Ilustrasi: Lintang

Ingatan masa kecil merupakan salah satu ingatan terpenting dan sangat berpengaruh dalam proses pembentukan kepribadian seorang individu. Ingatan ini menjadi penting karena di dalamnya tersimpan bagaimana sosialisasi primer (sosialisasi paling awal) yang diterima seorang individu berlangsung. Ingatan tentang proses sosialisasi primer kelak akan membawa internalisasi nilai ke dalam diri individu. Nilai-nilai yang dibawa dari tahap pendidikan awal ini nantinya akan menjadi nilai acuan dalam melakukan komparasi terhadap nilai yang lain.

Ketika mengingat masa kecil, seringkali kita merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengingat segala peristiwa yang terjadi secara utuh. Ingatan masa kecil kerap hanya berupa potongan-potongan yang dapat diingat. Terkadang kita hanya mampu mengingatnya sebatas ketika menyadari kemampuan kita dalam mengingat. Misalnya, ketika seseorang merasa ia hanya bisa mengingat peristiwa ketika ia berusia 4 tahun, maka peristiwa-peristiwa yang ia lalui sebelum berusia 4 tahun kerap kabur atau bahkan tidak dapat diingat.

Menurut psikologi kognitif, memori atau ingatan ialah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan dan mereproduksikan kesan-kesan. Adanya kemampuan untuk mengingat seperti ini berarti ada suatu indikasi bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkan kembali sesuatu yang pernah dialami. Walaupun, hal ini tidak berarti bahwa semua yang pernah dialami tetap tinggal secara utuh karena ada berbagai hal yang mempengaruhi daya kerja ingatan.[1] Ingatan manusia tetap saja menggunakan metode-metode tertentu untuk menyeleksi kesan-kesan yang diterimanya.

Seringkali ingatan seseorang tentang masa kecilnya tampak berisikan hal-hal yang tidak penting dan kebetulan semata. Pikiran orang dewasa bahkan seringkali (tidak selalu) sudah melupakan kesan-kesan mendalam yang terjadi pada masa kecil.[2] Kenangan masa kecil yang dimiliki orang dewasa cenderung tenggelam dan tidak lagi memiliki hubungan yang jelas dengan pola pikir karena telah mengalami banyak pergeseran. Pergeseran-pergeseran ini diperkirakan karena ketika masih anak-anak kita melakukan seleksi dengan prinsip-prinsip yang berbeda dengan saat sudah mencapai kematangan intelektual.[3]

Psikoanalisis Sigmund Freud membuktikan bahwa ingatan-ingatan masa kecil yang tampak tidak penting ini sebenarnya merupakan topeng untuk menggeser atau menutupi ingatan-ingatan masa kecil lain yang penting pada seseorang. Sekali pun ingatan-ingatan yang penting tidak dapat diproduksi atau diingat kembali karena adanya penolakan atau represi tertentu yang terjadi dalam pikiran. Ingatan-ingatan berkesan akan tenggelam jauh di dalam alam bawah sadar dan menjadi sangat sulit untuk muncul kembali ke dalam alam pra sadar (tempat available memory berada) untuk selanjutya dibawa ke alam sadar.[4]

Keberadaan ingatan penyamar ini bukan karena makna yang terkandung di dalamnya, namun lebih kepada adanya asosiasi antara ingatan penyamar dengan ingatan yang lebih berkesan. Hubungan antara ingatan penyamar dengan ingatan berkesan adalah hubungan temporal (waktu). Ingatan berkesan dan ingatan penyamar terjadi dalam waktu yang berdekatan atau bahkan bersamaan. Hal ini yang memungkinkan pada akhirnya terjadi kesalahan-kesalahan ketika hendak membedakan antara ingatan penyamar dengan ingatan yang berkesan.

Proses pergeseran kedua ingatan ini dibantu oleh adanya hubungan-hubungan luar antara ingatan yang bergeser dengan ingatan yang digeser. Ini juga menandakan bahwa terjadinya kecendrungan untuk mengedepankan kenangan yang satu dan menindas kenangan yang lainnya.[5] Seperti ketika seseorang berusaha untuk mengingat sebuah nama, nama yang dapat diingatnya justru nama lain yang bukan maksudnya. Keadaan seseorang mengingat nama yang salah ini disebabkan adanya kemiripan antara nama yang dimaksud atau adanya pengacau yang membuat ingatan meloncat-loncat.

Sejauh Mana Ingatan Masa Kecil dapat Diingat

Kita cenderung membiarkan ketidakmampuan untuk mengingat memori ketika masih bayi. Ketidakmampuan ini cenderung kita terima sekali pun seorang anak berusia 4 tahun sudah mengalami tingkat intelektual dan pola emosi yang rumit. Dalam proses perkembangan proses psikis yang pesat, ingatan-ingatan masa kecil tidak dapat lenyap begitu saja, ingatan itu akan meninggalkan jejak dan berpengaruh besar dalam proses perkembangan individu.

