ARTJOG MMXXI: Narasi Ruang dan Waktu Sejarah dalam Bingkai Seni Kontemporer

0
262
“Love is a Many Splendored Thing” milik Jompet Kuswidananto (bpmfpijar.com/Farid)

Sebuah ruangan di mana lantai tertutupi seluruhnya dengan pasir, ditambah hamburan puing-puing yang menambah suasana apokaliptik dari unsur-unsur yang terdapat pada ruangan itu. Seakan berusaha menceritakan pada kaki-kaki yang menapaki hamparan pasir mengenai sebuah kisah peperangan dan kekerasan. Ruangan itu merupakan sebuah karya instalasi yang menampilkan keindahan dari cahaya lampu-lampu kristal yang secara kontras tertanam pada sebuah piano yang hancur. Pada sudut ruangan tampak sosok iblis menggantung bersama dengan lampu-lampu dan karya instalasi lainnya yang memancarkan cahaya dari bilah-bilah pedang, serta sebuah bangkai anjing yang terkapar tertancap tongkat-tongkat bercahaya. Seperempat ruangan memancarkan cahaya dari serpihan kaca yang tersusun bak lautan yang bersinar terkena pancaran cahaya matahari.

Unsur-unsur yang memenuhi ruangan itu tergabung dalam segmen karya instalasi berjudul “Love is a Many Splendored Thing” milik Jompet Kuswidananto. Karya Jompet menjadi salah satu karya yang secara puitik melihat sejarah sebagai narasi tentang pertarungan dan kekerasan dalam pameran ARTJOG MMXXI yang diselenggarakan pada 8 Juli – 31 Agustus 2021, di Jogja National Museum. Kali ini ARTJOG kembali berupaya menampilkan karya-karya berskema kuratorial yang telah dicanangkan sejak 2018 dengan meneruskan trilogi edisi kedua pameran “Arts in Common” dengan tajuk “Time (to) Wonder”.

Suasana apokaliptik sangat terasa pada instalasi seni ini (bpmfpijar.com/Parama)

Time (to) Wonder merupakan undangan kepada para seniman untuk memaknai kembali ihwal waktu melalui karya dan pemikiran mereka,” terang salah satu tim kurator ARTJOG, Agung Hujatnikajennong. Dengan mengangkat ihwal ‘waktu’, para seniman berupaya untuk mengemas narasi pemaknaan ‘waktu’ melalui karya seni kontemporer. Pameran ini menampilkan karya-karya mutakhir 41 seniman yang tinggal dan bekerja di Indonesia serta memiliki rekam jejak yang relevan dengan tema ini. 

Tema personifikasi waktu yang dihadirkan oleh ARTJOG MMXXI mampu memberikan wadah bagi seniman untuk menguraikan gagasan, keresahan, harapan, dan cerita masa lampau melalui karyanya. Jika menengok karya  berjudul Encounter / Perjumpaan / Pertempuran dapat kita jumpai contoh narasi masa lalu yang dikemas oleh FX. Harsono, seniman asal Blitar.

Encounter / Perjumpaan / Pertempuran merupakan karya instalasi yang menampilkan serangkaian artefak berupa perabotan dan hiasan rumah kuno yang dimiliki oleh keluarga Tionghoa asal Lasem dan Rembang. Artefak ini kemudian direkonstruksi sedemikian rupa untuk menyimbolkan perjumpaan (encounter) antar kultur Cina, Jawa, dan Eropa yang kemudian menghasilkan peranakan budaya baru. “Artefak-artefak ini saya gergaji kemudian dirangkai kembali untuk menegaskan bahwa kebudayaan hybrid itu tidak tunggal. Saya ingin coba menjelaskan bahwa potongan-potongan yang disatukan itu menggambarkan peleburan budaya,” ucap Harsono.

“Encounter / Perjumpaan / Pertempuran” karya Harsono (bpmfpijar.com/Parama)

Berangkat dari riset Harsono mengenai rumah-rumah tua yang memiliki gaya arsitektur campuran Cina, Eropa, dan Jawa di sekitaran Rembang-Jepara, ia melihatnya sebagai representasi dari kejayaan orang-orang Tionghoa di masa lalu.

Gaun pengantin sebagai objek utama instalasi milik Harsono (bpmfpijar.com/Parama)

Gaun pengantin yang menjadi sorotan utama dari instalasi tersebut dulunya merupakan milik seorang perempuan Tionghoa yang menikah pada tahun 1951.  Melalui gaun pengantin, Harsono menunjukkan keterkaitan akan gagasan peran perempuan dalam sistem kekeluargaan Tionghoa pada masa itu. Pada keluarga Tionghoa, perempuan dianggap sebagai aktor pasif, sedangkan laki-laki dicerminkan sebagai sosok pengambil risiko, inisiator, dan penggerak keluarga.

Dalam gagasan cina kuno terdapat konsep Yin dan Yang, Harsono melihat bahwa pada masa itu, perempuan selalu diposisikan sebagai Yin (diam, menerima, dingin) dan laki-laki merepresentasikan unsur Yang (api, bumi, panas). “Yang tanpa Yin tidak akan membentuk suatu wujud, inilah yang direpresentasikan oleh gaun pengantin itu, perempuan Tionghoa merupakan ‘jiwa’ bagi rumah-rumah kuno itu,” ucap Harsono.

