Ilustrasi: Shilfina

“Love to one only is a barbarity, for it is exercised at the expense of all others. Love to God also!” – Friedrich Wilhelm Nietzsche.

Jika kalian pernah membaca karya-karya sastra dengan tema cinta atau bahkan mungkin pernah berada dalam sebuah fenomena cinta juga relasi cinta, tentu kalian akrab dengan salah satu tema sentral dalam persoalan cinta, yakni kesetiaan. Dalam konstruksi masyarakat terkait cinta, kesetiaan memegang peranan sentral dalam relasi cinta. Tanpa adanya kesetiaan, suatu relasi cinta dianggap sebagai suatu relasi cinta yang gagal, hancur, dan menyedihkan. Orang-orang yang tidak mampu setia dianggap sebagai pengkhianat. Bahkan, ada sanksi sosial bagi mereka yang melakukan perselingkuhan.

Hal tersebut tergambar pada kutipan yang ditulis oleh Fiersa Besari dalam bukunya Garis Waktu, Ketika kesetiaan menjadi barang mahal … ego siapa yang sedang kita beri makan?. Kutipan tersebut menggambarkan sebuah silogisme yang mengandung kausalitas—hubungan sebab akibat. Jika kesetiaan pada suatu relasi cinta mengalami ‘kelangkaan’, subjek—salah satu atau keduanya—dalam relasi cinta tersebut sedang ‘memberi makan’ egonya sendiri. Dengan kata lain, ketika kesetiaan tidak hadir dalam suatu relasi cinta, maka relasi cinta tersebut merupakan relasi cinta yang gagal.

Pada tahun 2015 lalu, situs Shape Magazine dan MensFitness melakukan sebuah survei mengenai infidelity atau ketidaksetiaan—perselingkuhan—secara daring dengan kurang lebih 2.500 koresponden. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa 48% dari 2.500 orang koresponden menganggap perselingkuhan sebagai sesuatu yang buruk. Padahal, data tersebut juga menunjukkan fakta bahwa 58% dari 2.500 orang koresponden pernah berselingkuh.

Pamela Duckerman, pada bukunya yang berjudul Lust in Translation: Infidelity from Tokyo to New York mengemukakan para wanita dan pria kelas menengah di Indonesia yang ia temui menganggap bahwa perzinahan atau perselingkuhan adalah benar-benar salah Argumen tersebut sangat kontradiktif dengan hasil survei yang dilakukan oleh JustDating, sebuah aplikasi online dating, terhadap penggunanya mengenai pengalaman selama berhubungan dengan lawan jenis. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa 40% responden dari Indonesia mengaku pernah melakukan perselingkuhan.

Hal tersebut mengantarkan kita pada suatu kondisi di mana kesetiaan perlu dikaji ulang. Apakah memang benar bentuk-bentuk ketidaksetiaan, seperti perselingkuhan, adalah sesuatu hal yang buruk?

KRITIK REFLEKTIF ATAS KESETIAAN

Beberapa pakar dan peneliti mengusulkan pengkajian ulang terkait perselingkuhan, bahkan dalam narasi yang jauh lebih besar mereka mengkritik tentang konsep pernikahan monogami. Salah satunya adalah Christopher Ryan, peneliti pada bidang psikologi yang mengungkapkan dalam bukunya yang kontroversial, Sex at Dawn: The Prehistoric Origins of Modern Sexuality, bahwa pernikahan monogami, tidak secara alami datang dari manusia. Emma Goldman, seorang aktivis anarko-komunis; feminis; serta penulis yang lahir di Lithuania mengembangkan hasil penemuan dari sejarawan Edmund Sears Morgan dan Elisee Reclus mengenai hubungan seks pada masyarakat primitif yang bebas dan tidak terikat pada satu lembaga dan status apa pun. Goldman berargumen hubungan monogami adalah relasi seks yang muncul jauh kemudian karena adanya domestikasi dan kepemilikan perempuan, yang pada akhirnya menciptakan monopoli seksual dan perasaan cemburu yang tak terelakkan.

Bagi Goldman, jenis-jenis relasi cinta seperti pernikahan atau pacaran adalah sebuah bentuk ‘asuransi’ yang merugikan; lebih mengikat dan ribet; dan harus dibayar selama masa perjanjian masih berlaku dengan harga yang sangat tinggi. Perempuan akan membayar semua jaminan itu dengan kebebasan, privasi, harga diri, dan kehidupan, bahkan kematiannya. Sebuah penjara yang dibangun dengan dinding takhayul dan mitos teologis.

Hal ini didasarkan pada konstruksi pemikirannya yang memandang bahwa pernikahan adalah sesuatu hal yang sangat berbeda dengan cinta. Pada era modern, pernikahan hanyalah sebuah kontrak sosial yang melegitimasi seseorang untuk menguasai seorang lainnya. Perempuan dijadikan sebagai komoditas seks oleh laki-laki tanpa mengetahui arti dan pentingnya seks bagi diri mereka sendiri, begitulah landasan utama dari pernikahan menurut Goldman. Baginya, lembaga pernikahan merupakan lembaga pelacuran yang dilegalkan oleh agama dan negara. Sebuah lembaga yang dibangun di atas pondasi paradoksal, pasangan memberikan sumpah di hadapan publik untuk mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap hina (seks), menjadi paling murni dan suci.

