Film Indie Kembali Meramaikan Bioskop Indonesia

0
1148
Foto: Dok. SuaraPemudaJogja

Puluhan orang memadati Aita Coffee di Jalan Urip Sumoharjo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Selasa, (25-04) malam. Melanjutkan tradisi hari Selasa, Aita Coffee kembali mengadakan diskusi rutin bertajuk Selasa Sinema. Diskusi diisi oleh Bagus Suitrawan sebagai pembicara dan Tedi Kusnyairi sebagai moderator. Bagus merupakan asisten sutradara merangkap co-producer film Ziarah karya B.W. Purbanegara.

Film Ziarah menceritakan perjalanan Mbah Sri mencari makam Prawiro, suaminya yang tidak pernah kembali setelah Agresi Belanda II. Perjalanan Mbah Sri bermula saat mendapatkan kabar dari seorang veteran perang. Bermodalkan cerita tersebut, Mbah Sri memulai perjalanannya mencari makam sang suami. Naskah film yang ditulis oleh B.W. Purbanegara ini masuk nominasi Piala Citra untuk Penulis Skenario Asli Terbaik 2016.

Bagus menjelaskan bahwa film ini bertujuan untuk mengembalikan nilai-nilai perfilman Indonesia yang sudah tercemar budaya populer, seperti dibintangi artis-artis terkenal dan alur cerita cinta segitigaremaja. Selain itu, Bagus dan tim produksi Ziarah menjauhkan budaya eropa-sentris yang selama ini tertanam dalam dunia perfilman Indonesia. “Alasan utama kita mengangkat film dengan latar sawah dan kampung-kampung adalah untuk mengingatkan masyarakat bahwa film tidak harus mengisahkan cinta remaja dan budaya Eropa. Film ini menggambarkan tema kisah cinta dan nilai luhur yang terkandung di tanah Jawa.”

Menurut moderator Selasa Sinema, Tedi Kusnyairi, film seperti ini merupakan sebuah terobosan baru bagi perfilman Indonesia. Film indie telah berhasil menunjukkan taringnya dan ditayangkan di layar lebar Indonesia. Tedi menambahkan dunia perfilman Indonesia membutuhkan sebuah pembaruan, seperti film Istirahatlah Kata-Kata dan Kartini. “Film ini bercerita tentang sejarah serta nilai-nilai dari leluhur kita,” pungkas Tedi.

Sani, mahasiswa STIQ An-Nur Yogyakarta yang menjadi peserta Selasa Sinema mengatakan bahwa film seperti ini harus ditonton. Ia tertarik dengan peran utama yang diperankan oleh nenek yang berusia 95 tahun. “Menurut saya, ini sebuah pembaruan. Saya penasaran dengan akting seorang wanita yang sudah berumur,” ucap Sani.

Diskusi Selasa Sinema diselingi dengan beberapa tarian khas daerah Yogyakarta. Selasa Sinema ditutup dengan peluncuran website suarapemudajogja.com oleh SuaraPemudaJogja. (Yolbi Fanszola)

LEAVE A REPLY