Tag: Manusia

  • Menafsir Manusia dari Kera

    Menafsir Manusia dari Kera

    Pada tahun 1963 di Prancis terbit sebuah novel fiksi ilmiah karya Pierre Boulle berjudul La Planète des Singes atau Planet of The Apes. Novel ini menceritakan tentang titik balik digantikannya peran manusia sebagai penjaga dan pembangun peradaban saat ini oleh kera. Planet of The Apes dijadikan film pada tahun 1968 dengan judul bahasa Inggris yang sama, kemudian dibuat ulang filmnya yang menjadi sebuah trilogi: Rise of The Planet of The Apes (2011), Dawn of the Planet of The Apes (2014), dan War of The Planet of The Apes (2017). Baik novel maupun film, narasinya dialamatkan pada kera yang semakin cerdas dan lambat laun menjadi ancaman bagi manusia. Akan tetapi, pada sisi sebaliknya, wacana yang dibangun film ini adalah sebuah kritik dengan pesan tersirat bahwa para kera sedang mempertanyakan kemanusiaan kepada manusia itu sendiri. Dari film ini kita menyadari bahwa alam telah membuat hukumnya sendiri kepada setiap makhluk hidupnya, termasuk hewan. Terlepas dari teori Darwin tentang evolusi, wacana ini begitu kuat untuk dijadikan refleksi bagi manusia.

    Berawal dari seekor kera bernama Caesar yang dijadikan kelinci percobaan lalu dibuat sedemikian rupa agar menjadi makhluk rasional. Tentu saja, pada masa awalnya Caesar beradaptasi di lingkungannya dan berangsur menemukan dirinya memang berbeda hasil dari, yang menurut Darwin, seleksi alam. Pada akhirnya, ia menemukan jati dirinya sebagai kera, makhluk alam semesta, juga rasional. Lebih lanjut, Caesar beserta kompatriot keranya memberontak kabur akibat ulah manusia dan membangun peradaban khusus kera di hutan-hutan. Peradaban tersebut berbentuk tatanan sosial ala kera itu sendiri yang menjadikan Caesar sebagai pemimpin, memiliki beberapa kera kepercayaan yang diatur untuk pertahanan, mendidik, bahkan bekerja sama untuk membangun benteng dari serangan manusia. Salah satu kera lainnya yang sangat mengedepankan realisme bak Machiavelli juga menyatakan di antara konflik mereka berdua; kera tidak membunuh kera. Dari hal ini kita dapat menyimpulkan mengenai titik awal ilmu pengetahuan, menafsir ulang mengenai apa dan siapa yang membantu manusia membuat peradaban yang sedemikian maju dan kompleks seperti ini. Kaum relijius mengatakan bahwa pengetahuan berasal dari Tuhan turun ke nabi lalu tersebar kepada umat. Kaum lainnya mengatakan pengetahuan berasal dari intervensi ekstraterestial, terlepas itu dari alien atau UFO yang didengungkan oleh para teoris Ancient Astronaut. Peradaban manusia sebenarnya jauh melampaui perdebatan pseudosains seperti ini dan melalui trilogi Planet of The Apes inilah sebenarnya kita sebagai manusia diajak untuk mempertanyakan ulang mengenai tanggung jawab sebagai manusia.

    Bagaimana tidak? Sebab, film ini membuat kita sadar untuk semakin yakin bahwa kita adalah spesies kecil di alam semesta ini. Melalui seekor kera, film ini merepresentasikan bahwa kera lebih manusiawi dibanding manusia itu sendiri yang kehidupannya sarat akan konflik. Pengetahuan kaum kera berasal dari peradaban yang jauh lebih maju dibandingkan peradaban mereka pada awalnya; sains manusia, namun kera bisa bertindak dengan lebih baik untuk mengendarai rasionalitasnya. Kera menyelesaikan konflik sesamanya, menghindari konflik dengan manusia, membangun peradaban yang efisien untuk kehidupannya, dan pada sekuel terakhirnya, film ini menjelaskan secara implisit bahwa manusia memang bersifat dominan dan gemar akan konflik.

