Aksi Hari Buruh Internasional: Tuntutan yang Tak Kunjung Dikabulkan

0
466
(bpmfpijar.com/Intan Nisa)

Seruan solidaritas kaum buruh kembali digaungkan dalam momentum Hari Buruh Internasional atau yang biasa disebut dengan May Day. Di bawah langit yang mendung, massa aksi memperingati momentum ini dengan long march dari Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta. Aksi yang diinisiasi oleh Aliansi Rakyat untuk Demokrasi, bukanlah satu-satunya aksi perayaan Hari Buruh di sekitar kawasan Malioboro. Sebab, tak jauh dari Alun-Alun Utara, ada dua aksi lain yang dilaksanakan di saat yang bersamaan, yakni di Titik Nol KM Yogyakarta dan Tugu Jogja, pada Senin (1/5).

Wahid Nasution, Koordinator Umum Aksi, menjelaskan bahwa aksi ini dicetuskan oleh banyak pihak yang dikomandoi oleh Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta (LBH Yogyakarta). Wahid menambahkan bahwa aksi ini merupakan respons atas peringatan Hari Buruh Internasional. 

Dengan membelah kepadatan Jalan Malioboro, lagu Buruh Tani digaungkan para partisipan menemani jalannya aksi. Tak luput disertai protes, tuntutan, dan kritik terkait pemenuhan hak-hak buruh. “Kapitalis, hancurkan! Imperialisme, musnahkan! Elit politik, gulingkan! Rakyat berkuasa!” yel-yel dinyanyikan para peserta aksi.

Bertuliskan “Perkuat Gerakan Rakyat, Lawan Rezim Anti Rakyat, Tolak Perbudakan Modern”, spanduk yang direntangkan ikut memprotes. Tuntutan pembebasan korban penculikan oleh aparat dan rekayasa kasus klitih pun diangkat melalui spanduk lainnya. Orasi-orasi juga beberapa kali dipentaskan di beberapa titik pemberhentian sementara, hingga puncaknya di depan gerbang Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Wahid, yang juga bagian dari LBH Yogyakarta, melihat bahwa banyak dari tuntutan aksi ini tidak lain merupakan tuntutan aksi tahun-tahun sebelumnya yang belum juga dikabulkan oleh pemerintah. Salah satunya, ia menyoroti disahkannya Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) yang bermasalah. “Karena sudah menentang konstitusi hukum yang berlaku di indonesia. Hal ini akan terdampak terutama, pada kawan-kawan buruh, petani, dan kawan-kawan yang dicederai haknya oleh negara.” tutup Wahid, dengan miris.

 

Reporter      : Aghli Maula, Dian Agustini, Annisa Ika R.
Fotografer   : Intan Nisa' Sholikhah

LEAVE A REPLY