Kecam Teror terhadap Aktivis, Suara Ibu Indonesia Layangkan Tuntutan

0
148
(bpmfpijar.com/Ganes)

Sekelompok ibu yang tergabung dalam Suara Ibu Indonesia menggelar aksi solidaritas bertajuk “Kami Bersama Andrie Yunus” di Bundaran UGM, Sabtu (14/3) sore. Aksi ini merupakan bentuk dukungan sekaligus doa bagi pemulihan Wakil Koordinator Bidang Eksternal KontraS, Andrie Yunus, yang menjadi korban teror penyiraman air keras oleh orang tak dikenal (OTK) pada Kamis (12/3) malam di Jalan Salemba I, Jakarta Pusat. Tidak hanya diikuti oleh para ibu, aksi solidaritas tersebut juga dihadiri oleh aktivis, sivitas akademika, serta awak media.

(bpmfpijar.com/Ngurah)

Di awal, Cila, salah satu perwakilan dari Social Movement Institute (SMI), menyampaikan bahwa tindakan teror terhadap masyarakat sipil bertentangan dengan nilai-nilai perawatan yang selama ini ditanamkan oleh orang tua, khususnya ibu. “Ibu mengajari anak batas tegas antara benar dan salah, tapi represifitas justru menghancurkan itu. Ibu mengajari anak tentang keadilan, tetapi represifitas menunjukkan sebaliknya,” kata Cila. Dalam orasinya, Cila juga menambahkan bahwa ketika seorang anak terluka atau mengalami ketidakadilan, seorang ibu turut merasakan sakit yang sama.

Senada dengan Cila, anggota Suara Ibu Indonesia, Sari, menegaskan bahwa aksi solidaritas ini berangkat dari kegelisahan masyarakat sipil atas kondisi negara yang dinilai tidak sedang baik-baik saja. Tak lupa, ia juga menyinggung teror yang menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus, sebagai titik yang mendorong para ibu untuk tidak lagi diam. Menurutnya, sebagai warga negara sekaligus ibu yang memikirkan masa depan anak-anak, Sari merasa perlu hadir dan ikut menunjukkan solidaritas. “Masyarakat sipil, termasuk ibu-ibu, harus peduli akan nasib bangsa ke depan. Sekarang, kita sudah tidak bisa diam,” ujar Nurul saat diwawancarai PIJAR, Sabtu (14/3). 

(bpmfpijar.com/Ngurah)

Lebih lanjut, Sari berharap bahwa kasus teror terhadap Andrie Yunus dapat diusut tuntas, baik dari sisi pelaku utama maupun motifnya. Ia juga mengingatkan agar peristiwa serupa tidak terulang karena dapat menjadi ancaman serius bagi kebebasan berpendapat dan kondisi demokrasi di Indonesia. “Ini ancaman  bagi kebebasan berpendapat dan gerakan pro-demokrasi di Indonesia. Kalau kita mau jadi negara demokratis, setiap warga berhak menyatakan pendapatnya, hak politik,” sambungnya. Di akhir wawancara, Sari menyebut bahwa kebebasan berpendapat dan hak politik merupakan unsur penting dalam negara demokrasi yang harus dijaga bersama.  

Usai orasi, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pendeta Risang Anggoro Elliarso. Dalam kesempatan itu, Risang mendoakan kesembuhan Andrie Yunus serta memohon agar ia diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi peristiwa teror tersebut. Selain itu, Risang juga mengajak seluruh peserta aksi untuk mengawal ditegakkannya keadilan serta diungkapnya pelaku dan motif di balik peristiwa yang menimpa Andrie. “Teguhkanlah hati kami untuk tetap berdiri di jalan keadilan, membela yang lemah, dan berani untuk menyampaikan kebenaran,” harapnya. 

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembacaan sejumlah tuntutan oleh perwakilan Suara Ibu Indonesia. Dalam pernyataan tersebut, para peserta aksi mendesak Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk segera mengungkap pelaku teror terhadap Andrie Yunus dalam waktu selambat-lambatnya tujuh hari. Selain itu,  mereka juga menuntut Polri membuka secara transparan kepada publik terkait pelaku teror terhadap aktivis dan motif yang melatarbelakanginya. Terakhir, Suara Ibu Indonesia mendesak pemerintah agar mengelola negara secara kompatibel, bersih, dan berpihak kepada rakyat.

(bpmfpijar.com/Ngurah)

 

 

Penulis: Anak Agung Gede Ngurah, Vito Indrawan Palti
Fotografer: Anak Agung Gede Ngurah
Ilustrator: Ganes Ommar Capriandra
Editor: Zidad Arditi Paturohman

LEAVE A REPLY