(bpmfpijar.com/Pramodana)

Rabu (14/10), penerbit Gramedia Pustaka Utama dan penerbit Kepustakaan Populer Gramedia menyelenggarakan diskusi daring “Penulis Muda, Menggugat Lewat Karya”. Diskusi diselenggarakan sekaligus sebagai peluncuran buku berjudul Sambal dan Ranjang karya Tenni Purwanti, Cerita-cerita Bahagia, Hampir Seluruhnya karya Norman Erikson Pasaribu, dan Buanglah Hajat pada Tempatnya karya Rio Johan. Berlangsungnya diskusi dipandu oleh Teguh Affandi selaku pembawa acara. 

Diskusi ini tidak hanya membicarakan ketiga karya tersebut melainkan juga membahas kondisi sastra Indonesia. Dalam bahasan diskusi, Tenni, Rio, dan Norman membicarakan masalah-masalah yang terdapat di sastra Indonesia sekarang ini.

Sebagai pembuka diskusi, Tenni mengatakan bahwa istilah “sambal” dan “ranjang” merupakan representasi dari dapur dan kasur. Sebagian cerita dalam buku itu, kata Tenni, berasal dari pengalaman hidupnya dalam keluarga patriarkis. Melalui bukunya, Tenni ingin menyampaikan kritik terhadap domestifikasi perempuan yang juga ia rasakan.

Dalam proses kreatif penulisan Sambal dan Ranjang, Tenni menjelaskan bahwa setelah membaca karya-karya Intan Paramadina, ia tertarik dan akhirnya memilih untuk menulis cerita-cerita bertemakan perempuan. Dengan karyanya, Tenni ingin menegaskan keberadaan perempuan pengarang di Indonesia. “Dunia sastra indonesia itu laki banget,” ujarnya. 

Tenni pun mengatakan bahwa ada perkumpulan “paman-paman” di Sastra Indonesia yang memutuskan kelayakan karya sastra Indonesia berdasarkan standar pribadi. Ia bercerita pernah mendapat ejekan terhadap karyanya yang menurut mereka tidak sesuai standar kelayakan.

Pembicaraan dalam diskusi lantas dilanjutkan oleh Norman dengan berkata bahwa saat ini menulis lebih banyak membuatnya sedih. Setelah menerbitkan Sergius Mencari Bachus, ia menghadapi banyak serangan yang tidak ia pahami alasannya. Karena itu, ia merasa bahagia karena bisa menyelesaikan Cerita-cerita Bahagia, Hampir Seluruhnya.

Meski begitu, menurut Teguh, terdapat cerita yang sedih seperti yang berjudul “Namamu Sandra”, namun menurut Norman pada akhirnya itu cerita bahagia. 

“Gua sering mengandaikan dunia itu ada di tenggorokan kita, either lu muntahin atau telen,” ujar Norman, “dan kalau lu memuntahkannya juga kebahagian”.

Cerita-cerita dalam buku barunya, menurut Norman, tidak terstruktur sebagaimana cerpen pada umumnya. Norman memiliki obsesi untuk mencipta ulang cerita-cerita lama ke dalam bukunya. Misalnya, cerpen “Namamu Sandra”, merupakan penciptaan ulang Inferno karya Dante, mengisahkan karakter yang masuk ke neraka di dalam dirinya. “Gua suka merusak apa yang sudah mapan,” ujar Norman.

Karena itu, ketika membahas gatekeeper dalam sastra Indonesia, Norman menitikberatkan pada apa-apa yang ditoleransi oleh dominasi berdasar gender, ras, dan suku. Puisi-puisi queer karyanya, sebagai contoh, tidak ada yang dimuat koran. Ia mengatakan pula bahwa pembacaan atas karyanya menggunakan pendekatan yang heterogaze.

Sebagian besar pembaca Indonesia, menurut Norman, terjebak dalam alam pikirnya sendiri, yang lebih banyak membaca karya penulis laki-laki. Hal ini problematis karena membuat mereka tidak dapat memahami bacaannya. 

Menurut Norman, orang-orang di sastra Indonesia perlu meruntuhkan dominasi itu. “Supaya kita punya dunia sastra yang lebih terbuka dan adil,” ujarnya.

Setelah itu, Rio melanjutkan diskusi dengan menjelaskan karyanya Buanglah Hajat pada Tempatnya. Karya Rio tersebut, merupakan pengembangan dari cerpen “Manusia Mini dan Tinja Sang Esa” yang ia bacakan di Biennale Salihara 2015, bermula dari ide cerita iseng tentang toilet dan tinja.

Novel barunya itu, kata Rio, mengambil bentuk dari The Killer Letters Club karya Sigizmund Krzhizhanovsky. Ia menggunakan bentuk cerita dalam cerita. Tiap cerita yang disampaikan merupakan usaha untuk memikirkan ulang hubungan manusia dengan sampahnya.

Dengan membahas tinja sepanjang empat ratus halaman, Rio menciptakan wajah-wajah yang berbeda bagi tiap tinja. Di satu cerita tinja memiliki nilai positif dan di cerita lain tinja memiliki nilai negatif. Di beberapa bagian, Rio bahkan memberikan suara kepada tinjanya.

Menurut Rio, tinja merupakan bagian dari identitas kultural manusia. Toilet duduk dan toilet jongkok, sebagai contoh, merepresentasikan kebudayaan barat dan timur. 

Rio tidak memilih tema yang jauh dari Indonesia itu sebagai siasat kepenulisan. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki pengalaman dengan kebudayaan dan sejarah Indonesia. Ia juga tidak pernah memikirkan ide untuk menulis bertemakan lokalitas.

Pandangan bahwa menulis mesti mengakar pada suatu kebudayaan, menurut Rio, adalah pandangan yang usang. “Untuk saat ini, aku tidak merasa perlu akar untuk menulis,” ujarnya.

Rio pun merasa bukan bagian yang pas dalam sastra Indonesia. Ia menulis dalam genre fiksi ilmiah spekulasi yang jarang ditemukan dalam sastra Indonesia. Ia juga tidak ambil pusing terhadap pengkategorian sastra atau populer atas karyanya.

Sastra Indonesia, menurut Rio, punya pakem tertentu. “Pakem itu, sayangnya, tidak luas dan tidak banyak orang yang mau memperluas,” jelas Rio.

Meskipun begitu, Rio tidak menuliskan karyanya untuk menggugat pakem yang ada di sastra Indonesia, kebetulan saja tidak sesuai. Akan tetapi, sastra Indonesia, menurutnya, semestinya lebih luas lebih terbuka terhadap ide dan gagasan baru.

(Pramodana/Isabella)

LEAVE A REPLY