Ilustrasi: Valentin

Dalam pamflet What Is To Be Done? yang dipublikasi tahun 1902, Lenin memaparkan ide pentingnya sebuah partai untuk akselerasi revolusi. Lenin benar-benar memikirkan dan merencanakan upaya untuk menghancurkan kapitalisme. Meskipun pada akhirnya Revolusi Oktober 1917 yang dipimpinnya memunculkan kritik atas revolusi yang diinisiasi oleh elite partai, bukan oleh kesadaran proletariat sebagai subjek revolusioner. Pemikiran Lenin menjadi kekuatan besar komunis internasional sepanjang abad dua puluh. Tulisan ini akan mengalir pada alur bagaimana Marxisme-Leninisme menjadi legitimasi kekuasaan partai sepanjang abad lalu, dan melihat kemajuan Marxisme di negara-negara barat yang tak kalah menarik dengan segala perombakan dan modifikasinya.

Pada awalnya, Lenin melarang segala bentuk diskusi tentang garis partai dalam internal partai komunis. Bagi Lenin partai memiliki fungsi sentral untuk mengantarkan barisan proletariat kepada cita-cita sosialisme. Istilah “Leninisme” sendiri pertama kali dikenalkan oleh Stalin pada 1924 dalam Kongres Buruh Uni Soviet sebagai pewaris ideologi Lenin. Kemudian penggabungan “Marxisme-Leninisme” dikenalkan oleh Abram Deborin pada 1929, walaupun akhirnya pemikiran Deborin tentang “Marxisme-Dialektis” dilarang oleh Stalin publikasinya. Trotsky pun yang punya andil besar dalam revolusi 1917 akhirnya menderita, padahal Lenin dan Trotsky memiliki pandangan yang sama soal lahirnya revolusi di negara-negara prakapitalis, sebuah pemicu revolusi sosialisme internasional.

Revolusi permanen yang disuarakan Trotsky, bahwa Revolusi sosialis Rusia—dengan menggulingkan kekuasaan feodal Tsar—adalah sebuah pemantik awal yang semangatnya akan diikuti oleh negara-negara Eropa untuk melakukan revolusi ke arah sosialisme. Menurut Trotsky Eropa sudah siap bagi sosialisme dan revolusi akan diteruskan oleh negara-negara Eropa untuk meruntuhkan kapitalisme. Setelah itu pemerintah-pemerintah sosialis di Eropa akan membantu proletariat Rusia mempertahankan kediktatorannya dan menyelesaikan pembangunan sosialisme. Teori ini ditulisya di penjara tahun 1906 dalam The Balance and the Prospects—The Moving Forces of the Revolution. Sayang, harapan Lenin dan Trotsky bahwa revolusi internasional akan diteruskan di negara-negara Eropa sebagai impilikasi dari sebuah permulaan Revolusi 1917 tidak terjadi. Dari kegagalan tersebut, Stalin yang menggantikan Lenin pada 1924 menarik kesimpulan dari kegagalan tersebut dan menanggulanginya dengan menerapkan teori “sosialisme di satu negara” miliknya. Stalin meyakinkan kaum Marxis bahwa revolusi tidak harus “revolusi permanen”. Selain itu, ia berusaha menghapus ingatan mengenai “revolusi permanen” dan kritik-kritik Trotsky terhadap rezimnya. Dimulailah pemerintahan Stalin yang totaliter.

Dalam bayang-bayang mengerikan Stalin, Trotsky hidup berpindah-pindah dalam tekanan. Tahun 1929 ia diizinkan untuk tinggal oleh pemerintahan Turki di sebuah pulau kecil Prinkipo di laut Marmara. Setelah itu ia diizinkan pindah ke Prancis pada tahun 1933. Ketakutan akan pengaruh Trotsky di luar negeri membuat Stalin memiliki sebuah keharusan untuk menghentikannya, bahkan mencoba untuk membunuhnya. Karena itu Trotsky ke pindah lagi Norwegia. Pada akhirnya di Meksiko pada Agustus 1940, agen Stalin seorang komunis Spanyol Ramon Mercader memperoleh akses ke rumah Trotsky dan membunuhnya dengan kapak es.