    Dari wacana ini keberadaan manusia seharusnya terpanggil untuk membangun peradaban yang lebih maju, namun tetap damai dan menyeimbangkan antara rasionalitas dan hukum alam yang tetap. Sebab, rasionalitas dan kehendak bebas yang digunakan manusia secara serampangan akan membenturkan peradabannya sendiri kepada kehancuran. Peradaban kita sebagai manusia disentil dengan analogi yang nyentrik, yaitu seekor kera. Meskipun film tersebut bergenre fiksi ilmiah, namun tidak ada salahnya kita membuat sebuah perandaian. Misal, dengan teknologi sains yang semakin maju yang dapat melalukan perubahan pada sendi-sendi kehidupan manusia termasuk pada ranah biologisnya, manusia lupa dan seakan melawan hukum alam secara terus menerus dan pada akhirnya rasionalitas yang dikendarai manusia mengantarkannya pada kepunahan, sebab ilmu bukan lagi untuk kehidupan manusia sendiri dan diintervensi dari berbagai kepentingan-kepentingan entah itu politik atau kelompok lain. Tidak sampai di situ, planet bumi akan digantikan oleh kera sebagai makhluk yang rasional yang secara hukum alam dipercayai dapat menjaga bumi. Seandai demikian kiranya, seandainya ilmu pengetahuan mengenai rasionalitas jatuh kepada spesies lain di bumi ini selain manusia, sudah tentu kita kehilangan peran sebagai pemimpin di muka bumi yang membimbing dan tidak lupa menebar kebajikan.

    Bagaimanapun jauh dan rumitnya pengandaian kita, realita yang dialami saat ini, sejak era peradaban manusia di Mesopotamia bahkan sampai manusia berpijak di bulan, kita memang tidak akan pernah lepas dari konflik, terjun ke dalamnya dan alih-alih mendominasi. Sifat manusia seperti inilah yang, menurut wacana film ini, sangat kacau dan perannya menjadi riskan untuk digantikan oleh seekor kera. Peradaban kita sudah seharusnya menempatkan adab, karena peradaban tanpa adab hanya menyisakan kebinasaan. Sebab, peperangan bukan lagi sebuah batu pijakan manusia untuk berevolusi pada kehidupan. Peradaban kita sudah jauh lebih tertata, hanya belum menjadi bijak saja. Lalu, apakah memang seharusnya peradaban kita yang sudah cukup hampir memanusiakan manusia ini digantikan oleh seekor kera yang lebih bijak menggunakan kehendak bebas dan rasionalitasnya?

     


    Penulis adalah peneliti di Forum for Academician of International Relations Riau (FAIR Riau).

  • Antologi Manusia; Kompleksitas Suatu Pilihan

    Antologi Manusia; Kompleksitas Suatu Pilihan

    Tulisan ini merupakan daur ulang dari hasil riset saya sewaktu SMA sebagai syarat untuk mengerjakan tugas akhir. Hasil dari riset ini saya jadikan karya instalasi interatif berjudul “Antologi Manusia” yang dipamerkan di SMA Diponegoro 1 Jakarta pada tanggal 21-22 April 2016.

    Memilih merupakan kegiatan sehari-hari. Termasuk dalamnya bentuk pilihan dari yang paling sepele hingga yang paling penting; memilih adalah kegiatan yang tidak bisa lepas dari manusia. Manusia pada umumnya sangat berhati-hati dalam menentukan pilihan agar mendapatkan yang paling menguntungkan, atau, yang paling baik dan sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Proposisi ini kemudian mengantarkan kita kepada pertanyaan seperti mengapa kita memilih? Apa yang mempengaruhi pilihan kita? Bagaimana pilihan mempengaruhi diri kita sendiri dan orang lain?

