(bpmfpijar.com/Aria Gara)

Di Indonesia, orang banyak mengisi hari kemerdekaan dengan kegiatan-kegiatan yang menguras keringat mulai dari perlombaan permainan tradisional sampai dekor kampung. Beberapa di antarannya adalah panjat pinang, tarik tambang, dan balap karung. JJ Rizal, sejarawan, menyatakan bahwa perayaan ini mulai sejak ulang tahun kelima negara ini.

Namun, perlombaan semacam itu sebetulnya sudah ada sejak negara ini masih dalam jajahan. Kompeni Belanda senang menghibur diri mereka dengan menyaksikan rakyat jajahannya kesusahan dalam permainan itu. Hiburan yang murah meriah ini tetap dipertahankan sebab rakyat pun menyukai.

Kini, kita mengidentikkan kemerdekaan dengan perlombaan tersebut. Agustusan tentu saja menggairahkan banyak orang, sebab permainan yang ada dan perputaran roda ekonominya. Fenomena yang muncul bersamanya adalah pekerjaan temporer, seperti penjual bendera, panitia acara, dan atlet panjat pinang. Mereka, saya kira, adalah yang paling dekat dengan agustusan. Dan, sebab itu, saya tertarik untuk mengetahui makna kemerdekaan bagi mereka.

Pada mulanya, saya menemui Ibu Tutik. Ibu beranak dua ini berdagang apa saja yang berbau kemerdekaan setiap agustusan sepuluh tahun terakhir ini. Salah dua dagangannya adalah miniatur Bung Karno dan bendera. Dua barang terbanyak di lapaknya, yang terlaris dari sedikit yang terjual.

Ibu Tutik berdagang di trotoar depan rumah milik pejabat tinggi di jalan Sudirman, Medan. Ia meminta saya melihat bendera-bendera yang ada di rumah besar itu sebelum menyatakan bahwa tidak ada yang berasal dari dagangannya. “Kalau rumah sebegini besar benderanya dari aku semua, Dek,” ujarnya diselingi tawa, “sudah gak di sini aku jualan sudah kubeli ruko di pasar Ramai itu”.

Dan selama pandemi ini, Ibu Tutik mengakui penghasilannya merosot jauh dibanding tahun lalu. Ia tahu salah satu penyebabnya adalah kenyataan bahwa masker, untuk saat ini, lebih banyak dicari dibanding bendera. “Ya kubuat aja lah masker merah putih biar senang si bodat-bodat itu,” ujarnya.

Makin lama bincang-bincang kami semakin hangat saja. Ibu Tutik menceritakan kesesalannya kepada pemerintah yang dia anggap gagal menghadapi pandemi ini. Ibu Tutik menceritakan kesesalannya kepada pemerintah yang dia anggap gagal menghadapin pandemi ini. Ia menyesali pemerintah yang hanya sibuk menahan penyebaran virus dengan segala protokol yang ada sampai-sampai lupa kalau ada lapar yang tertahankan jika terus berdiam diri di rumah. Pemerintah, menurutnya, terkesan acuh tak acuh pada rakyatnya. Belum lagi kesimpangsiuran informasi dari pemerintah justru membuat masyarakat dari kalangannya geram bukan kepalang.

Ibu Tutik pun menawarkan solusi secara cuma-cuma. Orang Medan, menurutnya, bisa terus diam di rumah jika pemerintah memberi bantuan langsung tunai, seminimal mungkin uang makan. Ia lantas menambahkan bahwa “Jangankan keluar rumah, Dek, keluar kamar pun kami gak akan mau”.

Ya, bencana ini sudah hampir 4 bulan tapi tidak ada langkah yang efektif yang diambil pemerintah, terutama untuk urusan perut yang sifatnya fundamental. Hasil survei Pusat Kajian Pembangunan dan Pengelolaan Konflik Universitas Airlangga menyebutkan bahwa distribusi bantuan sosial pemerintah mendapat skor rendah. Alih-alih tepat sasaran fakta di lapangan malah membuktikan kalau pemerintah terkesan asal-asalan. Bantuan sosial pemerintah bahkan tidak melewati survei tentang siapa yang pantas mendapatkannya dan tidak punya syarat tertentu. Semua lapisan masyarakat boleh mendapatkannya entah si kaya atau si miskin. Seolah-olah adil. Namun, pada akhirnya, ya, tidak semuanya bisa dapat.

Padahal seharusnya sudah tanggung jawab negara dalam mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyatnya dan mengusahakan untuk memberdayakan masyarakat yang lemah dan kurang mampu seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Pasal 34 ayat 2.

Padahal seharusnya sudah tanggung jawab negara dalam mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyatnya dan mengusahakan untuk memberdayakan masyarakat yang lemah dan kurang mampu seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Pasal 34 ayat 2.

Namun, ia pun mengatakan bahwa tidak ada yang bisa disalahkan dan tidak ada juga yang mau disalahkan. “Kau mau rupanya kusalahkan karena banyak kali tanyakmu, Dek” ujarnya. “Ya enggak lah, Buk,” jawabku santai.

Di akhir bincang-bincang kami, saya mengajukan pertanyaan klise soal makna kemerdekaan kepadanya. “Gak ada itu, Dek. Kosong itu semua,” jawabnya singkat, padat, dan jelas. Jawabannya memuaskan saya.

Kemerdekaan, menurutnya, tidak ada yang absolut. Yang ada hanya penjajahan dalam bentuk baru dan akan terus begitu. Di jalan dijajah Satpol PP, di rumah dijajah anak, sementara di ranjang dijajah suami sendiri.

Ibu Tutik memang humoris. Bagaimana tidak, ia mengenalkan diri dengan nama “Titi DJ”. Ketika saya meragukan itu, ia malah memarahi saya yang begitu mudah percaya sebelum mengenalkan namanya dengan benar.

