Perempuan,
sebuah sematan gelar “pilar langit”,
pemberian dari Sang Maha Kuasa.
Perempuan,
seuntai benang merah baginya untuk mengurai kusutnya bumi,
sebuah anugerah baginya untuk menjadi “madrasah pertama”.
Selamat hari perempuan! Mari kita rayakan ajang formalitas ini setidaknya satu tahun sekali untuk memperingati jasa sang “pilar langit”.
Katakanlah ia sebagai “pilar langit”, tapi mengapa?
Cintanya begitu luas sampai rela menjadikan sayap tak kasat mata mengubahnya bagai pilar yang terluka, dan bentuk cintanya merupakan salah satu pemberontakan halus yang sangat menyiksa.
Oh hei, “pilar langit” memang bukan hanya gelar untuk perempuan saja, kawan! Ya setidaknya untuk menghargai ibumu yang berperan ganda dadakan dalam keluarga kecilmu itu dan berharap mendapatkan “perempuan hebat” yang sama untuk anak-anakmu.
Jaga saja “perempuan hebat” ini untuk tidak keluar dari sangkar belenggu,
setidaknya sampai kau tidak memalingkan wajahmu saat mendengar suara lantangnya itu.
Ya, jagalah ia seperti berlian.
Ya, agungkan pengorbanannya.
Ya, lakukan sampai setidaknya hari ini habis dan ia kembali menatap dunia dengan “sopan” seperti dunia mendudukannya.
Penulis: Lunaria Maheswari
Ilustrator: Ariel Johan Sulistyo















