Poster Film Ave Maryam (https://pin.it/f7h25uztcpbnj2)

Saya membawa segudang ekspektasi ketika menonton film besutan Robby Ertanto ini. Film yang dibintangi oleh aktor papan atas Maudy Koesnaedi (Maryam) dan Chicco Jericho (Yosef) memuat banyak sekali beban berat di dalamnya. Bisa dibilang ini adalah semacam risalah kenabian yang dikemas dalam bentuk medium film. Pasalnya banyak sekali petuah moral yang ditampilkan di dalam dialog baik antar tokoh utama dengan pemeran pendukung, atau pesan yang secara implisit terpapar lewat simbol-simbol. Narasi besar kerukunan beragama, konflik batin pencarian Tuhan dalam frame besar Kristen Katolik, sampai gejolak asmara percintaan seorang pastor dengan biarawati adalah sederet permasalahan yang coba dikemukakan di dalam film. Beban berat itu dirangkum pula secara apik lewat sinematografi yang membuat Semarang tahun 1998 terasa begitu hidup dan puitik.

Sayang beribu sayang, film ini bukanlah tanpa celah. Banyak bolong-bolong minor yang menganggu kualitas film ini secara keseluruhan. Dalam review singkat ini saya akan mencoba untuk memaparkan tafsiran film Ave Maryam ke dalam Estetika Plotinos. Tafsiran tersebut saya rangkai sedemikian rupa untuk mendukung argumen bahwa film ini tak lebih dari sekadar film yang berusaha menyampaikan apa Yang-Indah sebagai konsep tertinggi itu identik dengan Yang-Baik.

Terlalu Banyak Deus Ex Machina

Kebetulan sekali saya mahasiswa filsafat, dan secara kebetulan pula, saya mengalami pergulatan batin yang sama dengan Biarawati Maryam dan Pastor Yosef. Perbedaannya adalah saya bukan seorang Nasrani dan bukan pula tokoh penting di dalam suatu agama. Saya hanya mahasiswa filsafat biasa yang tertarik dengan pusparagam pencarian seseorang atas apapun, termasuk pegulatan religius seseorang. Film ini pada awalnya mampu untuk mengusik rasa penasaran saya. Dengan judul yang sangat provokatif, poster yang ciamik, dan trailer film yang jempolan saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa film ini adalah film yang akan memberikan warna baru bagi dunia perfilman Indonesia kedepannya.

Dalam dunia Islam kita mengenal nama Maryam sebagai salah satu nama surat di Al-quran. Ia merupakan sosok perawan suci dan juga ibu dari seorang Rasul, Isa A.S. Sementara, di dalam Kristen, sosok Maryam lebih dikenal sebagai Bunda Maria. Kedua Agama Samawi tersebut sama-sama menganggap Maryam adalah merupakan sosok mulia yang patut dijadikan suri tauladan. Kemudian pun, ada sebuah lagu yang indah berjudul Ave Maria diciptakan dan dinyanyikan khusus untuk mengenang tokoh kanon perempuan suci tersebut. Silang sengkarut perpaduan tersebut tidak bisa dipungkiri membuat judul film Ave Maryam menjadi begitu kuat dan mengusik kenyamanan siapapun yang membacanya.

Alkisah seorang biarawati bernama Maryam dibesarkan dalam keluarga Islam, Namun entah mengapa ia memilih untuk mengurus biara yang berisi biarawati-biarawati tua di Ambarawa. Kehidupan Maryam betul-betul biasa saja; ia memandikan biarawati tua, mengurus pekerjaan rumah tangga di biara, dan pergi ke gereja untuk doa bersama. Tapi kebiasaan mulai terusik ketika datang seorang pastor baru yang bernama Yosef. Sejak Pastor Yosef datang hari-harinya mulai terasa berwarna. Maryam pun mulai sering pergi malam dan abai dengan tugas-tugasnya. Singkat cerita, Maryam dan Yosef menjalin hubungan asmara. Setelah itu Maryam pun dilanda kebimbangan: menjaga sumpah biarawatinya mengabdi pada Tuhan atau mengejar kebahagian pribadi. Sampai di sini, menurut saya, ceritanya sangat klise.

