Ilustrasi: Valentin

Tulisan ini merupakan daur ulang dari hasil riset saya sewaktu SMA sebagai syarat untuk mengerjakan tugas akhir. Hasil dari riset ini saya jadikan karya instalasi interatif berjudul “Antologi Manusia” yang dipamerkan di SMA Diponegoro 1 Jakarta pada tanggal 21-22 April 2016.

Memilih merupakan kegiatan sehari-hari. Termasuk dalamnya bentuk pilihan dari yang paling sepele hingga yang paling penting; memilih adalah kegiatan yang tidak bisa lepas dari manusia. Manusia pada umumnya sangat berhati-hati dalam menentukan pilihan agar mendapatkan yang paling menguntungkan, atau, yang paling baik dan sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Proposisi ini kemudian mengantarkan kita kepada pertanyaan seperti mengapa kita memilih? Apa yang mempengaruhi pilihan kita? Bagaimana pilihan mempengaruhi diri kita sendiri dan orang lain?

Manusia, ketika dihadapkan dengan kebingungan dalam memilih, juga memiliki pilihan untuk tidak bingung. Menurut Sheena Lyengar dalam The Art Of Choosing, memilih adalah dorongan alamiah yang berkembang karena peran pentingnya dalam keberlangsungan manusia sebagai spesies, yang bekerja independen dan tidak berkembang dari keuntungan konkret[1]. Kemudian sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jan Glashcer dan Ralph Adolph yang secara khusus meneliti cara kerja otak di California Institute of Technology juga menunjukkan bahwa dalam proses pengambilan keputusan, manusia mengandalkan kemampuannya untuk menentukan resiko dan atau keuntungan dari suatu pilihan[2].

Mengapa mengambil keputusan merupakan sebuah konsep yang datang secara alamiah bagi manusia? dalam buku How We Decide yang ditulis oleh Jonah Lehrer, dijelaskan bahwa proses mengambil keputusan terjadi di dalam otak, secara khusus pada bagian frontal cortex yang merupakan organ “pengatur” berlangsungnya nalar, inteligensia, dan moralitas. Korteks depan ini merupakan hasil dari evolusi yang membedakan manusia dengan binatang lainnya. Frontal cortex memungkinkan manusia untuk memikirkan emosi, menganalisis sesuatu secara logis, menghimpun pengetahuan, menggunakan bahasa dan memahami realitas serta hubungan kausalnya[3]. Homo sapiens menjadi mahluk paling emosional di antara hewan lainnya karena keberadaan orbifrontal cortex (OFC) yang merupakan bagian dari frontal cortex merupakan organ yang bertugas untuk mengatur emosi[4].

Seorang neuroscientist terkemuka Antonio Damasio, melalui penelitiannya mengemukakan bahwa OFC berkontribusi dalam integrasi emosi mendalam, menghubungkan perasaan yang muncul dari bagian otak yang lain (seperti pangkal otak yang bertanggungjawab atas kerja tubuh fisiologis, dan juga amygdala yang mengatur emosi intens seperti rasa takut dan agresi) dengan akal sadar. Keputusan yang paling banal sekalipun menjadi tidak mungkin tanpa keterlibatan perasaan atau emosi. Otak yang tidak dapat ‘merasakan’ apa-apa tidak dapat membulatkan ‘tekad’nya untuk memutuskan apa-apa [5].

Pentingnya emosi dalam proses pengambilan keputusan juga dijelaskan oleh Dr. Roslan Yusni, Sp.BS seorang anli neurolgi yang juga akrab disapa sebagai Ryu Hasan. Dalam wawancara pribadinya dengan saya sendiri pada 10 Maret 2014, Ryu menjelaskan bahwa otak memiliki dua model besar dalam menentukan pilihan yaitu berdasarkan emosi dan pertimbangan rasional. Keduanya merupakan mekanisme yang sadar dan digunakan secara bersamaan, hanya saja pada situasi tertentu, mekanisme yang satu akan lebih dominan dibanding dengan yang lain. Sebagai contoh adalah ketika seorang pemain bola bermain dilapangan. Dalam situasi intens dari atmosfer yang kompetitif dari suatu pertandingan, atlet sepakbola banyak melakukan pengambilan keputusan secara emosional; ketika mereka memutuskan untuk menendang langsung ke arah gawang atau mengoper kepada kawannya. Keputusan tersebut merupakan hasil dari kinerja otak emosional yang mengambil data dari intensitas berlatih. Seorang pemain bola berlatih dilapangan selama 8 jam sehari, maka dari itu otaknya akan merekam bentuk lapangan, gaya bermain teman, kecepatan lari yang dibutuhkan untuk menempuh suatu jarak dan sebagainya. Keputusan tersebut dibuat dalam waktu sepersekian detik menggunakan memori yang ada didalam otak.