    Manusia, ketika dihadapkan dengan kebingungan dalam memilih, juga memiliki pilihan untuk tidak bingung. Menurut Sheena Lyengar dalam The Art Of Choosing, memilih adalah dorongan alamiah yang berkembang karena peran pentingnya dalam keberlangsungan manusia sebagai spesies, yang bekerja independen dan tidak berkembang dari keuntungan konkret[1]. Kemudian sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jan Glashcer dan Ralph Adolph yang secara khusus meneliti cara kerja otak di California Institute of Technology juga menunjukkan bahwa dalam proses pengambilan keputusan, manusia mengandalkan kemampuannya untuk menentukan resiko dan atau keuntungan dari suatu pilihan[2].

    Mengapa mengambil keputusan merupakan sebuah konsep yang datang secara alamiah bagi manusia? dalam buku How We Decide yang ditulis oleh Jonah Lehrer, dijelaskan bahwa proses mengambil keputusan terjadi di dalam otak, secara khusus pada bagian frontal cortex yang merupakan organ “pengatur” berlangsungnya nalar, inteligensia, dan moralitas. Korteks depan ini merupakan hasil dari evolusi yang membedakan manusia dengan binatang lainnya. Frontal cortex memungkinkan manusia untuk memikirkan emosi, menganalisis sesuatu secara logis, menghimpun pengetahuan, menggunakan bahasa dan memahami realitas serta hubungan kausalnya[3]. Homo sapiens menjadi mahluk paling emosional di antara hewan lainnya karena keberadaan orbifrontal cortex (OFC) yang merupakan bagian dari frontal cortex merupakan organ yang bertugas untuk mengatur emosi[4].

    Seorang neuroscientist terkemuka Antonio Damasio, melalui penelitiannya mengemukakan bahwa OFC berkontribusi dalam integrasi emosi mendalam, menghubungkan perasaan yang muncul dari bagian otak yang lain (seperti pangkal otak yang bertanggungjawab atas kerja tubuh fisiologis, dan juga amygdala yang mengatur emosi intens seperti rasa takut dan agresi) dengan akal sadar. Keputusan yang paling banal sekalipun menjadi tidak mungkin tanpa keterlibatan perasaan atau emosi. Otak yang tidak dapat ‘merasakan’ apa-apa tidak dapat membulatkan ‘tekad’nya untuk memutuskan apa-apa [5].

    Pentingnya emosi dalam proses pengambilan keputusan juga dijelaskan oleh Dr. Roslan Yusni, Sp.BS seorang anli neurolgi yang juga akrab disapa sebagai Ryu Hasan. Dalam wawancara pribadinya dengan saya sendiri pada 10 Maret 2014, Ryu menjelaskan bahwa otak memiliki dua model besar dalam menentukan pilihan yaitu berdasarkan emosi dan pertimbangan rasional. Keduanya merupakan mekanisme yang sadar dan digunakan secara bersamaan, hanya saja pada situasi tertentu, mekanisme yang satu akan lebih dominan dibanding dengan yang lain. Sebagai contoh adalah ketika seorang pemain bola bermain dilapangan. Dalam situasi intens dari atmosfer yang kompetitif dari suatu pertandingan, atlet sepakbola banyak melakukan pengambilan keputusan secara emosional; ketika mereka memutuskan untuk menendang langsung ke arah gawang atau mengoper kepada kawannya. Keputusan tersebut merupakan hasil dari kinerja otak emosional yang mengambil data dari intensitas berlatih. Seorang pemain bola berlatih dilapangan selama 8 jam sehari, maka dari itu otaknya akan merekam bentuk lapangan, gaya bermain teman, kecepatan lari yang dibutuhkan untuk menempuh suatu jarak dan sebagainya. Keputusan tersebut dibuat dalam waktu sepersekian detik menggunakan memori yang ada didalam otak.

