Bersama Komunitas Ratau Nyetip, Fakultas Filsafat Rayakan Dies Natalis ke-55

0
234
(bpmfpijar.com/Gayuh)

Alunan musik Banda Neira mengiringi pembukaan pameran lukisan yang diadakan oleh Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, pada Kamis, (26/05). Berbagai lukisan menarik memenuhi selasar Fakultas Filsafat dalam rangka memeriahkan Dies Natalis Fakultas Filsafat ke-55. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Fakultas Filsafat dengan komunitas Ratau Nyetip yang dibuka hingga sepekan kedepan.

Pameran ini sendiri mengangkat tema “Full Gerr”. Menurut Sri Wahyuningsih atau akrab disapa Nining, anggota Komunitas Ratau Nyetip, tema tersebut membawa pesan agar kita menjalani hidup dengan santai. “Biar kita tidak terlalu spaneng, tidak terlalu tegang. Kita hadapi hidup dengan gerr gitu aja,” ujar Nining.

Nining juga menjelaskan bahwa selain merayakan Dies Natalis Fakultas Filsafat ke-55, Komunitas Ratau Nyetip juga turut menyambut bulan menggambar nasional. “Bulan menggambar nasional baru saja dicanangkan pada tahun ini sehingga banyak komunitas yang mengadakan pameran, termasuk Komunitas Ratau Nyetip,” jelasnya.

Komunitas Ratau Nyetip (Retorika/Diales Gaalends)

Nining memperkenalkan Komunitas Ratau Nyetip sebagai komunitas seniman yang bergerak di bidang seni rupa. Menurut Nining, Ratau Nyetip sendiri artinya bebas. “Jadi kita membebaskan diri untuk membuat kesalahan,” terangnya.

Lebih lanjut, Nining menjelaskan bahwa dalam proses menggambar terkadang kita bisa menggoreskan garis yang kurang tepat kemudian menghapusnya. Namun, menurut Nining, tindakan yang tepat bukan dengan nyetip (‘menghapus’ dalam bahasa Indonesia) garis tersebut, melainkan menjadikan garis tersebut sebagai pendukung garis yang paling tepat di akhir karya.

Filosofi ini sama halnya dengan kehidupan sebab, dalam kehidupan terkadang tindakan kita tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan. Namun, menurut Nining, bukan berarti kita harus menghapus kesalahan dan kekeliruan tersebut, melainkan kita seharusnya terus maju dan berusaha agar tindakan-tindakan selanjutnya mampu memperbaiki tindakan kita sebelumnya. “Kesalahan dalam hidup pada hakikatnya tidak bisa dihapus, ia hanya bisa diperbaiki dengan tindakan-tindakan setelahnya,” ungkap Nining. 

(bpmfpijar.com/Michelle Gabriela)

Masa Depan Kemanusiaan

Pada Dies Natalis tahun ini, Fakultas Filsafat mengangkat tema “Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Kemanusiaan”. Dr. Iva Ariani, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerjasama, mengemukakan bahwa salah satu persoalan fundamental yang dihadapi bangsa adalah tergantikannya tugas dan pekerjaan manusia oleh mesin. “Ketika semua pekerjaan digantikan oleh teknologi, di mana kemudian letak konsep kesadaran dan kemanusiaan?” ungkapnya mempertanyakan. 

Hal itulah yang menurut Iva menjadi tugas filsafat. Menurutnya, sebagai leader yang menjembatani semua ilmu, filsafat harus dapat menarik kembali ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak lepas dari ruhnya, serta tetap bermanfaat bagi nilai-nilai kemanusiaan. 

Melalui tema yang diangkat oleh Fakultas Filsafat pada Dies Natalis ke-55 ini, Iva menyampaikan bahwa Revolusi Industri 5.0 harus kembali kepada fungsi awal. “Apa pun perkembangan teknologi, mau sekencang apa pun mereka berlari, tetap ditarik kembali bahwa teknologi itu harus bermanfaat bagi kemanusiaan,” pungkasnya.

Lukisan karya Riyanto berjudul “Bumiku”. Lukisan ini menggambarkan perasaan Riyanto terhadap kondisi bumi yang mulai rentan, serta terjadi banyak bencana (bpmfpijar.com/Adhysti Hukma)

Reporter : Adhysti Hukma Shabiyyah

Penulis : Titik Nurmalasari

Penyunting : Michelle Gabriela Momole

LEAVE A REPLY