Manusia merupakan makhluk yang mengalami sejarah. Ia menyejarah dan mau tidak mau berada di dalam realitas tertentu. Jika sejarah mempunyai arus, ada dua kemungkinan mengenai posisi manusia: ia bisa diibaratkan sebagai perenang andal dalam lautan kenyataan atau ia dapat diibaratkan sebagai makhluk yang senantiasa tenggelam dalam lautan kenyataan. Keduanya sama-sama bergerak dalam arus sejarah, tetapi yang membedakan mereka adalah bagaimana cara mereka merespon atau menyelami realitas tersebut.

Cara awal untuk menjadi perenang andal salah satunya adalah dengan merumuskan sebuah pertanyaan. Sebab, setiap usaha dalam mencari kebenaran dari setiap fakta sejarah, bermula dari pertanyaan pokok dan dari pertanyaan inilah proses penelitian sejarah dapat dijalani. Dengan bahasa slogan, hal ini dapat dikatakan dengan tanpa pertanyaan, maka tak ada kesadaran sejarah, atau dengan kata lain tanpa pertanyaan, maka tak ada si perenang andal.

Oleh karena itu, Teman Imajinasi yang terdiri dari beberapa mahasiswa-mahasiswi Fakultas Filsafat UGM ingin mencoba mengangkat ketenggelaman diri mereka dalam lautan sejarah atau realitas. Dengan sebelumnya berusaha terlebih dahulu untuk memahami diri sendiri, sejarah, ataupun realitas dengan mendefinisikan ulang ketiga hal tersebut. Untuk selanjutnya dapat lebih secara sadar memposisikan, melibatkan, dan mengikutseratakan diri ini dengan bebas memilih gaya berenang dalam lautan sejarah atau realitas.

Demi menggapai cita-cita yang telah disebutkan sebelumnya, yakni sadar dalam memilih gaya atau cara dalam merespon sejarah atau realitas, proyek ini menawarkan tiga laku strategi yang sifatnya mudah-mudahan artistik-dramatik-imajinatif, yaitu: Pertama, bebas dalam memilih dan menyusun silsilah keluarga imajiner. Berbeda dengan silsilah keluarga yang pola dan kedudukannya telah tersusun dari hubungan sedarah-sedaging, maupun struktur kepengurusan tertentu yang didasari oleh pembagian tugas dan wewenang, model silsilah keluarga imajiner justru didasari dan dinyawai oleh daya imajinasi per individu; sifatnya belum tersusun. Tokoh-tokoh (fiksi, gaib, non-fiksi, atau yang lain) yang dihadirkan dan sepilihan nilai-nilai bermakna yang mengaitkan relasi antar mereka dalam model silsilah ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab imajinasi per individu. Pada penutup sesi, masing-masing individu diharapkan dapat saling memahami “luar-dalam/lahir-batin” silsilah-silsilah imajiner miliknya maupun individu lainnya.

Kedua, mempancainderakan tempat idaman di kepala. Untuk kenangan-kenangan bermakna pada tempat (riil maupun fiktif) tertentu yang masih mengendap di kepala masing-masing; juga untuk harapan-harapan idaman pada tempat (riil maupun fiktif) yang masih kabur atau acak di kepala masing-masing; perlintasan antara kenangan dan harapan itulah yang bakal dieksekusi dengan semangat gotong-royong ataupun mandiri-mandiri. Target yang memungkinkan dari bagian ini adalah terbentuknya kompleks-kompleks miniatur dari tempat idaman di kepala masing-masing individu serta menemukan dan merundingkan penghubung fisik yang beralasan antar tempat-tempat idaman yang telah terkontruksi; singkat kata seperti sebuah upaya untuk menata wilayah dengan gaya amatiran.