Menurut saya percintaan seorang pastor dengan biarawati adalah kisah klise di dunia ini. Kisah cinta yang klise ini hanya tidak pernah difilmkan, khususnya di Indonesia. Melihat celah ini, Robby Ertanto sepertinya ikut menggarami kondisi masyarakat Indonesia yang akhir-akhir ini gampang terbakar amarah karena perbedaan agama. Anjuran-anjuran moralis bahwa masyarakat harus toleran adalah elan yang menggerakkan film ini. Dilema batin yang dialami oleh Maryam pun terkesan seadanya saja. Maryam tak betul-betul bimbang sampai-sampai ia hilang arah. Bisa dikatatakan, ia belum betul-betul tenggelam dalam konflik batin tersebut. Lagi pula Pastor Yosef di sini digambarkan layaknya seorang setan penganggu. Kegigihannya meruntuhkan iman Maryam patut diacungi jempol. Nyaris setiap hari ia mengajak Maryam pergi keluar untuk kencan dan hasilnya jarang sekali gagal. Entah karena memang ketampanan atau keromantisan Pastor Yosef yang membuat Maryam luluh, tapi poin saya adalah terlalu banyak kebetulan yang melingkupi usaha Pastor Yosef meluluhkan hati Maryam.

Setidaknya ada beberapa “kebetulan janggal” yang membuat film Ave Maryam menjadi terkesan sangat serampangan dalam memperhatikan detail-detail kecil. Saya mencatat ada empat hal minor yang mengusik benak saya. Pertama, adegan ketika Pastor Yosef dan Maryam pergi dinner di restoran mewah yang secara kebetulan memutar sebuah film. Pastor Yosef dan Maryam tidak berdialog sama sekali saat dinner romantis, dialog mereka diwakili oleh sebuah percakapan antara seorang perempuan dan laki-laki di dalam film yang diputar di restoran. Kesan dipaksakan sangat kentara sekali di sini, seolah-olah ada “deus ex machina” yang bekerja dalam perjalanan asmara mereka. Kisah jatuh cinta keduanya yang tidak dikondisikan secara apik membuat film ini semacam kisah backstreet ala FTV. Bedanya film ini menggunakan konteks budaya agama Kristen Katolik sebagai faktor utama perintang kisah cinta mereka, sementara roman picisan-backstreet FTV, ketidaksetujuan orang tua akibat perbedaan kelas sosial atawa dendam lama antar keluarga merupakan hambatan utamanya.

Hal janggal kedua adalah, suspensi mobil macam apa yang membuat kue ulang tahun yang dibawa Pastor Yosef di bagian belakang mobil tetap utuh setelah mengalami perjalanan jauh dari Ambarawa ke pantai? Setahu saya, mobil keluaran tahun 80-90-an suspensinya masih sangat kasar dan sangat memungkinkan untuk membuat kue ulang tahun itu hancur sebelum sampai di pantai—lagi pula kue tar itu tanpa bungkus atau wadah apapun yang dapat melindunginya dari goncangan. Lalu ketiga, apakah masuk akal ketika di pantai menyalakan lilin di atas kue ulang tahun tanpa membuat lilin itu tertiup angin? Pikiran waras saya mengatakan hal itu tidak mungkin terjadi.

Keempat, apakah secara kebetulan pula Maryam melakukan sakramen tobat dan Pastor Yosef yang berada di dalam bilik pengakuan dosa mendengarkan pertobatan Maryam? Apakah Maryam selugu itu bahwa ia tidak tahu siapa orang di dalam bilik pengakuan dosa itu? Lagi-lagi kebetulan-kebetulan yang tidak masuk akal menyeruak. Anda pasti menggerutu, “ah namanya juga film mas” nah karena ini film yang serius dan bukan film ekperimental atau pun film superhero makanya saya agak resek cum bawel dengan kejadian macam itu. Toh, saya jadi berpikir ulang, jangan-jangan sutradara film ini terbebani dengan pesan yang besar sehingga ia menjadi abai dengan perkara-perkara tersebut. Okelah jika Robby Ertanto berlindung di balik produksi syuting yang hanya memakan waktu sembilan hari.[1] Tapi, lagi-lagi itu membuktikan bahwasanya proses yang terburu-buru membuat hasil akhir film menjadi tidak terlalu optimal.

Di antara “kebetulan janggal” itu pesan-pesan yang coba disampaikan oleh film Ave Maryam memiliki kesesuaian dengan apa yang diajarkan Plotinos lewat konsep hierarki keindahan. Di dalam ajaran estetikanya Plotinos berusaha menyamakan apa Yang-Indah (estetika) dengan apa Yang-Baik (etika). Film Ave Maryam juga punya nafas yang sama, pergolakan cinta, hasrat duniawi harus begeser ketepian. Maryam dan Pastor Yosef harus segera bertobat dan membersihkan diri dari hasrat badani.

