Dari Miras Lahirlah Kreativitas

0
659

(bpmfpijar.com/farid al-qodr)

Sebelah mata, minuman keras (miras) tampaknya hanya dipandang sebatas perilaku mabuk-mabukan, destruksi, dan kriminal. Namun tidak bagi segelintir kalangan, sebut saja seniman. Adakalanya mereka perlu tegukan miras, guna menemukan sepetik imajinasi baru. Petikan-petikan itu, lantas menjadi kreativitas yang dituangkan dalam karya yang menakjubkan.

“Mana ada seniman yang mau berkreasi terus-terusan pakai akal, sesekali ia perlu meneguk miras untuk melonggarkan saraf-saraf tegang oleh akal dan logika sehingga lahirlah kreativitas dan imajinasi,” ujar Tommy F. Awuy, Dosen Filsafat Universitas Indonesia dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Historia.ID bertajuk “Minum Kemarin, Mabuk Sekarang: Alkohol dan Kejeniusan Lokal”, Kamis (04/03). 

Selain Tommy, diskusi yang secara khusus membahas miras dalam perspektif historis, kultural, dan filosofis ini juga dihadiri Saras Dewi, Dosen Filsafat UI dan Bonnie Triyana, Pemimpin Redaksi Historia.ID selaku moderator. Diskusi kali ini disiarkan secara daring melalui platform Youtube Historia.ID. 

Menurut Tommy, kreativitas merupakan dorongan dari imajinasi. Sementara imajinasi adalah bagian dari akal. Kalau imajinasi yang muncul akibat dari minum miras bukanlah akal yang sistematik, melainkan akal yang “nyeleneh”. Akal yang nyeleneh, dimaksudkan oleh Tommy, adalah akal yang tidak mengikuti aturan-aturan yang berlaku. 

Imajinasi, kata Tommy, terus mengganggu akal dan mendatangkan suatu hal yang baru. “Seperti filsafat yang terus mengganggu dan mendobrak kemapanan, dari situ akan memunculkan suatu hal yang baru,” lanjut Tommy. Menurutnya, miras memiliki daya untuk mendorong imajinasi itu. Namun dalam hal ini, meminum miras bukan bertujuan untuk memabukkan, tetapi dalam batas tertentu hingga menghadirkan kesadaran tipsy. 

Lebih lanjut, kesadaran tipsy, disebutkan oleh Tommy, akan membawa peminumnya ke dalam dunia threshold. Yakni dunia yang tidak berada dalam dunia realitas yang penuh dengan aturan-aturan duniawi saja, tetapi juga tidak berada di dunia ide yang  penuh dengan ide-ide yang mengambang. 

“Dunia threshold membawa seseorang  untuk bermain-main dengan imajinasi. Dari imajinasi itu akan ditemukan suatu hal baru yang didapat dari bagian kecil dunia realitas, juga bagian kecil dunia ide yang kemudian digabungkan dan menghasilkan kreativitas atau karya yang baru,” ujar Tommy yang juga merupakan dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). 

Menyoal miras dalam perspektif filsafat, Tommy menyebutkan salah satu karya dari Friedrich Nietzsche, The Birth of Tragedy. Baginya, karya itu membicarakan tentang sensasi mabuk yang memberikan kreativitas dengan menyitir kisah mengenai dua dewa mitologi Yunani yang memiliki kepribadian yang berbeda, yaitu Dewa Apollo dan Dewa Dionysius. 

Apollo berpegang teguh pada etika dan kehidupannya yang lurus-lurus saja. Sedangkan Dionysius, sosok Dewa Anggur yang penuh dengan kegairahan. Diungkapkan Tommy juga, Dionysius menganggap miras yang berasal dari anggur sebagai simbol dari kegairahan dan kehidupan. Ia beranggapan jika meminum anggur dapat memunculkan kreativitas. 

Kreativitas yang didapat dari miras, memberikan dampak positif bagi dunia seni, khususnya seni kontemporer. Kreativitas inilah yang membuka kesempatan para seniman untuk berkreasi tanpa menghiraukan aturan-aturan seni yang ada.

“Aturan seni Apollonian yang formal dan sistematik, tidak dapat memberikan kreativitas. Tapi ketika meminum miras, dapat melonggarkan saraf-saraf yang tegang dan memunculkan imajinasi,” jelas Tommy. 

Di sisi lain, Saras menyoroti sebuah pertanyaan menarik, “Mengapa orang ingin menggoyangkan atau menghilangkan kesadarannya?”. Menanggapi pertanyaan itu, ia beranggapan bahwa fungsi dari miras tidak lain untuk membuat peminumnya merasakan sensasi lepas dari segala kesadaran. 

Leluhur Indonesia yang menganut animisme dan dinamisme, ucap Saras, membuat miras menjadi sebuah kejeniusan lokal. Yang mana miras dipergunakan untuk merasakan kehadiran yang lain dari kehidupan di dunia ini (transenden), bahkan merasakan kehadiran Tuhan Yang Maha Agung. 

“Alkohol merupakan teknologi jenius yang pernah dibuat oleh leluhur kita. Bayangkan saja, orang zaman dulu bisa berpikiran untuk mencoba melampaui kesementaraan tubuh dan ingin merasakan sesuatu di luar kesehariannya,” tutur Saras. 

Saras menyimpulkan bahwa tujuan seseorang mengonsumsi miras adalah ingin merasakan sesuatu yang berbeda dari kesehariannya dan ingin melihat berbagai dimensi lain. Serta ingin merasakan bagaimana rasanya ketika tubuh dapat melampaui aturan-aturan dimensi yang ada di kehidupan nyata. 

“Kehidupan di dunia ini hanya terdiri atas hal-hal yang bisa kita lihat melalui indra dan berupa tiga dimensi. Tetapi saat kita lepas dari kesadaran—berada di antara alam sadar dan tidak sadar—kita bisa melihat berbagai macam dimensi yang mungkin tidak bisa kita lihat di dunia nyata,” jelas Saras.

Penulis: Nareswari Widianti
Penyunting: Haris Setyawan

LEAVE A REPLY