    Contoh yang lebih dekat dapat dilihat dari aktivitas keseharian kita, seperti misalnya ketika berjalan dari kosan ke kampus. Dalam perjalanan tersebut, sebenarnya ada banyak pilihan emosional yang dapat  diambil.  Belokan, jalur, perempatan, banyak jalur yang merupakan sebuah pilihan namun secara emosional tidak dipilih dikarenkan intensitas kesamaan dari suatu pilihan yang dipilih secara terus menerus menghasilkan pengetahuan atas pilihan yang harus diambil dalam waktu sepersekian detik.

    Emosi memang memiliki peran penting dalam menentukan pilihan, akan tetapi emosi bukan satu-satunya hal yang mempengaruhi pilihan. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, ada juga mekanisme pertimbangan logis dalam memilih. Dalam model ini, Jumlah pilihan yang tersedia untuk diambil dan bentuk penawaran yang dihadirkan pilihan-pilihan tersebut sangat mempengaruhi penambilan keputusan manusia. Tertulis dalam buku Predictably Irrational karya Dan Ariety bahwa manusia jarang memutuskan sesuatu secara absolut, pun, manusia biasanya tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan sebelum dihadapkan dengan konteks tertentu. Manusia memiliki kecenderungan untuk fokus pada membandingkan hal-hal yang dapat dengan mudah dibandingkan dan menghindari apa yang dianggap susah untuk dibandingkan. Maka dari itu, semakin banyak pilihan yang dapat diambil, semakin banyak juga perbandingan yang harus dilakukan. Hal ini seringkali menjadi masalah dari proses pengambilan [6].

    Ryu Hasan menambahkan, bahwa kerumitan dalam proses penentuan pilihan dengan mekanisme rasional sebenarnya merupakan pencarian tentang justifikasi belaka. Hal ini dikarenakan manusia sudah memiliki ‘cetakan’ masing-masing pada otaknya; suatu kecenderungan. kecenderungan inilah yang kemudian dikatakan sebagai sebuah selera, dan selera sangat berperan besar dalam pengambilan keputusan secara rasional. Sepertimisalnya, adalah ketika seseorang dihadapkan dengan dua buah makanan asin atau manis, orang tersebut sudah memiliki selera perihal makanan mana yang lebih disukai. Orang tersebut kemudian akan mencari justifikasi atau alasan yang merasionalisasikan pilihannya, seperti misalnya dia akan memilih makanan yang manis karena adanya kompleksitas rasa yang cocok untuk dinikmati di sore hari.

    Namun dalam proses pengambilan keputusan ini, selera juga dipengaruhi dengan kinerja otak secara keseluruhan. Indera sebagai reseptor menerima banyak informasi yang akan diolah oleh otak. Sebut saja, tampilan, rasa, aroma, atau bahkan opini seseorang akan suatu hal, semua hal tersebut merupakan data yang akan dijadikan memori yang membangun  sekaligus bahan pertimbangan terhadap penciptaaan justifikasi akan selera.

    Manusia selalu punya pilihan, hanya saja manusia seringkali mengesampingkan fakta-fakta sepele seperti misalnya bahwa dengan anda membaca tulisan ini adalah suatu bentuk pilihan tersendiri. Mengingat setiap peristiwa yang berasal dari pengambilan keputusan akan direkam oleh otak sebagai memori, dan memori itu sendiri menjadi acuan otak dalam memilih, secara tidak langsung manusia, dan eksistensinya, merupakan kompilasi dari pilihan-pilihan kita selama ini. Maka dari itu dapatkah disimpulkan bahwa manusia adalah cerminan dari antologi pilihannya? (Shilfina)


     

    [1] Lyengar, Sheena. 2010. The Art of Choosing. New York: Twelve

    [2] Szalavitz, Maia. 2012. Making Choices: How Your Brain Decides. TIME. http://healthland.time.com/2012/09/04/making-choices-how-your-brain-decides/ diakses pada 18 Mei 2018

    [3] Lehrer, Jonah. 2009. How We Decide. Boston: Houghton Mifflin Hartcourt. p.17

    [4] [4]Lehrer, Jonah. 2009. How We Decide. Boston: Houghton Mifflin Hartcourt. p.24

