Rayakan Ulang Tahun Perak ke-25, Sandemonink Tetap Jadi Rumah bagi Semua Orang

0
33
(bpmfpijar.com/Michelle Gabriela)

Lantunan musik ramai memenuhi seisi Kafe Kalahari. Seakan mengajak penonton untuk ikut bernyanyi dan menari. Sesekali, ada yang bersorak sembari meneguk perlahan sebuah minuman khas di tangan kiri. Rupanya, mereka sedang berpesta merayakan ulang tahun ke-25 Sandemonink, Jumat, (8/10) malam. 

Pesta perak 25 tahun Sandemonink ini dimulai pukul 19.00 WIB. Seluruh anggota komunitas Sandemonink yang hadir bersama-sama melakukan prosesi pemotongan tumpeng. Sebagai wujud syukur, bahwa Sandemonink sudah berdiri dan mampu bertahan selama 25 tahun lamanya. Setelah itu, acara diramaikan dengan penampilan band dari setiap generasi Sandemonink. 

Setiap tahun, komunitas Sandemonink selalu merayakan hari ulang tahunnya secara istimewa. Kali ini, dalam rangka memperingati usianya yang ke-25 tahun, untuk pertama kalinya Sandemonink mengadakan pementasan secara live streaming melalui kanal Youtube Sorot Media. 

Diungkapkan oleh Josardi, perayaan dengan pementasan band tahun ini merupakan sesuatu hal yang baru. Sebab, selama ini, Sandemonink identik dengan permainan musiknya yang bebas. Namun, dalam perayaan ke 25 tahun ini, mereka keluar dari zona nyamannya dan bermusik secara rapi agar memenuhi standar media. 

Perlu diketahui sebelumnya, mulanya Sandemonink merupakan sebuah komunitas musik yang bernaung di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM). Komunitas ini lahir dari kesamaan minat bermusik mahasiswa Filsafat dan D3 Ekonomi yang tergabung di dalam satu gedung, yakni Gedung B, pada tahun 1996. 

Mereka kemudian memutuskan untuk bermusik di depan gedung Fakultas Filsafat setiap minggu pagi. Kegiatan bermusik ini lantas menarik perhatian para pedagang makanan. Hal ini yang kemudian menjadi cikal bakal Pasar Sunday Morning (Sunmor) UGM. 

Meski bernaung di Fakultas Filsafat, komunitas Sandemonink tak hanya beranggotakan mahasiswa Fakultas Filsafat saja. Berbeda dengan komunitas musik lainnya, Sandemonink beranggotakan mahasiswa pecinta musik dari berbagai fakultas, misalnya Fisipol, FIB, dll. Selain itu, genre musik yang digarap pun tak hanya satu genre saja. 

Oleh karena itu, Josardi menegaskan bahwa Sandemonik menampung seluruh mahasiswa yang menaruh minat dengan dunia musik, khususnya di UGM. “Di umurnya yang ke-25 tahun ini, Sandemonik tetap menjadi rumah bagi semua orang,” ungkap Josardi, selaku ketua panitia perayaan ulang tahun Sandemonink ke-25. 

Perjalanan Sandemonink hingga sampai di umurnya yang menginjak 25 tahun ini, menjadi suatu hal istimewa yang patut untuk dirayakan. Pasalnya, selama 25 tahun Sandemonink ini berjalan, mereka dapat melewati sandungan demi sandungan yang ada. “Kami bisa bertahan, sebab kami selalu kompak dan tidak pernah memutus tali silaturahmi dengan alumni,” ujar Acala Panji Kelana, ketua Sandemonink.

Menurut laki-laki yang akrab disapa Kucul itu, sebagai anggota komunitas Sandemonink, harus kenal dekat sesama anggota. Dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dengan menyambangi rumahnya, hingga berdiskusi bersama. Tak jarang, kata Kucul, hingga minum-minum bersama. “Sesederhana itulah yang dapat kami lakukan untuk bisa bertahan di umur yang ke-25 tahun ini,” ungkap Kucul selaku Ketua Sandemonink. 

Meski melalui tahap persiapan yang singkat, kata Josardi, perayaan ulang tahun perak Sandemonink lebih difokuskan untuk menjalin komunikasi ke alumni. “Kami mencoba mengumpulkan teman-teman Sandemonink, baik tua maupun muda untuk membuat acara senang-senang memperingati ulang tahun Sande. Setidaknya kita bisa berdiskusi bersama,” ungkap Josardi. 

Upaya menjalin hubungan dengan alumni tersebut, dimaksudkan untuk menyokong kegiatan Sandemonink. Tak ayal, menurut Josardi, ikatan yang erat dengan alumni ini menjadi ciri khas, sekaligus keunggulan dari komunitas Sandemonink dibandingkan dengan komunitas lain. Namun, Josardi menegaskan, tidak ada maksud politik atau yang lainnya. 

Jalinan kuat antara alumni ini, terbukti pada acara ulang tahun Sandemonink tak hanya dihadiri oleh anggotanya saja, tetapi juga banyak alumni yang datang dari berbagai penjuru kota. Hal ini, sekaligus menjadi wujud keintiman yang dibangun dalam komunitas Sandemonink ini, yang begitu dekat dengan semua kalangan. 

Surya, salah satu penampil band mengatakan bahwa keseruan acara Sandemonink ini terletak pada kebiasaan mereka yang santai. Surya juga mengungkapkan, untuk mempersiapkan penampilannya saja hanya butuh waktu dua jam sebelum acara dimulai. Meski begitu mereka dapat tampil secara all out di atas panggung. “Semua karena minum,” lanjut Surya.

Dua puluh lima tahun berdirinya Sandemonink ini, Surya berharap agar Sandemonink lebih baik lagi. “Pengen banget Sandemonink itu bukan cuma tampil di panggung besar saja, tetapi juga bisa tampil di panggung jalanan, teater jalanan, berkembang sebagai gerakan baru,” tutur Surya. 

Surya juga berharap, Sandemonink kembali lagi menghidupkan nafas gerakan. Sebab selain dari sejarah Sandemonik sendiri yang dekat dengan gerakan 1998, Surya memandang bahwa musik harus bersatu dengan politik. “Musik adalah politik, dulu sebelum tahun 1998, Sandemonink merupakan basecamp untuk mengamankan para aktivis-aktivis gerakan,” ungkap Surya. 

Kucul, selaku ketua komunitas Sandemonink berharap agar pihak Fakultas Filsafat lebih memperhatikan kebutuhan Sandemonink, umumnya seluruh BKM. Misalnya, dengan menyediakan fasilitas musik yang layak untuk teman-teman Sandemonink. “Dengan tujuan, teman-teman yang gemar bermusik dapat difasilitasi dengan maksimal, dan dapat menghidupkan kembali guyub keluarga Sande, Selamat ulang tahun Sandemonink!” pungkas Kucul.

Reporter: Michelle Gabriela
Penulis: Jessie Joy
Penyunting: Haris Setyawan 

LEAVE A REPLY