Sebelum meninggalkan lapaknya, saya sempatkan membeli dua buah bendera kecil. Sedikit kesal, ia memprotes, “nanyak kau banyak, yang kau belik masa cuma dua”. Lalu, saya langsung menambah tiga bendera kecil ke dalam kantong kresek untuk mencegah terjadinya keributan di antara kami.

Setelah itu, saya menemui Dodi, yang akrab dipanggil Bang Dod. Pria 38 tahun ini sudah hampir satu dekade menjadi penggiat Agustusan. Ia pernah menjadi panitia, peserta, penonton, bahkan tukang palak hadiah. 

Bang Dod pada mulanya sangat membenci acara tujuhbelasan. Upacara bendera, menurutnya, adalah kegiatan yang paling bijak untuk merayakan kemerdekaan. Dan kegiatan selain itu hanyalah euforia tanpa arti.

Di tahun 2011, keyakinan itu berubah. Bang Dod merasakan bahwa agustusan memiliki banyak makna, mulai dari bagaimana setiap gang yang biasanya tawuran lebih memilih untuk bersaing sehat di tujuhbelas Agustus sampai ibu-ibu yang biasanya berkumpul dan menggosipkan satu sama lain malah bersatu untuk mendukung suaminya yang ikut tarik tambang. 

Lama-lama bincang-bincang kami sudah sepanas Indomie yang kami seruput pelan-pelan. Terutama saat dia sempat terbawa emosi saat menceritakan anak-anak muda di daerahnya lebih senang mengisi tanggal merah hari kemerdekaan dengan tidur-tiduran di kamar daripada mengurusi tujuh belasan di kampungnya. “Anak-anak lajang yang buat nonton lomba aja susah itu lah, Dek, yang nanti pas meninggal gak ada yang datang,” ujarnya tegas dan menohok.

“Anak-anak lajang yang buat nonton lomba aja susah itu lah, Dek, yang nanti pas meninggal gak ada yang datang,” ujarnya tegas.

Akan tetapi, Bang Dod tidak sepenuhnya melimpahkan kesalahan itu pada yang muda. Ia juga sangat menyesali ketika orang-orang tua tidak mau menggerakkan anaknya untuk turun langsung di acara agustusan. 

Lalu bagaimana perhelatan agustusan di masa pandemi seperti ini? Dan apa langkah yang diambil agar tujuh belasan kali ini lebih bermakna dari agustusan-agustusan sebelumnya? Bang Dod lebih memilih pasrah saja.

Kini, keselamatan setiap orang, menurutnya, lebih penting daripada segalanya. Apalagi sudah dua kali orang dari kelurahan mendatanginya untuk mewanti-wanti agar tahun ini pagelaran lomba ditiadakan dahulu.

Pandemi ini, saya kira, adalah pelatuk tak kasat mata yang menembakkan peluru keraguan. Kita, jangan-jangan, memang tidak perlu lagi merayakan kemerdekaan dan pandemi ini telah membantu kita menyadari itu. Emma Goldman mungkin benar bahwa kewenangan, pemaksaan dan segala ketergantungan ada di dalam mereka, yang bergantung pada negara. Di sana, tak pernah bersemayam kebebasan dan dari mereka tak pernah lahir masyarakat yang bebas pula.

Sayang sekali cuaca tidak mendukung bincang-bincang kami berlanjut. Saya terpaksa menyudahinya dengan pertanyaan penutup yang saya tanyakan pula ke Ibu Tutik, “jadi, Bang, apalah arti kemerdekaan buat abang?”.

“Kalau ditanya arti bingung juga aku. Tapi kek manapun arti merdeka itu, bagi aku sikap kita untuk saling menjaga keharmonisan dan kedamaian itu yang paling penting untuk menjaga kemerdekaan itu, Dek,” jawabnya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              

Mencari makna kemerdekaan di masa kini di tengah kondisi serba sulit seperti ini hanya membuat geram. Mereka yang paling dekat dengan agustusan pun geram. Di sini, Seribu cocoklogi Foucault wargaring (warga daring) Twitter pun tidak akan mampu mendeskripsikan agustusan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Semua itu akan sia-sia dan hanya membuang-buang waktu saja. 

Hal itu, saya kira karena kemerdekaan sudah jauh dari mereka. Ya, Bu Tutik karena bendera dagangannya tidak segera berkibar di rumah pembeli dan Bang Dod karena tidak lagi menemukan kegotong-royongan pada yang muda.

Dari mereka berdua, saya belajar kalau agustusan bukan hanya tentang panjat pinang, tarik tambang atau lomba makan kerupuk apem saja. Agustusan bukan hanya pesta pora. Bang Dod mengajari saya soal persatuan yang semakin merekat dalam agustusan. Bu Tutik yang tidak suka ditanya-tanyai hanya menginginkan anak-anaknya dan ia sendiri bisa terus makan setiap harinya.

Saya kira tidak lagi perlu memikirkan makna kemerdekaan. Bukan, bukan karena makna, mengutip Pangalo, hanya kentut filosof. Namun, sebab jelas bahwa bendera adalah benang yang merajut penghasilan dan pesta pora kemerdekaan adalah solidaritas bersama, kawan bantu kawan, di republik ini.

Lalu, apa yang Anda harapkan dari Agustus kali ini? Memilih jatuh cinta dengan bermodal di rumah saja? Atau melewati segala kekacauan dengan lagu-lagunya Dewa? Kalau saya remeh saja, semoga Agustus kali ini tidak ada yang kelewat bodoh, terinfeksi virus di minggu ketiga demi merayakan kemerdekaan.   

(Dimas/Pramodana/Fadil)

LEAVE A REPLY