    [5]  Lehrer, Jonah. 2009. How We Decide. Boston: Houghton Mifflin Hartcourt. p.15

    [6] Ariely, Dan. Predictably Irrational. HarperCollins e-book. p.2-8

  • Ketimpangan Relasi Manusia dan Alam

    Ketimpangan Relasi Manusia dan Alam

    Jakarta, 21 Maret 2016, sekelompok massa yang mengatas namakan dirinya FORBALI  melakukan demonstrasi yang bertujuan untuk menolak proyek reklamasi di Tanjung Benoa, Bali. Aksi itu muncul karena proyek reklamasi di Teluk Benoa dirasa akan mengganggu pendapatan warga sekitar dan merusak ekosistem yang ada, mengingat Teluk Benoa merupakan daerah konservasi tanaman mangrove di Bali.

    Aksi semacam itu juga terjadi di kota-kota besar lain seperti Yogyakarta. Para aktivis lingkungan menolak maraknya pembangunan hotel, mal dan apartemen yang menyebabkan kondisi air tanah menjadi rusak dan dan kotor. Hal itu dapat menyebabkan penyakit bagi mahluk hidup yang mengonsumsinya.

    Alam sekarang hanya dianggap oleh sebagian orang hanya merupakan sebatas objek untuk memenuhi kebutuhan mereka tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi setelahnya. Hal itulah yang menjadi dasar untuk mengeksploitasi alam seperti sekarang.

    Pada zaman Yunani Kuno, Aristoteles  berpendandangan bahwa alam, manusia dan Tuhan merupakan kesatuan yang organis (alami). Pada tahap ini belum ada pemisahan yang tegas antara berbagai kemampuan dalam diri manusia seperti kemampuan rasio, spiritual, moral dan perasaan. Pada tahap ini akal budi dan iman berperan secara simultan dan saling menunjang untuk sampai pada pemahaman manusia terhadap alam dan kehidupan di dalamnya. Manusia di sini dipahami dalam keseluruhannya yang utuh dan hadir berhadapan dengan alam semesta yang mempesona dan menakutkan, sehingga menimbulkan rasa hormat terhadap alam dan isinya.

    Pada abad ke 18, ada sebuah adagium yang terkenal yang diucapkan oleh  Bapak Modernisme, Descartes, yaitu “Cogito Ergo Sum”. Hal itu membuat manusia merayakan kemampuan rasionya dengan cara melepaskan diri dari kungkungan mitos dan otoritas yang dibuat oleh penguasa dan agama. Manusia sadar bahwa dirinya bebas. Bersamaan dengan semangat pembebasan tersebut, profiliasi pun terjadi. Ideologi, struktur sosial dan ilmu pengetauan berkembang dengan sangat pesat. Manusia modern seakan-akan beranggapan bahwa mereka berhak berkuasa terhadap alam.

    Atas dasar tersebut manusia modern seakan-akan menganggap diri mereka adalah spesies tertinggi di alam. Hal itu terbukti pada Abad Pertengahan, manusia merasa berhak menguasai alam atas validasi yang diberikan oleh kitab suci. Pada Abad Pencerahan, rasiolah yang menjadikan dasar mereka untuk berkuasa terhadap alam.

    Revolusi industri dengan eksporasi terhadap teknologi yang sangat pesat, seperti mesin uap ciptaan James Watt dan perkembangan industri besi dan alat tekstil, memberikan implikasi secara tidak langsung terhadap pola hidup manusia. Produksi pun sekarang berganti secara massal. Teknologi sekarang diinterpretasikan oleh manusia sebagai wujud keunggulannya terhadap alam. Hal itu menyebabkan sumber daya alam diambil seenaknya tanpa mempertimbangkan aspek apapun termasuk keseimbangan alam.

