Apakah hanya ini jalan yang benar untuk memuliakan Allah? Sebuah pertanyaan yang terbesit dalam benak saya bertahun-tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk meminati bidang keagamaan Katolik. Ya, dulu saya ingin sekali menjadi pastor. Kemurnian jiwa raga seorang manusia diuji untuk menjadi penyambung lidah Kristus; tangan kanannya untuk menyampaikan sabda-sabda, menebar kebaikan, menjadi garam di lautan. Sampai akhirnya pada Kamis, 11 April 2019 kemarin, saya menonton Ave Maryam di bioskop.

Sebagaimana seorang penganut Katolik Roma, saya tahu plot dan kisahnya, ini bukan hal yang baru bagi kami. “Aku tahu perasaan kamu, dilema memilih kaul atau mengejar sesuatu hal yang tak kasat mata.” Kutipan film ini bagi saya adalah dilema bagi banyak umat Katolik. Pengalamannya menjadi selibat, atau, memilih tenggelam dalam keduniawiannya dan menduakan Kristus.

Kisah Maryam dalam film yang disutradarai Robby Ertanto ini bak kisah “kemarin sore”, hanya remah-remah Biskuit Monde dalam agenda ngopi sore-sore. Film ini semacam obrolan yang tak berujung, merambat ke mana-mana, dan entah kenapa, selalu menghilang tertiup angin begitu saja. Saya tidak akan cerita lebih lanjut perihal kasus-kasus tersebut, karena saya hanya ingin menunjukkan bahwa ini sudah biasa dan sebagaimana koreng,  tak perlu kita menggaruknya sampai berdarah.

Sudah jatuh dan tertimpa tangga, sudah melanggar kaul lalu dalam hubungan yang tidak ‘mulia dan layak’ pula. Hal tersebut memukul Maryam lebih jauh dan memberikan efek gelombang yang keras pula untuk Romo Yosef. Maryam adalah seorang biarawati yang berhubungan dengan seorang pastor. Mereka sudah memilih untuk disiplin dalam perasaan dan mengabdi selama sisanya hidupnya kepada Kristus, tetapi mereka juga dua pengabdi Kristus yang berhasil mengotori dirinya sendiri. Pelanggaran kaul bagi kedua insan ini tidak akan pernah bisa tergambarkan dalam kisah roman picisan a la FTV, seperti apa-apa yang kebetulan disorot dalam tulisan teman seangkatan saya di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada,  Muhammad Nur Alam Tejo. Pertama, karena jalur cerita yang secara cukup mendalam mengeksplorasi tabu, dan kedua, karena adanya pergolakan batin dalam diri kedua tokoh utama film tersebut.

Dalam setiap tayangan FTV mana pun, terdapat sebuah pola. Umumnya tentang pertemuan sepasang muda-mudi yang ceria, lalu saling membenci. Entah keajaiban Tuhan atau maunya si sutradara, akhirnya mereka berdua jatuh cinta. Pola ini berawal dari penolakan terhadap rasa cinta salah satu tokoh terhadap tokoh lain yang ia benci.

Dalam film Ave Maryam, pusat persoalan adalah asmara terlarang Maryam dengan Yosef. Sebagian adegan mengisahkan Maryam yang seloyongan malam hari dan sembunyi-sembunyi untuk bertemu Pastor Yosef. Sebagian lagi mengisahkan Yosef yang kian romantik terhadap Maryam. Dilema Maryam adalah untuk meninggalkan kaulnya lalu menikahi Pastor Yosef, atau tetap mengabdi pada Kristus dalam pelayanan biara. Pergolakan diri untuk tetap bertahan dalam tugas gereja ketika dosa berat datang menimpa. Kalau kata Om Vicky sebuah “kontroversi hati”. Persoalan sedalam ini tidak pernah muncul di kisah-kisah FTV yang terbatasi durasi tayang, tuntutan target pasar, dan pariwara yang lalu-lalang.

Manusia bisa saja bimbang dan menyangkal perasaan cinta atas sesamanya. Akan tetapi, mengingkari janji dalam dimensi vertikal manusia-Tuhan yang sudah tertanam secara disiplin diri, Maryam tidak sedang menghadapi persoalan yang klise. Atas apa yang Maryam lakukan bersama Pastor Yosef, Maryam secara sadar memiliki risiko besar kehilangan statusnya sebagai seorang suster. Tidak hanya itu, dia bahkan bisa dianggap melecehkan kaul yang ia ucapkan sendiri. Peliknya permasalahan ini juga menghantui Pastor Yosef. Baginya, ia dan Maryam sedang menyangkal kaul. Mereka tidak sedang berdamai dengan dirinya sendiri, mereka sedang melanggar aturan pengabdian mereka. Di tengah pergolakan luar biasa, Maryam juga mencoba bertobat. Dalam proses tobatnya, Maryam mengakui dosanya di hadapan Yosef yang membuatnya jatuh cinta tapi tak bisa ia miliki, mungkin untuk selamanya. Maryam jelas sudah jatuh lalu tertimpa tangga, sekalian pula tertimpa genteng. Mungkin kisah yang begini peliknya belum tentu akan menjadi sasaran utama pembuatan kejar tayang FTV. Siang bolong pula.