Praktik dan pendekatan Stalin(isme) yang melarang segala bentuk marxisme di luar Marxisme-Leninsme membuat diskursus marxisme menjadi sempit. Setelah kematian Stalin, pandangan Uni Soviet tentang dunia berubah. Pada masa kepemimpinannya, Krushchev meninggalkan pendekatan Stalin. Pergeseran pandangan ini salah satunya di bidang pendidikan. Uni Soviet memulai hidup baru dengan menganggap masa Stalin sebagai sebuah kemunduran. Akhirnya, pembaruan tentang Marxisme-Leninisme dilakukan oleh sekelompok penulis di bawah Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet dengan menerbitkan buku Osnovy Marksizma-Leninizma (Dasar-dasar Marxisme-Leninisme). Tujuannya untuk mengganti pendekatan Stalin terhadap Marxisme-Leninisme. Buku ini menjadi kurikulum pelajaran wajib bagi para siswa menengah atas dan mahasiswa di negara-negara Uni Soviet. Tentu rezim Krushchev lebih baik dari Stalin dalam hal ini. Tidak semuanya berubah, tetap saja pendidikan yang tersentralisasi dan indoktrinasi Marxisme-Leninisme melalui kurikulum di setiap sekolah tetap berjalan.

Berbeda dengan tetangga dekatnya, Marxisme di Yugoslavia justru didiskusikan oleh intelektualnya secara bebas. Satu-satunya negara komunis yang sedari awal tidak tunduk terhadap Uni Soviet dan mengutuk Stalinisme. Teori-teori Leninis dan Stalinis bagi mereka sudah tidak sesuai dengan Marx. Partai Komunis Uni Soviet hanya menggunakan Marxisme sebagai pendukung kekuasaan absolut atas nama revolusi. Para pemikir Marxis yang terkenal dari mereka adalah Mihailo Markovic, Milan Kangrga, Predrag Vranicky, Svetozar Stojanović, dan Rudi Supek—terinspirasi dari tulisan Antonio Gramsci, Karl Korcsch, Georg Lukacs, Ernst Bloch, Erich Fromm, dan Lucien Goldmann. Tak hanya mengenai pemikiran Marx, kajian mereka pun menganalisis masyarakat Yugoslavia secara kritis dari sudut pandang Humanis Marx. Pada 1964, sekelompok intelektual yang sebagian besar berasal dari Universitas Zagreb mendirikan majalah yang diberi nama Praxis. Majalah tersebut bekembang menjadi salah satu majalah internasional mengenai teori Marxis. Kontributornya bukan hanya dari Yugoslavia, tetapi juga dari pemikir-pemikir Marxis barat. Diskusi dan publikasi yang semula merupakan kritik terhadap Stalinisme kemudian berkembang menjadi analisis kritis masyarakat Yugoslavia sendiri. Kebebasan pun membuat mereka berani untuk menyerang sistem komunis Yugoslavia sendiri yang berkuasa mutlak. Ini membuat mereka akhirnya dicurigai. Pada akhirnya, Partai Komunis Yugoslavia melihat hal tersebut sebagai ancaman. Pada 1975 Praxis tidak lagi dipublikasi di Yugoslavia. Kebebasan diskusi mengenai Marxisme di Yugoslavia pun akhirnya kandas.