    Bertolak dari paradigma harmoni Aldo Leopold, berkembang berbagai gerakan untuk mengedepankan alam. Melalui teori etika tanah, Leopold berkontribusi mengkritisi pola hidup masyarakat modern yang cenderung tidak memperdulikan aspek alam.

    Leopold mengkritik pandangan awam tentang pengertian konservasi. Konservasi menurutnya selama ini diperuntukkan bagi kebaikan manusia dan dipandang hanya relevan jika melibatkan kepentingan manusia. Menurunya, konservasi hanya dilandasi oleh pertimbangan ekonomi. Lalu apakah perlindungan terhadap alam hanya diukur dari apa yang didapat oleh manusia? Jika alasannya seperti itu, perusakan terhadap alam akan tetap terjadi. Lalu bagaimana dengan tumbuhan dan hewan yang tidak memiliki nilai jual?

    Dengan ilustrasi piramida tanah, Leopold menjawab pertanyaan itu dengan menjelaskan bagaimana lapisan dari komunitas biotik dapat saling mempegaruhi satu sama lain.

    Tumbuhan menyerap energi dari matahari. Daya itu mengalir lewat seperangkat sirkuit, yakni biota. Perantara itu digambarkan dengan piramida yang terdiri atas sejumlah lapisan. Bagian terbawah ditempati tanah. Lapisan selanjutnya, sebut saja serangga bersandar pada kehadiran tanaman. Selanjutnya, burung dan hewan pengerat lapisan di atasnya bergantung pada serangga. Ditambah, hewan tingkat tinggi hingga mencapai lapisan puncak didominasi karnnivora berukuran besar.”

    Di sini Leopold nenekankan adanya relasi antara hewan dan tumbuhan dalam satu komunitas biotik. Perubahan yang dilakukan manusia berdampak terhadap kelangsungan komunitas tersebut. Jika konservasi masih diartikan sebagai sebuah sistem yang diperuntukkan bagi kebaikan manusia dan dipandang hanya relevan jika melibatkan kepentingan manusia, maka akan berdampak langsung terhadap kelangsungan komunitas yang sudah ada.

    Sama seperti Leopold, Arne Ness seorang filsuf lingkungan yang mengangkat Gunung Hallingskarvet sebagai ayahnya, menganggap bahwa jika bersama dengan alam seseorang dapat merasakan relasi yang dalam. Ia dapat menemukan siapa dirinya jika berinteraksi dengan alam.

    Dikenal sebagai bapak ekologi, Arne Ness memberikan pemahaman baru mengenai relasi manusia dengan alam. Ness kurang setuju dengan pandangan ekologi dangkal mengeai konservasi. Ekologi dangkal membatasi pengertian konservasi sejauh hanya dalam kepentingan antroposentrik.  Dia menekankan kurang cukupnya pendekatan yang dilakukan ekologi dangkal terhadap alam. Bagi Ness, alam adalah kesatuan cybermatic, yakini memiliki sistem keseimbangan yang swa-kembali. Bumi tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mati atau hanya tempat menuai sumber-sumber daya bagi manusia, tetapi bumi memiliki memiliki keseimbangan yang teramat penting bagi kelangsungan setiap spesies yang bergantung dengannya.

    Ness merasa pemikiran modern terjebak pada dikotomi yang kaku antara manusia dan alam. Dikotomi yang kaku ini menyebabkan pikiran manusia diskriminatif terhadap alam sebagai sesuatu yang lain, bukan sebagai suatu komunitas biotik yang saling membutuhkan, sehingga tercipta jarak antara manusia dan alam yang berakibat fatal bagi pola hidup manusia modern saat ini. Relasi antara manusia dan alam sekarang mengalami ketimpangan karena pandangan manusia menganggap bahwa alam hanya sebatas objek untuk memenuhi kebutuhan mereka, bukan lagi seperti yang diucapkan oleh Aldo Leopold, yaitu antara mahluk hidup dan alam memiliki sebuah relasi yang saling menguntungkan satu sama lain. (Bian/Jofie)