Resiliensi Aktivis 98 dalam Antologi Puisi Darah Juang

0
117
(bpmfpijar.com/Parama)

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, sebuah buku berjudul Darah Juang Antologi Puisi resmi diluncurkan, Kamis (28/10), di Kopi Lembah UGM, Yogyakarta. Buku antologi puisi ini digarap oleh sejumlah mantan aktivis peristiwa 1998 yang tergabung dalam Paguyuban Darah Juang (PDJ). 

Menurut FX Rudy Gunawan selaku koordinator acara, peluncuran buku antologi puisi ini menjadi salah satu upaya aktif dalam merespon berbagai polemik yang terjadi sekarang. “Kami anggap kegiatan hari ini sebagai upaya produktif kawan-kawan mantan aktivis dalam merespon berbagai kegelisahan yang tidak pernah berhenti saat ini,” tuturnya.

Meski sebagian besar anggota PDJ sudah tidak aktif berjuang secara langsung di lapangan, Rudy mengungkapkan, nyatanya mereka masih memiliki kontribusi besar dalam menyuarakan hak rakyat kecil. Para mantan aktivis-aktivis ini, kata Rudy, ketika sedang dilanda kegalauan menyoal situasi negara saat ini mereka mencurahkannya dalam sebuah karya puisi. “Dan tak ayal, puisi yang mereka ciptakan pun memang bagus,” ujarnya. 

“Ketika saya picu untuk membuat buku Antologi Puisi Darah Juang ini, seketika  semuanya berantusias mengirimkan karya. Akhirnya jadilah antologi ini. Jadi,  ini sebenarnya ungkapan personal di usia-usia kami sekarang ini yang mencoba merespon macam-macam persoalan dalam bentuk puisi,” lanjut Rudy. 

Walaupun kontributor dalam pembuatan antologi puisi ini berasal dari orang-orang yang secara historis memiliki kaitan erat dengan peristiwa 98, namun isi dari puisi-puisi yang ditulis lebih mengarah kepada persoalan aktual dan personal. Rudy misalnya, puisi miliknya membahas tentang pandemi yang melanda saat ini. Tetapi, ia menegaskan bahwa isinya tetap tidak lepas dari konteks persoalan yang selama ini mereka perjuangkan. 

Bagi Rudy, pandemi merupakan satu situasi di mana tatanan kehidupan berubah. Setiap orang harus mencoba produktif dan menghasilkan sesuatu. “Itu yang kemudian kita coba untuk terus gulirkan dan wacanakan melalui karya. Karya ini penting, jadi tidak hanya sekedar diskusi-diskusi belaka,” tambahnya.

Paguyuban Darah Juang sejatinya merupakan kumpulan dari sisa-sisa aktivis yang pada saat itu secara lantang menyuarakan hal-hal krusial terutama pada linimasa waktu 90-an. John Tobing, salah satu pendiri paguyuban ini mencoba menyatukan kembali teman-teman lamanya.  

Mulanya, para mantan aktivis ini mendapat kesempatan untuk berkumpul di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM pada tahun 2016 yang lalu. Usaha John Tobing dalam mengumpulkan teman-teman lamanya ini membuahkan hasil satu organisasi yang kemudian diberi nama Paguyuban Darah Juang (PDJ). 

“Kenapa Darah Juang? Karena inilah yang kemudian bisa menyatukan. Kita ini sudah terpecah-belah. Ada yang ke PDIP, Golkar, PKS, dan banyak lagi. Lalu kemudian apa yang bisa menyatukan? Ya itu, Darah Juang aja,” ungkapnya ketika di tanya motivasi pembentukan paguyuban ini.

Tak dipungkiri, peristiwa 1998 menjadi salah satu peristiwa yang membekas dalam ingatan setiap orang yang mengalaminya. Tidak terkecuali Rudy. Sebagai seorang wartawan saat itu peran krusialnya dalam mencari berita membuatnya harus bertemu dengan berbagai jenis trauma.

“Kamu paling hanya tahu bagaimana kambing guling terbakar? Tapi kalo manusia terbakar? Pernah mencium aromanya, nggak?” ungkapnya ketika ditanya salah satu kenangan buruk yang paling diingat.

Sebagai alumni Fakultas Filsafat UGM, Rudy dan John ikut serta mengomentari dinamika pergerakan dan kondisi sosial yang ada saat ini. Terutama di lingkup almamater mereka. Hal ini diungkapkan beliau ketika ditanya harapannya terhadap mahasiswa.

“Meski kawan-kawan mahasiswa di era sekarang sudah dipengaruhi oleh sistem belajar yang ketat, separuh pikirkanlah bahwa kalian adalah calon sarjana-sarjana yang harus menjanjikan sesuatu bagi rakyat kecil. Rakyat kecil itu petani, tukang becak, buruh, dll,” ungkap John.

Pesan yang berbeda namun bermakna sama juga dibagikan oleh Rudy kepada mahasiswa filsafat. Satu pesan sederhana yang ia berikan. “Kita saat ini butuh orang-orang yang membumi. Butuh semua ilmu yang ada di bumi ini untuk ikut terlibat dalam upaya menyelesaikan semua persoalan bangsa kita,” pungkas Rudy. 

Reporter : Michelle Gabriella Momole
Penulis : Titik Nurmalasari
Penyunting : Haris Setyawan

LEAVE A REPLY