinya, Wuri menyuarakan dilema para pengemudi, antara memilih mengantri lama untuk bensin subsidi namun terlambat mengejar estimasi waktu pemesanan, atau membeli bensin non-subsidi namun pendapatan habis terkuras. “Rezim selalu menutup mata saat rakyat beraspirasi. Bila rakyat tak didengar, maka ini negara apa?,” pungkas Wuri. 

 

Selaras dengan Wuri, Dwi selaku perwakilan kelompok Ibu Rumah Tangga menyoroti pentingnya solidaritas ekonomi mandiri dan keberpihakan kepada pedagang tradisional serta UMKM. “Kita berusaha sebisa mungkin untuk menolak pemerintah dengan tidak berbelanja banyak di supermarket atau industri besar. Kita berbelanja di tetangga sekeliling dan pasar,” ujar Dwi. Suara Dwi merupakan bentuk protes dan langkah nyata membebaskan diri dari ketergantungan akan industri yang dimotori pemerintah.

 

Suara Para Aktivis 

Suasana aksi berjalan khidmat saat Romlah, ibunda dari Purnomo Yogi Antoro, angkat bicara. Yogi bersama Enrille adalah Tahanan Politik (Tapol) Magelang yang sempat divonis dan telah selesai menjalani hukuman 5 bulan penjara akibat aksi protes pada Agustus 2025 lalu. Dalam orasinya, Romlah menyayangkan putusan Pengadilan Tinggi yang tetap menyatakan anak-anak mereka bersalah. “Padahal anak-anak kami hanya mengekspresikan kekecewaan mereka terhadap kebijaksanaan pemerintah yang kurang memihak pada rakyat,” ujar Romlah. Ia menegaskan bahwa anaknya adalah aktivis yang berjuang demi keadilan rakyat kecil. “Agar negara ini menjadi negara yang adil, makmur, bermartabat di mata dunia. Bukan hanya sekedar jadi pejabat yang pamer kekayaan dan gaya hidup namun tidak memikirkan kami, rakyat kecil.” 

 

Selepas penyampaian sang ibu, Purnomo Yogi Antoro maju ke depan dan naik ke mimbar bebas untuk menegaskan esensi dari gerakan hukum yang mereka tempuh. Menurut Yogi, kriminalisasi terhadap tiga mahasiswa di Magelang hanya karena menyebarkan poster ajakan konsolidasi merupakan ancaman nyata bagi kebebasan berpendapat masyarakat sipil secara luas. “Hari ini kawan-kawan masih ada dalam petualangan dalam kasasi untuk kemerdekaan kita. Ini bukan hanya tentang kami bertiga, tidak. Ini tentang kita semua, tentang bagaimana kita bisa bersuara terus menerus sampai tahun-tahun kedepan,” pungkas Yogi.


Menyambung hal tersebut, Enrille angkat suara untuk membakar semangat massa. Ia membeberkan alasan mendasar mengapa pihaknya tetap melayangkan kasasi ke Mahkamah Agung meskipun masa hukuman fisik di penjara telah selesai mereka jalani. “Kami sudah divonis lima bulan penjara dan sudah menjalaninya. Apa gunanya banding dan kasasi buat kami? Kenapa kami masih berjuang untuk kasasi, melawan hakim-hakim MA besok? Karena kami gak ingin ada pemuda-pemuda lain, anak-anak dari jenengan yang lain-lain, di kemudian hari harus mengalami nasib yang sama dengan yang kami alami. Tidak boleh ada lagi anak muda di Indonesia, yang menyuarakan kebenaran, tapi justru diganjar penjara,” tegas Enrille di atas mimbar bebas, seraya disambut riuh gema pukulan panci dari massa aksi.

 

Solidaritas Rakyat

Sederet program unggulan pemerintah dinilai boros anggaran dan minim akuntabilitas, sehingga menjadi sasaran kritik massa. Kekecewaan massa turut diekspresikan dengan “Nyanyian Kecemasan” serta teriakan yel-yel penolakan kebijakan MBG dan KDMP yang dinilai memakan korban jiwa. Massa melaporkan bahwa lima calon manajer KDMP meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) sebagai peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Aksi disela doa bersama untuk para korban militerisasi serta lima calon manajer KDMP yang gugur.

 

Kepedulian Nyata dan Poin Tuntutan

Sebagai bentuk kepedulian nyata, aksi tak hanya menuntut, tapi juga memberi. Massa membagikan hasil tani dan makanan gratis kepada para pengguna jalan yang melintas.

Mendekati penghujung acara, poster-poster keresahan rakyat dirangkum dan dibacakan. Aksi ditutup dengan bernyanyi sembari memukul panci bersama sebagai demonstrasi simbolik, diikuti pembacaan poin-poin tuntutan secara tegas sebagai perlawanan akan ketidakadilan yang menuntut pemerintah untuk “berbenah” dalam berbagai aspek dan program kerja, diantaranya APBN, MBG, SPPI, KDMP, serta Pembebasan Tapol. Sebagai penutup, kembali ditegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kolektif masyarakat yang damai, tertib, dan substantif untuk memperkuat posisi tawar rakyat.

 

 

Penulis: Vito Indrawan, Karin Filiciana
Illustrator: Randi Noor Pamungkas
Editor: Agito Sitepu

LEAVE A REPLY