Polemik Yahudi dalam Perkembangan Sejarah Indonesia

0
377

(bpmfpijar.com/ilustrasi: zufar)

Realitas jejak orang-orang Yahudi di panggung sejarah Indonesia nyaris sunyi, bahkan diabaikan seakan tak pernah jumpa sebelumnya. Sikap anti-semitisme yang mengakar kuat ditengarai menjadi faktor utama jejak orang Yahudi di Nusantara kurang disadari hingga dikaburkan. Meski begitu, dalam catatan sejarah, nyatanya menunjukkan adanya persinggungan antara orang Yahudi dengan masyarakat Nusantara.

“Masyarakat Indonesia belum sepenuhnya mengetahui adanya sejarah orang-orang Yahudi di Indonesia, padahal dengan mengetahuinya, setidaknya dapat meningkatkan sikap menghargai antar sesama,” ujar Monique Rijkers, pendiri Hadassah of Indonesia mengawali diskusi yang bertajuk “Jejak Yahudi di Indonesia”, Rabu (07/04). 

Diskusi yang bertujuan menumbuhkan sikap toleransi terhadap keberagaman dan keyakinan tersebut, Yahudi di tengah arus dinamika politik, turut menghadirkan dua pembicara, yakni Teuku Cut Muhammad Aziz, peneliti sejarah Yahudi di Indonesia dan Jeanne Francoise, peneliti Defense Heritage Indonesia. 

Menurut Teuku Muhammad Aziz atau yang akrab disapa Pon Cut, sejarah kedatangan orang-orang Yahudi ke Nusantara pertama kali terjadi pada abad ke-9. Kala itu, kapal seorang saudagar Yahudi dari Oman, Ishaq ben Yahuha, yang berlayar menuju China tertahan dan terbunuh di pelabuhan ujung Sumatera. “Posisi Aceh di ujung utara Pulau Sumatera menjadi tempat strategis pertama adanya interaksi orang Yahudi dengan masyarakat Nusantara,” jelasnya. 

Lebih lanjut, Pon Cut juga menampilkan beberapa visual peninggalan-peninggalan Yahudi seperti Simpang Empat Kota Bireuen, Kerkoff, dan Kuburan Yahudi yang ada di Aceh yang tidak terawat. “Kemungkinan orang Yahudi lebih awal mengunjungi Barus dan Aceh sebelum berniaga ke tempat yang lain, umumnya mereka adalah Kaum Yahudi Separdik,” tambahnya.

Selain itu, sebelum abad ke-16, ditemukan arsip Geniza dalam sebuah Sinagog di Fustat, Mesir yang semakin memperkuat bahwa orang Yahudi pernah singgah di Sumatera. Pon Cut memaparkan, dalam arsip tersebut mengisahkan ada seorang pedagang Yahudi dari Mesir yang berlayar menuju Fansur atau saat ini dikenal dengan nama Barus di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara dan meninggal di sana. 

Pada abad ke-20, lanjut Pon Cut, menjadi puncak kedatangan orang Yahudi di Nusantara. Menurutnya, terdapat ribuan orang Yahudi yang tinggal di beberapa wilayah Hindia Belanda, seperti di Kutaraja, Batavia, Semarang, Surabaya, Manado, dan beberapa kota lainnya. “Kehadirannya itu tak dapat dipisahkan dari peran sejarah kedatangan Portugis, Spanyol, Inggris, dan VOC atau Belanda,” ujarnya. 

Di Batavia atau Jakarta, kata Pon Cut, keberadaan kaum Yahudi terakhir kali membentuk minyan—kuorum orang dewasa Yahudi untuk memeluk aliran tertentu—pada perayaan Paskah Yahudi tahun 1945. Namun, hal itu hanya berlangsung sebelum Proklamasi Kemerdekaan, setelah itu, dalam rangka pembungkaman identitasnya, banyak properti orang-orang Yahudi disita oleh Belanda, termasuk Sinagoga. 

Sementara itu, Pon Cut melanjutkan, terdapat sebuah Sinagog Beth Hashem yang menjadi rekam jejak orang Yahudi di Manado.  Saat itu, terdapat dua aliran Yahudi yakni Yahudi Ortodoks dan Yahudi Liberal. “Saat ini ada sekitar 30 orang Yahudi di Sulawesi Utara yang dibersamai langsung oleh satu yayasan dan komunitas,” ungkapnya. Oleh Yacoov Baruch didirikan Yayasan Sinagog Beth Hashem dan Yobbi Ensel, ketua perwakilan United Indonesia Jewish Community. 

Menyoal konteks pemahaman Yahudi yang selalu dikaitkan dengan gerakan Zionis, Pon Cut berpendapat bahwa hal itu tak selamanya bisa dibenarkan. Sebab, mengutip dari apa yang dikatakan oleh salah seorang penganut atheisme di Surabaya, di mana pun orang Yahudi tinggal sesungguhnya mereka ingin jauh dari konflik dan persekusi. “Perlu ada yang diluruskan akan anggapan itu, yang menyatakan bahwa keberadaan orang Yahudi di seluruh dunia selalu dikaitkan dengan gerakan Zionis di Israel,” ujarnya. 

Senada dengan Pon Cut, Jean menyorot sikap intoleran dari sejumlah oknum yang secara langsung memiliki prasangka Yahudi sama dengan Zionis. Menurutnya, membaca suatu identitas tidak bisa hanya dari satu kacamata, melainkan dengan melakukan pendalaman dari perspektif-perspektif yang lain. “Secara emik dan etik, kita tidak lagi melihat diri kita sebagai orang apa atau bangsa apa, tetapi kita melihat bahwa apa sebetulnya makna mempelajari sejarah jejak Yahudi di Indonesia,” paparnya.

Oleh karena itu, rasa toleransi di ranah kewarganegaraan, yakni pemaknaan atas Jewish Heritage di Indonesia perlu untuk dinarasikan ke arah yang lebih sehat. Jean berpandangan bahwa untuk melihat realitas Yahudi itu ada, eksis, atau being dapat dilakukan dengan memahami dinamika sejarahnya. Jewish Heritage, kata Jean, merupakan sejarah Yahudi dan oleh karenanya, Yahudi tidak dipandang hanya sebagai agama atau bangsa tertentu tetapi secara keseluruhan.

“Dengan memahami suatu sejarah yang ada di Indonesia, artinya bangsa ini adalah bangsa yang menerima keberagaman, sebab menerima perbedaan adalah suatu fitrah manusia,” pungkas Jean.

(Chalfi/Haris)

LEAVE A REPLY