Sejalan dengan itu, di dalam gereja, manusia dan seksualitas sendiri adalah dua hal yang tak terpisahkan. Keduanya adalah hal yang suci (Katekismus Gereja Katolik2331–2400). Menurut Kejadian 1:31, apa pun yang ada dalam diri manusia itu baik adanya. Secara tidak langsung, tubuh manusia dan seks itu adalah hal yang bersifat baik; toh, seksualitas bukan melulu tentang naluri ‘kebinatangan’. Bukankah Aristoteles pernah menyebutkan tentang animal rationale? Jika kita pahami secara gamblang, animal berarti ‘binatang’, maka rationale adalah rasio atau pikiran. Jadi, tanpa rasio pun manusia hanyalah sebatas animal atau binatang. Dan, dengan rationale-lah manusia menjadi binatang yang baik. Lebih jauh lagi, iman menjadikan manusia binatang yang benar.

Kembali ke film Ave Maryam, terlepas dari apa pun yang mereka lakukan, ketika berada di pantai—karena yang jelas mereka tidak bermain catur—mungkin mereka sepakat bahwa kegiatan seksual adalah hal yang tabu. Dalam tradisi Katolik, cinta suami-istri adalah ekspresi cinta yang paling luhur sebagaimana tertulis dalam ensiklik Humanane Vitae (Kehidupan Manusia)–sebuah ensiklik yang ditulis oleh Paus Paulus VI dan diumumkan secara resmi pada 25 Juli 1968.

Ensiklik bertema “Mengenai Aturan Kelahiran Manusia” ini menegaskan kembali ajaran tradisional Gereja Katolik Roma mengenai aborsi, kontrasepsi, dan masalah-masalah lainnya yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Dalam ensiklik Humanane Vitae nomor 10 disebutkan bahwa, “Aktivitas seksual, yang di dalamnya suami-istri secara intim dan murni saling bersatu, dan yang melaluinya hidup manusia diturunkan, adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Konsili terakhir: mulia dan layak.”

Masalahnya, mereka ternyata bukan bermain catur di sana, dan benar-benar berhubungan suami-istri. Meski secara eksplisit tidak ditampilkan, imajinasi penonton mungkin akan dituntun ke situ. Tapi, sumpah, saya enggak berani melihatnya, biar bagaimanapun, bagian itu tak bisa terlepas dari kompleksitas film ini.

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, hubungan Pastor Yosef dan Maryam tidak memiliki hubungan “mulia dan layak”. Hal ini dibuktikan oleh Humanane Vitae nomor 10, bahwa aktivitas seksual adalah milik suami-istri, dan pelanggaran aturan inilah yang menyebabkan Maryam sangat terpukul sekali. 30 tahun setelah ensiklik tersebut diterbitkan oleh Vatikan, Maryam berani melanggarnya. Pelanggaran terhadap ensiklik itu dilakukan karena seolah-olah mereka berdua sudah “mulia dan layak”, seolah-olah sudah menikah, seolah-olah bisa menikah. Tak hanya itu, mereka juga menodai kaul yang sudah mereka ucapkan sendiri. Tentang kesucian diri.

Pelanggaran-pelanggaran semacam inilah yang menjadi koreng-koreng. Membohongi diri serta melakukan dusta atas kaul yang seharusnya menjadi tanggung jawab si pengucap. Manusia masih makhluk bernafsu dan tentu saja pengendalian diri yang ekstrim pun terkadang masih bisa lepas. Dorongan-dorongan natural seperti inilah yang perlu disoroti melalui sebuah kebijakan, misalnya. Perlu juga rasanya ada pertimbangan-pertimbangan yang lebih “bijak” dalam hal ini.

Vatikan, koordinator agama terbesar di dunia, sekarang sedang mencoba untuk mengembalikan Viri Probati. Viri Probati sendiri memiliki arti harafiah ‘ditunjuk’. Viri Probati adalah sebuah kebijakan untuk seorang pria menikah yang ditunjuk untuk menjadi pastor dengan tugas-tugas khusus. Terlepas dari dorongan seksual yang sangat biologis dan ketidakmungkinkan untuk mengebiri para pastor–terlebih apabila pastor yang beristri–setidaknya dia memiliki pendamping setia dalam melayani umat serta mengurus gereja. Viri probati adalah harapan terakhir supaya kasus-kasus dilematis yang dialami Maryam dan Yosef dalam film itu tidak terjadi. Ini akan menjadi sebuah keputusan besar yang akan mengubah paradigma Gereja Katolik: mengatur ulang semua susunan kata yang bersinggungan dengan ‘kemurnian’ di dalam gereja. Viri Probati adalah solusi untuk permasalahan-permasalahan yang menjadi penyebab dilema Maryam seta hadirnya generasi baru pastor-pastor milenial yang tak ingin hidup sendiri sampai menutup mata untuk mengabdi kepada gereja.

Ave Maryam mungkin hadir sebagai sebuah kisah klasik untuk umat Katolik. Di samping itu, Ave Maryam juga hadir sebagai pengingat bahwasanya ada juga agama yang menyimpan berbagai macam cerita “klise” di dalam tubuhnya. Sejatinya, seorang pemuka agama adalah seorang manusia yang tidak bisa dikekang hawa nafsunya. Bahkan pendisiplinan yang mumpuni pun masih memberikan celah terhadap rangsangan-rangsangan biologis untuk mengambil alih tubuh dan kesadaran. Toh, kata tante Meryl Streep “I have a theory that movies operate on the level of dreams, where you dream yourself”.

Maryam tak bisa menutupi basah pipinya di dalam teduhnya. Dia harus melebur bersama hujan. Tiada kemarau untuk Maryam, dia kehujanan karena basah pipinya.

LEAVE A REPLY