Berbeda dengan Uni Soviet, banyak Neo Marxis dan Revisonis Marxis yang mucul dan memberikan pengaruhnya terhadap perkembangan Marxisme. Franz Magnis-Suseno menyebut hal ini sebuah kemajuan bagi Marxisme di barat pada awal abad lalu. Pemikir-pemikir Marxis tersebut diantaranya Georg Lukacs. Bukunya History and Class Conciusness yang ditulis pada 1922 memiliki pengaruh besar di abad ke-20. Kemudian pemikir Jerman Karl Korsch. Bagi Korsch Marxisme sendiri mengalami perkembangan—teori tentang studi masyarakat tidak lepas dari apa yang bergerak dalam masyarakat itu sendiri.  Perkembangan yang ditekankan oleh Korsch bahkan pada tahap tertentu memperhitungkan kemungkinan bahwa perjuangan kelas proletariat tidak akan memadai lagi. Lagi-lagi hal ini membuatnya dikeluarkan sebagai anggota Partai Komunis Jerman  dan dianggap sesat oleh Stalin. Karya Korsch yang paling penting mengenai Marxisme adalah Marxism and Philosophy yang terbit pada tahun 1923. Marxis penting lainnya adalah Antonio Gramsci dari Italia yang berperan dalam pendirian Partai Komunis Italia dan pernah memimpin di sana. Rezim fasis Italia kemudian menyatakan terlarangnya partai tersebut pada 1926 dan Gramsci dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Selama di penjara ia menulis 4.000 halaman karya besarnya  bernama Prison Notebooks. Pada tahun 1950-an catatan-catatan penjaranya mulai disunting. Sejak itu Gramsci diakui sebagai pemikir Marxis yang menantang pengertian Marxisme ortodoks.

Tak kalah penting yang mewarnai pemikiran Marxis sepanjang abad lalu adalah Institut Sosial yang didirikan Carl Grunberg di Universitas Frankfurt pada 1924. Maka istilah “Mazhab Frankfurt” melekat pada institut ini. Beberapa pemikir populer yang dihubungkan dengan institut tersebut adalah Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse—yang khas adalah mereka mirip dengan Gramsci dan Korsch—tidak ragu-ragu untuk melepaskan beberapa keyakinan Marx yang substansial.  

Di Prancis pun beberapa pemikir Marxis mandiri seperti Henri Lefebvre, Alexandre Kojève, Lucien Goldmann, Roger Garaudy, dan tentu Jean-Paul Sartre di hari tua. Perhatian dari Prancis terhadap Marxisme lahir dari mereka yang mewakili aliran-aliran filsafat besar, seperti personalisme, fenomenologi, dan eksistensialisme. Inilah kemajuan negara-negara barat mengenai diskursus Marxisme.

Pada 1980-an Marxisme-Leninisme sudah enggan untuk dipelajari kembali oleh siswa dan mahasiswa di sekolah dan universitas. Marxisme-Leninisme tidak lagi menjadi pelajaran wajib seperti sebelumnya dan ditangisi ribuan dosen dan guru karena secara otomatis mereka tak diperlukan lagi sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1989. Tidak ada yang berubah dan tetap itu-itu saja tanpa perkembangan. Marxisme-Leninisme menjadi kering dan membosankan. Pada 1992 reformasi pendidikan melalui undang-undang yang diterapakan di Rusia dilakukan pada masa transisi menuju demokrasi. Prinsip dasar dari undang-undang itu adalah penghapusan kontrol negara dari kebijakan pendidikan. Dari sini dimulai perbaikan sistem pendidikan di Rusia dan negara non-Rusia bekas Uni Soviet dengan melepaskan belenggu sempit ideologis, demi sebuah kemajuan. (Hendri)


Referensi:

E. Curtis, Glenn. 1996. ed. Russia: A Country Study. Washington: GPO for the Library of Congress

Magnis-Suseno, Franz. 2003. Dalam Bayang-Bayang Lenin. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Magnis-Suseno, Franz. 2013. Dari Mao ke Mercuse. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Sandle, Mark. 1998. A Short History Of Soviet Socialism. London: Routledge

Tsonchev, T.S. 2010. ON LENIN’S “WHAT IS TO BE DONE?”. The Montreal Review http://www.themontrealreview.com/2009/On-Lenin-What-Is-To-Be-Done.php

 

LEAVE A REPLY