Ketiga, menandai dan menghidangkan sepotong menu peristiwa. Masing-masing individu telah melewati beragam peristiwa selama masa hidupnya, baik peristiwa yang sungguh terjadi di “luar diri” maupun “peristiwa yang masih mendekam dalam tabungan rencana”. Mengutip refleksi St. Sunardi dalam esainya Seni sebagai Peristiwa, “Peristiwa menjadi titik tolak dan referensi hidup manusia. Hidup kita sehari-hari—baik pribadi maupun kolektif, entah sadar atau tidak—senantiasa bertitik tolak dari suatu peristiwa dan senantiasa menanti peristiwa-peristiwa baru”. Dalam rangka menandai peristiwa, umat manusia pada umumnya memiliki kedekatan yang panjang pada kelahiran, pernikahan, dan kematiaan. Sampai-sampai berbagai ritus dan selebrasi perayaan (sebagai upaya penandaan) dihadiahkan umat manusia kepada peristiwa-peristiwa tersebut. Pada titik bagian ini, individu-individu dipacu untuk menemukan dan memilih peristiwa apa yang mendasari tahun-pertama-buatan masing-masing.

Proyek ini tentu saja membutuhkan medium untuk menyampaikan gagasannya. Media yang dipilih adalah seni rupa dan pertunjukkan teater. Seni rupa dan teater memiliki kesamaan dalam proses awal penciptaannya, yaitu imajinasi. Beberapa filsuf berpendapat bahwa imajinasi memiliki daya intensionalitas. Imajinasi selalu terarah akan sesuatu. Walaupun imajinasi menyerupai persepsi (perception dan kepercayaan (belief) dalam sifat representasional, tetapi sebenarnya mereka berbeda. Persepsi dan kepercayaan secara konstitut berhubungan dengan kebenaran. Dalam mempersepsikan sesuatu kita berhubungan dengan kebenaran tentang dunia aktual. Seperti yang dikatakan Edmund Husserl, berimajinasi harus dipahami sebagai pengalaman dalam laku “nonaktualitas” atau “irealitas”. Kita bisa berimajinasi akan hal yang kita anggap salah atau tidak benar. Perbedaan lainnya antara persepsi dan kepercayaan dengan imajinasi adalah “Persepsi menuju ke aktual, sedangkan imajinasi menuju kemungkinan” atau “Berimajinasi terarah kepada hal yang fiksional, sedangkan kepercayaan terarah kepada kebenaran”. David Hume menangkap hal ini dengan menyatakan “tidak ada yang lebih bebas” selain imajinasi manusia.

Imajinasi pun juga diperlukan dalam proses menjadi perenang realitas atau sejarah yang andal; imajinasi mampu merumuskan sebuah pertanyaan dasar tentang apa itu realitas dan sejarah, apa itu diri atau “aku”, bagaimana menyelami realitas dan sejarah dengan “aku” yang telah didefinisikan ulang, serta imajinasi dibutuhkan untuk melakukan tiga tahap laku strategi yang telah diberikan dalam memilih gaya atau merespon realitas atau sejarah, yaitu menyusun keluarga imajiner, mempancainderakan tempat idaman di kepala, dan menandai dan menghidangkan sepotong menu peristiwa.

Walter Benjamin memberikan cara lain agar manusia menjadi perenang andal dalam arus sejarah tersebut. Benjamin berpendapat kita mengalami sejarah atau sebagai makhluk menyejarah bukan saat kita terlibat pada sesuatu ketika sesuatu tersebut bergerak. Namun, kita mengalami sejarah justru ketika kita melihat kembali sisa-sisa kebudayaan yang separuhnya telah diambil oleh alam. Pada titik itulah kita mendapat intuisi tentang apa artinya sejarah. Oleh karena itu, kami memilih bekas kantin Fakultas Filsafat sebagai lokasi pameran dan pertunjukkan. Selain pertimbangan artistik, sisi “kebekasan’’ dari bekas kantin Fakultas Filsafat berpotensi bagi kami untuk mendapatkan dan mengalami—mengutip apa yang dikatakan Walter Benjamin–intuisi tentang apa itu sejarah. (TemanImajinasi)


 

Pembukaan    : 12 November, pukul 19.00–19.30 WIB

Teater            : 12–13 November, pukul 19.30–22.30 WIB

Pameran         : 13–18 November, pukul 09.30–22.00 WIB

Artist Talk       : 18 November, pukul 19.00 WIB

Lokasi             : Bekas Kantin Fakultas Filsafat UGM

LEAVE A REPLY