Instalasi yang menggunakan fragmen-fragmen masa lalu tidak berhenti pada karya milik Harsono. Agung Kurniawan, seniman, sekaligus pegiat isu ‘65 merangkai lampu gantung menggunakan kawat, bohlam, dan menggantungkan baju-baju penyintas pasca ‘65 sebagai ornamen lampu gantung. Objek performatif tersebut berjudul “Maukah Engkau Menari Dengan ku Sekali Ini Saja?

“Maukah Engkau Menari Dengan ku Sekali Ini Saja” karya Agung Kurniawan (bpmfpijar.com/Parama)

“Maukah Engkau Menari Dengan ku Sekali Ini Saja”  merekonstruksi pengalaman yang dialami oleh Ibu-Ibu penyintas ‘65, bahwa mereka digantung dan menjadi sorotan (kambing hitam) atas peristiwa ‘65. Agung ingin membuat sebuah objek tampilan yang memiliki roh dan dengan sendirinya menceritakan situasi yang mereka alami.

ARTJOG MMXXI memberikan kesempatan bagi Agung untuk menyampaikan apa yang terjadi pada penyintas pasca ‘65 melalui objek performatif yang ia rangkai tersebut. Menurut Agung, banyak kurator seni yang enggan menampilkan karya bertemakan ‘65. “Pengalaman saya sebelumnya, tema-tema ‘65 itu selalu punya masalah dengan ruang, entah ditolak, entah dicurigai,” ucapnya.

Agung sendiri sudah menekuni rupa bertemakan ‘65 selama 20 tahun. Pada awalnya ia menggunakan medium gambar, namun penyampaian makna melalui medium gambar dirasa kurang kuat untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di balik narasi besar sejarah Indonesia. 

Agung merasa bahwa peristiwa ‘65 merupakan peristiwa yang perlu diingat. Bagi Agung, yang ingin diungkapkan melalui karyanya bukanlah kesedihan yang mereka alami, akan tetapi bagaimana para korban dapat bertahan melalui genosida sosial. “Para penyintas itu mendapatkan banyak perundungan sosial-politik, bahkan setelah mereka keluar dari kamp selama 5 sampai 14 tahun kemudian. Situasi tersebut ingin saya hadirkan melalui karya ini,” tegas Agung.

Tahun ini ARTJOG yang dibawahi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengizinkan para senimannya untuk mengangkat isu-isu kurang populer dan kontroversial, seperti isu sosio-kultural maupun perihal ‘65. Sikap ini menunjukan kepedulian pemerintah dalam menyediakan wadah kesenian bagi mereka yang termarginalkan oleh ruang dan waktu. 

Praktik seni mewakili refleksi mendalam atas pemahaman manusia tentang sebuah hal pada suatu zaman. Walaupun dalam praktiknya sendiri tidak selalu termanifestasikan dalam kesimpulan-kesimpulan yang terformulasi secara objektif dan sistematis, karya seni kreatif para seniman mampu menyingkap secara idiosinkratik berbagai peristiwa tersembunyi dunia yang sebelumnya kurang mendapat sorotan.

Lebih mendalam, praktik seni rupa dapat mempersoalkan ‘waktu’ dalam keluasan spektrum pengertian yang tak terjangkau oleh kajian yang lainnya. Dalam konteks Indonesia, perubahan cara pandang seniman terhadap waktu muncul ketika banyak seniman menerapkan strategi artistik semacam apropriasi, pastiche, dan parodi sejak tahun 70-an yang mewakili gestur seniman dalam membicarakan fenomena mutakhir dengan meminjam teks-teks masa lalu. Dalam konteks seni rupa kontemporer, tidak ada perspektif tunggal yang paling dominan mengenai waktu.

Setelah berlangsung selama hampir dua bulan, ARTJOG menutup rangkaian acara dengan menyelenggarakan seremoni penutupan pada 31 Agustus 2021. Seremoni penutupan ARTJOG MMXXI dihadiri oleh Menteri BUMN, Erick Thohir, dalam sambutannya beliau menyampaikan apresiasi kepada para seniman yang telah berkontribusi dalam pameran tahun ini. “Sejak 2008, ARTJOG sangat konsisten mendukung dan turun langsung dalam membantu memajukan karya para seniman dalam negeri. Meskipun tahun lalu sempat terkendala awal pandemi, tetapi ARTJOG secara sigap dapat beradaptasi dengan situasi,” puji Erick.

Sebelumnya, ARTJOG telah menghadirkan tentang ‘ruang’ melalui “Common|Space” dan ‘waktu’ melalui Time (to) Wonder sebagai tema. Kini, tim kurator ARTJOG telah merumuskan tema tentang ‘kesadaran’ sebagai seri terakhir dari trilogi “Arts in Common”. Dengan mengangkat kesadaran, pameran tahun depan dimaknai sebagai sebuah ajakan kepada semua pihak untuk melakukan refleksi dan merengkuh kesadaran masing-masing tentang apa yang harus dilakukan untuk merespon situasi yang terjadi di sekitar kita.

Penulis : Chelvi, Farid
Editor : Isabella
Fotografer : Parama, Farid

LEAVE A REPLY