Hegemoni Yang Sakral Terhadap Yang Profan

Plotinos dalam karyanya Enneades menjelaskan bahwa Nous adalah pemikiran yang memikirkan dirinya sendiri (O’Meara, 2010: 309). Ia adalah prinsip transenden atau terpisah dari semesta fisik sekaligus menjadi dasar pembentuk semesta. Sebagai subjek yang memikirkan, ia adalah Akal Budi, tetapi sebagai objek yang dipikirkan, ia adalah Bentuk. Inilah bentuk yang sempurna, sesuatu yang menjadi model dari bentuk-bentuk tak sempurna yang ada di semesta fisik. Karena Nous merupakan Akal Budi “yang memikirkan” sekaligus Bentuk “yang dipikirkan”, maka terdapat dualitas yang perlu diatasi. Plotinos mempersatukan dualitas tersebut dengan keberadaan Yang-Satu (To Hen) sebagai kesatuan primordial antara dua aspek Nous: sebagai momen saat belum ada distingsi antara ia yang memikirkan dan ia yang dipikirkan (O’Meara, 2010: 309).

Yang-Satu sebagai hal-ihwal sejati atas semua keindahan dalam semesta fisik. Inilah yang disebut sebagai Keindahan tertinggi (proton kallon). Ia pada dirinya tak memiliki bentuk apa-apa (aneidon). Plotinos juga mengartikan Yang-Satu tidak hanya sebagai Yang-Indah, tetapi juga sebagai Yang-Baik (To Agathon) (Enneads, I.6.6.25-27). Di sinilah dijangkarkan pandangan Plotinos tentang keindahan. Oleh karena itu, upaya para seniman untuk mencapai keindahan paripurna setali tiga uang dengan upaya untuk mencapai kebaikan paripurna. Laku estetis pada dasarnya adalah laku etis.

Plotinos memaparkan perjalanan dari keburukan ke keindahan melalui perumpamaan tentang orang yang terjatuh ke dalam lumpur. Orang yang berkubang di dalam lumpur menjadi buruk karena ada elemen-elemen asing yang melekat pada dirinya, yakni lumpur. Agar kembali menjadi indah, ia mesti kembali pada kemurnian dirinya sebelum tercemar oleh elemen-elemen asing (Enneads, I.6.6.43-48). Demikian pula jiwa manusia, ia menjadi buruk karena tercemar oleh elemen-elemen ragawi, oleh hasrat dan ketergantungan pada dunia material. Agar mencapai keindahan, ia harus memurnikan diri melalui disiplin moral, membebaskan diri dari hasrat badani Enneads, I.6.6.54-59). Hanya dengan cara itulah ia dapat kembali menjadi indah dan dapat kembali pada Yang-Satu, yang sekaligus juga Indah dan Baik.

Dalam dualitas itulah nantinya film Ave Maryam berusaha mengarahkan kita pada apa yang indah harus tetap mengikuti apa yang telah digariskan oleh Tuhan. Sebab, Tuhan adalah penyebab segala sesuatu dan manusia tak punya jalan lain selain tunduk pada apa yang telah dititahkannya. Segala hal yang berkaitan dengan sesuatu yang tinggi, agung, berkuasa, dan dihormati disebut sebagai sesuatu yang sakral. Sementara apa yang bersifat biasa saja dalam keseharin disebut sesuatu yang profan.[2] Keimanan kepada Tuhan adalah sesatu yang sakral, luar biasa, amat penting, dan tak mudah dilupakan. Sedangkan cinta Maryam dan Pastor Yosef adalah sesuatu yang biasa dan tidak terlalu penting. Hegemoni atas yang sakral itulah yang menyebabkan Maryam harus bertobat atas dosa-dosanya.

Tekanan yang dihadapi oleh Maryam dan Pastor Yosef berasal dari Suster Monica (Tutie Kirana). Meskipun teguran tidak disampaikan dengan kata-kata yang kasar, tapi sangat jelas sekali sikap Suster Monica yang menentang hubungan antara Maryam dan Pastor Yosef. Entah melalui pecakapan antara Suster Monica dengan Pastor Yosef atau Suster Monica dengan Maryam ketidaksetujuan yang ditampakkan dalam dialognya cukup jelas. Misalnya saja ketika Suster Monica mengatakan “meskipun surga belum pasti untukku, mengapa pula aku harus memikirkan nerakamu” kepada Maryam. Dari pemilihan diksi itu saja sudah jelas bahwa Suster Monica berusaha untuk toleran, tapi secara implisit ia tetap tidak sepakat dengan hubungan yang dijalin Maryam dan Pastor Yosef.