Seorang individu dengan individu yang lain memiliki perbedaan kemampuan dalam sejauh mana ia dapat mengingat masa lalu.[6] Ada beberapa orang yang sanggup memiliki ingatan terjauh dalam masa kecilnya ketika ia masih berusia 7 bulan, namun ada yang memiliki ingatan yang masih samar bahkan ketika ia berusia 2 tahun.

Hal ini dapat disebabkan oleh tipe pengingat. Pengingat dengan kemampuan visual yang baik dapat memvisualisasikan ingatan-ingatan masa kecil mereka dengan lebih jelas. Sementara di sisi lain, ada tipe pengingat yang bahkan tidak dapat mengingat sebuah ingatan, meskipun hanya berupa gambaran kasar sebuah ingatan. Tipe pengingat kedua ini dinamakan Freud dengan auditifs, yaitu orang- yang mengenang pengalaman masa kecil melalui suara-suara dan moteurs, yaitu orang-orang yang mengenang pengalaman masa kecil melalui rabaan atau tindakan yang mereka lakukan.

Selain perbedaan dalam jangkauan ingatan, terkadang ingatan masa lalu juga ada yang terasa begitu aneh ketika kita mengingatnya kembali. Ada beberapa kenangan yang mudah untuk diverifikasi dan ada yang sangat sulit untuk dikoreksi, sehingga menimbulkan rasa aneh. Kedua hal ini bukan merupakan kelemahan daya ingat semata, melainkan adanya faktor-faktor pada kehidupan selanjutnya yang mempengaruhi seseorang dalam mengingat kembali ingatan masa kecilnya.

Uraian di atas dapat diperjelas dengan contoh kasus berikut. A berusia 20 tahun dan pernah mengalami kekerasan seksual ketika berusia 8 tahun. Kekerasan seksual tersebut dilakukan oleh teman laki-laki A yang berjumlah tiga orang di sebuah rumah kosong tempat mereka biasa bermain yang letaknya hanya dua rumah dari rumah A. Hingga di usia 20 tahun A tidak pernah mengingat kejadian tersebut. Bagian ingatan yang A miliki hanyalah kebiasaan ia bermain dengan 3 orang temannya di sana. Anatomi ingatan A terhadap rumah tersebut lengkap kecuali kejadian kekerasan seksual yang pernah ia alami di sana.

Pada suatu waktu A menangani sebuah kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak. A harus bersinggungan dengan elemen-elemen dalam kasus tersebut. Dalam menangani kasus ini, A terlihat lebih sensitif dibandingkan dengan biasanya. Emosi A terlihat lebih mudah meledak-ledak sehingga membingungkan orang-orang yang bekerja di sekitar A. Setelah ditanya mengapa, A sendiri mulai menanyai dirinya sendiri. Sehingga pada suatu waktu ingatan A terpaut pada rumah tempat ia dulu bermain dan ditemukanlah pecahan ingatan yang sempat lama A lupakan.

A dapat mengingat dengan jelas kronologi kejadian ketika ia mengalami kekerasan seksual. Ingatan yang lama terepresi itu menemukan satu titik untuk kembali ke permukaan. Hal ini memerlukan waktu yang sangat lama untuk sampai ke alam sadar. Kekerasan seksual bukanlah hal yang baru A dengar, namun selama ini ia tidak pernah menangani kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak sehingga responnya tidak seperti ketika hal ini terjadi.

Contoh tersebut membuktikan bahwa ada beberapa ingatan masa kecil yang tertimbun dan butuh asosiasi dengan hal yang berkaitan agar dapat muncul kembali. Kemunculan kembali ingatan ini juga dipengaruhi oleh seberapa traumatis ingatan tersebut. Semakin traumatis ingatan masa kecil, biasanya akan semakin sulit untuk diingat sebab ada dampak besar yang pernah ditimbulkan kepada si pengemban ingatan. (Sherin)


[1] Komunitas Kajian Psikologi, Proses Memori, http://psikologi.or.id/psikologi-umum-pengantar/proses-memori.htm

[2] Sigmund Freud, Psychopatology of Everyday Life (New York: The New American Library, 2005), hal. 67.

[3] Ibid., hal. 68.

[4] C. George Boeree, Personality Theories (Yogyakarta: Primasophie, 2013) hal.32

[5] Ibid., hal 71

[6] Potwin, “Study of Early Memories,” Psychological Reviews, 1901.

Referensi:

Bertens, K. 2006. Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Boeree, C. George. 2013.  Personality Theories. Yogyakarta: Primasophie

Freud, Sigmund. 2005. Psychopatology of Everyday Life. New York: The New American Library

LEAVE A REPLY