Kiprah Pendidikan Seni Pertunjukan di Tangan R. M. Soedarsono

0
206

(bpmfpijar.com/ilustrasi: parama)

Perjalanan seni sebagai ilmu, tidak semulus perjalanan masuknya ilmu-ilmu lain ke lembaga pendidikan Indonesia. Mulanya, seni dianaktirikan dari ilmu-ilmu lain. Dari fenomena tersebut, oleh G.R. Lono Lantoro Simatupang, Kaprodi Program Studi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPT) Sekolah Pascasarjana UGM, muncul pertanyaan menarik: Apakah seni itu ilmu?

Pertanyaan itu ia sampaikan, selaku moderator dalam acara Launching dan Bedah Buku Autobiografi R. M. Soedarsono: Perintis dan Pengembang Pendidikan Seni Pertunjukan di IndonesiaDari Yogyakarta Mendunia untuk Indonesia, Selasa (04/05).

Untuk menjawab pertanyaan itu, Lono menyebut peran R. M. Soedarsono, guru besar di bidang Seni dan Sejarah Budaya FIB UGM. Sebab dalam riwayatnya, Prof. Dar, sapaan akrab R. M. Soedarsono, berusaha menyejajarkan seni dengan ilmu-ilmu lain dan membawanya ke lembaga pendidikan di Indonesia. “Atas jasa Prof. Dar, para pengkaji dan pelaku seni semakin terbuka kesempatannya dalam menempuh pendidikan formal yang lebih tinggi,” ujar Lono.

“Sebagai bentuk penghormatan sekaligus penghargaan atas jasa dan kiprah almarhum dalam pengembangan di bidang seni tari, pertunjukkan, dan budaya sastra pada umumnya, terbitlah buku ini,” ucap Widodo, Kepala Badan Penerbit dan Publikasi UGM dalam sambutannya pada acara tersebut yang diselenggarakan via Zoom meeting dan siaran langsung kanal YouTube UGM.

Laksmi Widyawati, penyunting buku tersebut memulai pemaparannya dari cerita bab dua tentang pendirian Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada 1963. Menurutnya, hal itu sebagai langkah awal Prof. Dar dalam merintis dan mengembangkan pendidikan seni pertunjukkan di Indonesia.

Di ASTI, lanjut Laksmi, Prof. Dar mengajar beberapa mata kuliah yang cukup sulit, salah satunya notasi laban atau labanotation. Kemampuan beliau dalam memahami labanotation dikagumi oleh banyak akademisi. “Professor Laban yang menemukan labanotation pun mengapresiasi kemampuan beliau,” ungkap Laksmi yang juga merupakan putri kedua Prof. Dar.

Sepakat dengan pernyataan Laksmi, I Made Bandem, Guru Besar ISI Denpasar dan sahabat almarhum R. M. Soedarsono mengungkapkan, berkat kemampuan beliau dalam memahami labanotation dan penerapannya dalam berbagai tari tradisional Indonesia membuat Pimpinan Biro Labanotation di New York memberikan julukan Bapak Labanotation Indonesia pada tahun 1977.

Lebih lanjut pada bab keempat, dijelaskan oleh R. M. Pramutomo, usai tahun 1970-an, Prof. Dar mulai mengembangkan ilmu-ilmu seni pertunjukan. “Prof. Dar menjadi profesor tamu di Wesleyan University dan selama tahun 1970-1980. Beliau aktif menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan ilmiah internasional,” ungkap Pramutomo, Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama ISI Surakarta.

Pada tahun 1974, saat Prof. Dar menyusun Kurikulum Berbasis Content bersama Bandem, beliau memberanikan diri untuk memasukkan beberapa mata kuliah, seperti Tari Kreativitas (Improvisasi), Literatur Tari Modern, Sejarah Tari Modern, Labanotation. Kebijakan itu, kata Bandem, sebagai upaya modernisasi tari-tari tradisional yang menjadi unggulan Yogyakarta, Bali, Bandung, dan Konservatori Tari Indonesia (KONRI).

“Keberaniannya merupakan sebuah langkah strategis di mana waktu itu buku-buku yang digunakan belum banyak beredar di Indonesia dan beliau menerjemahkannya sendiri,” imbuh Bandem.

Dijelaskan pula oleh Bandem, ketika Prof. Dar menjabat Wakil Rektor I ISI Yogyakarta dan sekretaris Konsorsium Seni (1985-2006), Prof. Dar bersama anggota konsorsium lainnya merumuskan seni sebagai ilmu mandiri. Ia menyatakan, melalui kajian filsafat ilmu, konsorsium tersebut dapat menemukan bahwa seni sejajar dengan ilmu-ilmu lainnya.

Gelar-gelar yang beliau buat sebelumnya, seperti S. S. T., S. Ped., S. S. Kar., diubah menjadi S. Sn yang masih terus digunakan hingga saat ini. “Sekarang kita menjadi sarjana penuh seperti sarjana yang lainnya, kita ingin sejajar dengan ilmu-ilmu lainnya dan Prof Soedarsono menjadi salah satu tokoh yang mewujudkannya melalui konsorsium itu,” jelas Bandem.

Dalam bab delapan, Pramutomo pun menyampaikan langkah berikutnya yang Prof. Dar ambil ketika menjabat sebagai Rektor ISI Yogyakarta pada tahun 1992-1997. Salah satu wujudnya nampak pada keberhasilannya bekerjasama dengan UGM dalam mengusahakan program pascasarjana PSPSR. “Dengan mengusahakan sekolah pascasarjana bagi dosen-dosen seni, beliau berharap agar mereka bisa menempuh pendidikan S2 dan S3,” papar Pramutomo.

Di sisi lain, Timbul Haryono, guru besar Departemen Arkeologi FIB  UGM menyoroti hal menarik dalam pembacaan buku tersebut, kepribadian Prof. Dar yang lekat. “Inti yang saya tangkap dari buku itu adalah sifat disiplin dan karakter khasnya dalam mengajar. Saya juga teringat akan perhatiannya kepada para mahasiswanya yang juga saya alami,” pungkas Timbul.

(Nares/Ayom)

LEAVE A REPLY