Contoh yang lebih dekat dapat dilihat dari aktivitas keseharian kita, seperti misalnya ketika berjalan dari kosan ke kampus. Dalam perjalanan tersebut, sebenarnya ada banyak pilihan emosional yang dapat  diambil.  Belokan, jalur, perempatan, banyak jalur yang merupakan sebuah pilihan namun secara emosional tidak dipilih dikarenkan intensitas kesamaan dari suatu pilihan yang dipilih secara terus menerus menghasilkan pengetahuan atas pilihan yang harus diambil dalam waktu sepersekian detik.

Emosi memang memiliki peran penting dalam menentukan pilihan, akan tetapi emosi bukan satu-satunya hal yang mempengaruhi pilihan. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, ada juga mekanisme pertimbangan logis dalam memilih. Dalam model ini, Jumlah pilihan yang tersedia untuk diambil dan bentuk penawaran yang dihadirkan pilihan-pilihan tersebut sangat mempengaruhi penambilan keputusan manusia. Tertulis dalam buku Predictably Irrational karya Dan Ariety bahwa manusia jarang memutuskan sesuatu secara absolut, pun, manusia biasanya tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan sebelum dihadapkan dengan konteks tertentu. Manusia memiliki kecenderungan untuk fokus pada membandingkan hal-hal yang dapat dengan mudah dibandingkan dan menghindari apa yang dianggap susah untuk dibandingkan. Maka dari itu, semakin banyak pilihan yang dapat diambil, semakin banyak juga perbandingan yang harus dilakukan. Hal ini seringkali menjadi masalah dari proses pengambilan [6].

Ryu Hasan menambahkan, bahwa kerumitan dalam proses penentuan pilihan dengan mekanisme rasional sebenarnya merupakan pencarian tentang justifikasi belaka. Hal ini dikarenakan manusia sudah memiliki ‘cetakan’ masing-masing pada otaknya; suatu kecenderungan. kecenderungan inilah yang kemudian dikatakan sebagai sebuah selera, dan selera sangat berperan besar dalam pengambilan keputusan secara rasional. Sepertimisalnya, adalah ketika seseorang dihadapkan dengan dua buah makanan asin atau manis, orang tersebut sudah memiliki selera perihal makanan mana yang lebih disukai. Orang tersebut kemudian akan mencari justifikasi atau alasan yang merasionalisasikan pilihannya, seperti misalnya dia akan memilih makanan yang manis karena adanya kompleksitas rasa yang cocok untuk dinikmati di sore hari.

Namun dalam proses pengambilan keputusan ini, selera juga dipengaruhi dengan kinerja otak secara keseluruhan. Indera sebagai reseptor menerima banyak informasi yang akan diolah oleh otak. Sebut saja, tampilan, rasa, aroma, atau bahkan opini seseorang akan suatu hal, semua hal tersebut merupakan data yang akan dijadikan memori yang membangun  sekaligus bahan pertimbangan terhadap penciptaaan justifikasi akan selera.

Manusia selalu punya pilihan, hanya saja manusia seringkali mengesampingkan fakta-fakta sepele seperti misalnya bahwa dengan anda membaca tulisan ini adalah suatu bentuk pilihan tersendiri. Mengingat setiap peristiwa yang berasal dari pengambilan keputusan akan direkam oleh otak sebagai memori, dan memori itu sendiri menjadi acuan otak dalam memilih, secara tidak langsung manusia, dan eksistensinya, merupakan kompilasi dari pilihan-pilihan kita selama ini. Maka dari itu dapatkah disimpulkan bahwa manusia adalah cerminan dari antologi pilihannya? (Shilfina)


 

[1] Lyengar, Sheena. 2010. The Art of Choosing. New York: Twelve

[2] Szalavitz, Maia. 2012. Making Choices: How Your Brain Decides. TIME. http://healthland.time.com/2012/09/04/making-choices-how-your-brain-decides/ diakses pada 18 Mei 2018

[3] Lehrer, Jonah. 2009. How We Decide. Boston: Houghton Mifflin Hartcourt. p.17

[4] [4]Lehrer, Jonah. 2009. How We Decide. Boston: Houghton Mifflin Hartcourt. p.24

[5]  Lehrer, Jonah. 2009. How We Decide. Boston: Houghton Mifflin Hartcourt. p.15

[6] Ariely, Dan. Predictably Irrational. HarperCollins e-book. p.2-8

LEAVE A REPLY