Goenawan Mohamad: Pada Masa Intoleransi

0
1670
Foto: Dok. Basa Basi

“Sejarah intoleransi merupakan sejarah yang sangat panjang,” ujar Goenawan Mohamad, sastrawan dan jurnalis terkemuka, selaku pembicara dalam kuliah umum berjudul “Pada Masa Intoleransi”. Kuliah umum tersebut berlangsung pada Jumat (02-02), di Kafe Basabasi, Bantul.

Goenawan Mohamad atau yang akrab disebut GM, membuka kuliahnya dengan menceritakan intoleransi yang ada dalam sejarah antarumat tiga agama besar. Ia memberi contoh intoleransi yang terjadi saat perpecahan antara Katolik dan Protestan. Intoleransi sangat erat hubungannya dengan konflik identitas atas nama agama. “Pembunuhan masal yang terjadi pada masa lampau selalu diberi makna religius,” ujarnya.

Menurutnya, abad-20 adalah abad kemarahan. Salah satu pemicu hal tersebut ditandai dengan kecemasan akan perkembangan ilmu pengetahuan yang dianggap akan mengancam keyakinan gama. Ia memberi gambaran, jika suatu saat umat manusia berhasil menemukan kehidupan di luar bumi atau jika suatu saat manusia dapat melawan kematian sehingga dapat hidup abadi. Hal tersebut tentu akan menampar kepercayaan yang selama ini diyakini secara tekstual oleh kaum fundamentalis.

GM mengutip Voltaire. “Inti dari intoleransi adalah sikap kefanatikan”. Hal itu yang kemudian melandasi pemikiran identitas, sehingga atas dasar perbedaan indentitas, suatu kelompok cenderung bersifat agresif ataupun defensif terhadap kelompok lain yang memiliki perbedaan identitas, dalam hal ini agama. Menurutnya, kini agama sudah tak lagi menjadi penghayatan umat terhadap Tuhan, melainkan telah menjadi identitas kelompok, partai, maupun organisasi. “Kalau kita melihat diri kita tanpa identitas, maka toleransi akan berjalan dengan baik,” sambungnya mengutip Amartya Sen.

GM menceritakaan intoleransi yang terjadi di negara-negara dengan agama yang beragam, contohnya Pakistan dan India. Di Pakistan terdapat banyak intoleransi atas dasar agama, banyak terjadi serangan bom untuk menyebar teror kepada minoritas. Ada banyak korban berjatuhan. Belum lagi kebijakan blasphemy law, di mana seorang penista agama akan mendapat ganjaran hukuman mati.

Menurut GM, di India masih terdapat ketegangan di masyarakat terkait intoleransi agama, namun mereka berupaya untuk menjadi negara yang lebih bersahabat dengan perbedaan. Tia Setiadi selaku moderator, mengafirmasi pendapat GM dengan mencontohkannya lewat film yang berjudul PK. Film yang disutradarai oleh Rajkumar Hirani ini dikenal karena alur cerita yang kritis dan dibumbui dengan adegan humor tersebut menggambarkan tentang pencarian terhadap sosok Tuhan. Tia juga mengutip percakapan dari film tersebut “Andai di tempatmu, bagaimana cara kamu mengekspresikan kebahagiaan sehingga kamu tidak punya Tuhan?”

Rio, salah satu audiens, menanyakan apa seharusnya kita punya identitas universal atau justru malah sebaliknya, menghilangkan identitas sebagai solusi atas problem intolerasi. GM menjawab bahwa kita harus menyadari kalau identitas itu plural dan berproses. Negara dan kekuasaan politik menghendaki penyeragaman. Ia menambahkan mustahil bagi kita untuk menghilangkan identitas universal di mana identitas partikular saja sangat banyak beserta kerumitan masalahnya seperti yang terjadi saat ini.

Tanggapan pengunjung seusai kuliah umum beragam, salah satunya tanggapan dari pengunjung bernama Mono. Menurutnya, dalam menanggapi problem intoleransi, kontrol seharusnya ada pada diri sendiri, bukan pada kelompok, organisasi, ataupun aliran agama yang melingkupi individunya. (Aldi/Rananda)

LEAVE A REPLY