Kritik Goldman selanjutnya terletak pada persoalan kecemburuan yang kerap kali terjadi pada kasus-kasus perselingkuhan. Bagi Goldman, cemburu bukanlah sebuah karakter individu. Hal itu tidak akan membuat individu menjadi baik dan bijak dalam percintaannya. Sebaliknya, cemburu membuat orang menjadi buta karena kemarahan, penuh kecurigaan, dan dipenuhi kedengkian. Menurutnya kecemburuan merupakan obsesi terhadap hasrat memiliki dan balas dendam. Rasa cemburu tidak mengajarkan seseorang untuk mengerti dan memahami orang lain, melainkan untuk mendikte dan menghukum sebanyak mungkin.

Pada kasus perselingkuhan, perasaan tersakiti dan dendam itu sendiri, hadir oleh sebab adanya rasa memiliki pasangan. Sikap semacam itu baginya sangat irasional, sebab perasaan pada kondisi alamiahnya, termasuk cinta, sangatlah dinamis. Aku bisa saja mencintai seseorang pada hari ini, lalu perasaan itu beralih pada orang lain keesokan harinya. Bahkan, aku juga mungkin mencintai dua-tiga orang sekaligus pada waktu yang bersamaan.

Pada pembahasannya mengenai kecemburuan, Goldman berupaya untuk mendekonstruksi konsep kecemburuan. Baginya, kecemburuan adalah sebuah konstruksi sosial-budaya yang diciptakan oleh nalar kapitalistik. Seperti yang diungkapkan oleh Marx, pada moda ekonomi kapitalis, kaum borjuis menguasai alat produksi dan mengeksploitasi kaum proletar sehingga terjadi suatu kondisi yang disebut dengan alienasi. Hal tersebut juga yang ditemukan oleh Goldman terjadi pada relasi cinta, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya saling mendominasi dan mengeksploitasi satu sama lain.

Goldman juga beranggapan ada faktor lain dalam kecemburuan, yaitu kesombongan laki-laki dan rasa iri perempuan. Laki-laki melalui doktrin maskulinitasnya sebagai pejantan tangguh dan penakluk ulung akan merasa hina jika mendapati ‘hak milik’ (perempuan)-nya dikuasai oleh orang lain. Sementara bagi perempuan, yang sejak mula telah dibentuk sedemikian rupa untuk bergantung pada laki-laki, akan selalu merasa terancam dan menjadi iri pada kehadiran perempuan lain dalam kehidupan pasangannya. Menurut Goldman, kecemburuan ini semakin keras dan hina akibat semakin sedikitnya  kasih sayang yang diperoleh.

Goldman memberikan penawar yang cukup baik untuk menyembuhkan penyakit ini, yaitu dengan merubah pandangan kita tentang mitos sepasang kekasih, yakni dua orang dalam satu tubuh dan jiwa yang kita yakini selama ini. Menurutnya, kita harus rasional dan menerima dengan lapang, bahwa kita dan pasangan adalah dua manusia dengan temperamen, perasaan, dan emosi yang berbeda. Masing-masing adalah kosmos, alam semesta kecil dalam dirinya sendiri, tenggelam dalam pemikiran dan gagasannya sendiri. Akhirnya, kita harus membiarkan pintu cinta terbuka dengan lebar, tanpa kunci dan gembok.

Kritik yang diajukan oleh Goldman terkait cinta tersebut serupa dengan kritik yang diajukan oleh Nietzsche dalam bukunya yang berjudul Beyond Good and Evil, yang berisi kritik bagi kaum moralis. Menurut Nietzsche, moralitas yang ada justru mengingkari keinginan-keinginan hidup yang terdalam dan tertinggi, memasung hasrat-hasrat alami manusia, lalu menempatkannya sebagai kejahatan terhadap moralitas itu sendiri. Pada cinta, konsep kesetiaan adalah lereng curam yang mengingkari kebebasan cinta secara eksistensial. Bukankah, cinta diciptakan oleh Tuhan untuk dibagikan kepada siapa saja yang membutuhkan?

Cinta persis dengan kehidupan sehari-hari manusia. Kadang ada fase di mana rumah menjadi tempat yang begitu nyaman, kadang pula ada fase di mana rumah menjadi tempat yang begitu menjenuhkan. Oleh karena itu, manusia membutuhkan tempat untuk berlibur: melepaskan penat sejenak.

Tidurlah kesetiaan. Sejauh apa pun seorang pengembara ulung pergi, ia pasti pulang. (Ahnaf)

 

1 COMMENT

  1. Orang-orang yang tidak mampu setia dianggap sebagai pengkhianat. Bahkan, ada sanksi sosial bagi mereka yang melakukan perselingkuhan.

    Apakah dalam relasi cinta memiliki ketidaktetapan dalam menentukan suatu pilihan?
    Disini terdapat inkonsistensi antara tindakan dan pikiran dalam hal mempertimbangkan suatu pilihan ..

LEAVE A REPLY