Horison ruang hidup Maryam dan Pastor Yosef pun mengkondisikan pandangan bahwa Tuhan adalah segala sumber kebaikan. Mereka hidup di dalam lingkup tradisi Kristen Katolik dan setiap hari doktrin-doktrin gereja tertanam di dalam benak mereka. Satu-satunya clue yang diberikan Robby Ertanto dalam film ini adalah Maryam suka membaca buku-buku. Ia mengetahui dunia luar berdasarkan buku-buku yang ia baca. Mungkin saja Maryam digerakkan oleh hasrat melakukan hal-hal “liar” yang telah dibacanya di buku. Pertentangan antara lingkup sosial tradisi Kristen Katolik (sakral) dengan pengalaman cinta individu perempuan perawan diusianya yang menginjak 40 tahun (profan). Sampai titik ini saya berkesimpulan bahwa apa yang ingin disampaikan oleh film Ave Maryam adalah ikutilah apa yang digariskan oleh Tuhan, tinggalkanlah hasrat keduniawian yang sesaat karena itu dapat menjauhkanmu dari Yang-Satu, sumber segala Keindahan dan Kebaikan.

Ave Maryam seperti yang saya katakan di awal syarat akan narasi besar tapi gagal membingkai teknis penceritaan. Seperti apa yang dikatakan Francois Truffaut bahwa film yang sukses adalah film yang dapat mengekspresikan ide tentang dunia dan sinema secara bersamaan.[3] Toh sinema di dalam rahimnya juga mengandung sebuah janji kenikmatan yang berbanding terbalik dengan arus kehidupan. Truffaut melihat sinema yang bergerak vertikal ke atas menuju keabadian, sementara kehidupan menurun menuju kematian. Tidak seperti jurnalisme, sinema beroperasi melalui ilusi di mata penontonnya. Bukan berarti sinema bertujuan untuk membohongi, tapi ia berusaha membuat penonton mengakui kenyataan-kenyataan yang terkandung dalam sajiannya. Sederhananya, tujuan sinema adalah meyakinkan penonton atas kegilaan yang terkandung di dalamnya. Sayangnya sebagai penonton waras, saya masih dapat menyadari bahwa terlalu banyak kebetulan janggal di dalam film Ave Maryam.

Memang tidak ada yang salah dengan narasi besar toleransi, patuh terhadap perintah Tuhan dengan teguh menjaga keimanan. Tapi perkara remeh-temeh teknis penceritaan juga perlu dikawal sama baiknya agar tidak terjadi ketimpangan antara bobot intrinsik dengan ekstrinsik film. Sebagai penutup, saya melihat film Ave Maryam layaknya seseorang yang mencari hujan di musim kemarau. Ia berusaha merengkuh yang ideal nan jauh di sana dengan pelbagai kebetulannya, tapi ia lupa bahwa musim kemarau memaksa hujan enggan turun membasahi tubuhnya.

Catatan Akhir:

[1] Dalam proses tanya-jawab yang diadakan oleh Jogja Asian Film Festival selepas penayangan film Ave Maryam di Empire XXI Yogyakarta (30 September 2018) Robby Ertanto mengaku bahwa film Ave Maryam hanya memakan waktu syuting sembilan hari.

[2] Distingsi antara Yang Sakral dengan Yang Profan dijelaskan oleh Emile Durkheim dan Mircea Eliade. Durkheim menjelaskan bahwa yang sakral berada di dalam konteks masyarakat, sementara yang profan ada di dalam konteks individu. Berbeda dengan Eliade yang memandang kekuatan superanatural adalah inti dari yang sakral itu. Jika Durkheim menggunakan pendekatan sosial kemasyarakatan yang non-superanatural, maka Eliade menggunakan hal yang sebaliknya.

[3] Lih., Francois Truffaut, 1975, What Do Critics Dream About?, Terjemahan. Adrian Jonathan Pasaribu, 08 Januari 2011, “Francois Truffaut: Mimpi Seorang Kritikus Film, Bagian 1”. Dapat diakses via https://cinemapoetica.com/francois-truffaut-mimpi-seorang-kritikus-film-bagian-1/ pada, 02 Desember 2018.

 

Daftar Pustaka

O’Meara, Dominic J. 2010. “Plotinus”. Dalam Lloyd P. Gerson, ed. The Cambridge History of Philosophy in Late Antiquity, Volume I. Cambridge: Cambridge University Press, 301-324.

Plotinus. 1991. The Enneads, terj.  Stephen MacKenna. London: Pinguins Classics.

Truffaut, Francois. 1975. What Do Critics Dream About?, terj. Adrian Jonathan Pasaribu, 08 Januari 2011, “Francois Truffaut: Mimpi Seorang Kritikus Film, Bagian 1”, diakses via https://cinemapoetica.com/francois-truffaut-mimpi-seorang-kritikus-film-bagian-1/ pada, 02 Desember 2018.

 

LEAVE A REPLY