Ilustrasi: Shilfina

“Nothing will benefit human health and increase the chances for survival of life on Earth as much as the evolution to a vegetarian diet.” Albert Einstein

 

Kapitalis menghalalkan segala cara dan melakukan pembenaran apapun demi melancarkan keuntungan bisnisnya. Mereka berkuasa terhadap apa pun, bersekongkol dengan banyak pihak, menyembunyikan dosa yang mereka perbuat. Kapitalis mengeksploitasi bumi dengan cara destruktif tanpa memedulikan sama sekali dampak yang sangat mengerikan.

Ketika berbicara mengenai kerusakan lingkungan, pikiran kita akan mengarah pada perilaku manusia yang sombong. Manusia merasa memiliki derajat lebih dari makhluk hidup lain–hewan dan tumbuhan–dengan alasan memiliki akal rasional yang tidak dimiliki mereka. Manusia menempatkan dirinya sebagai penguasa ekosistem dan mengeksploitasi yang lain untuk memenuhi kebutuhan dan nafsunya.

Ketidakberesan di bumi bisa kita amati dikehidupan sehari-hari. Misalnya, peningkatan karbon dioksida seiring dengan pertambahan volume transportasi, penggunaan energi untuk manusia, dan limbah industri. Namun, ada satu hal yang luput dari perhatian sebagian besar manusia.

Industri makanan hewani sebagai penyebab terbesar kerusakan lingkungan

Argumen  menarik  dikatakan oleh Rajendra K. Pachauri sebagai mantan ketua Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Ia memberikan wejangan bagaimana cara mengatasi pemanasan global, “Jangan makan daging, pakailah sepeda, dan jadilah konsumen yang hemat.”[1]

Satu dari tiga poin yang disampaikan membuat kita heran. Larangan yang pertama adalah ujaran jangan makan daging. Kenapa bisa demikian, apa yang salah dengan daging? Dan bagaimana makanan berbasis hewani yang sebagian besar dikonsumsi oleh manusia itu bisa menyebabkan pemanasan global dan merusak lingkungan? Dua poin selanjutnya bisa kita pahami dan terima, bahkan sudah  muak karena wejangan itu masuk ke telinga tak ada habisnya.

Makanan berbasis daging (meat-based menu) rasanya jarang sekali kita pikirkan bagaimana bisa sampai kedalam mulut. Ayam goreng dan burger dari merek ternama outlet makanan cepat saji bisa menjamin kepuasan lidah sehingga kita bergumam dalam hati “It’s tasteful”. Namun, sebagian besar dari kita  tidak pernah benar-benar berpikir bagaimana daging bisa sampai terhidang di meja makan. Kalaupun terlintas untuk memikirkan dan sudah tahu alasannya, pikiran langsung tunduk pada lidah.

Sebenarnya tidak semudah membeli beberapa kilogram daging atau bahkan memesan delivery dari outlet makanan cepat saji sialan lewat ponsel. Butuh waktu yang relatif lama dan menghabiskan banyak energi supaya semur daging bisa terhidang di meja makan. Hewan ternak dipaksakan hidup melalui industri peternakan; dibesarkan dengan resource yang boros ruang dan waktu; alih guna lahan yang terus-menerus dilakukan untuk membuka peternakan; dan memakan waktu yang panjang untuk membesarkan hewan ternak.

Metana dan dinitrogen oksida yang lebih destruktif

Merupakan sebuah kekeliruan penanggulangan perubahan iklim hanya berfokus pada pengurangan karbon dioksida (CO2). Padahal, menurut publikasi yang dilakukan oleh U.S Enviromental Protection Agency, metana (CH4) yang dihasilkan dari sendawa dan kotoran hewan ternak 23 kali lebih mengerikan untuk membuat bumi semakin panas dibandingkan dengan karbon dioksida, dan dinitrogen oksida (N2O) memiliki kekuatan 296 kali menjadi gas rumah kaca.[2]

Isu metana dan nitrogen oksida sebagai unsur kimia yang menyebabkan gas rumah kaca sengaja ditutup-tutupi oleh kapitalis yang bergerak di bidang industri peternakan. Mereka berhasil mengelabui dunia dengan makanan cepat saji.  Peternakan sebagai hulu dari industri daging merupakan penghasil terbesar metana di bumi (sekitar 40%). Selain itu laporan PBB menyebutkan bahwa industri daging, telur, dan produk hewani lain menghasilkan dinitrogen oksida sebesar 60%.[3]

Lahan semakin sempit

Hutan sebagai lahan hijau yang sakral untuk umat manusia harus tunduk pada kapitalis global. Daratan di bumi ini terdiri dari 30% hutan. Luas tersebut semakin menyusut dengan cepat akibat manusia mengalihfungsikan lahan menjadi hunian, peternakan, pertanian, dan perindustrian pada umumnya. Peternakan menjadi sesuatu yang mengerikan. Di Amerika Latin 70% hutan Amazon dibabat untuk peternakan. Hutan sebagai tempat hidup pelbagai keanekaragaman hayati baik flora dan fauna sudah kehilangan harapan untuk hidup. Menurut Worlwide Fund for Nature (WWF) tercatat 306 dari 825 wilayah lingkungan hidup pelbagai organisme terancam secara langsung oleh peternakan. Adapun analisis yang dilakukan oleh World Conversation Union menemukan bahwa spesies-spesies terancam punah karena kehilangan tempat hidup disebabkan oleh hal yang sama. [4]

Restoran cepat saji sebagian besar menawarkan menu hewani. Ekspansi bisnis yang tidak mengenal batas dengan mekanisme pasar bebas tidak membatasi bertambahnya outlet makanan cepat saji, baik di negara maju maupun berkembang. Selain makanan cepat saji, menu olahan hewani juga mudah ditemukan di supermarket bahkan pasar tradisional. Negara yang memiliki tradisi khas dalam menu makanan juga ikut tergusur oleh berkembangnya makanan cepat saji, salah satunya Indonesia. Secara langsung ataupun tidak, kapitalis telah membuat budaya global berhasil menyeragamkan menu makanan di antara berbagai identitas. Outlet makanan cepat saji terus menerus bermunculan tiada henti dan kian membebani lahan bumi. Peternakan yang boros energi juga turut memakan ruang bumi yang semakin sempit.

Kita tidak bisa mengelak bahwa hal pertama yang membuat manusia tetap survive adalah karena manusia makan dan menggunakan kemampuan akalnya. Manusia menjadikan alam sebagai sumber untuk memenuhi kebutuhan biologisnya itu. Maka cara manusia memperoleh makanan berkaitan dengan perlakuannya terhadap alam. Ekploitasi alam sebagai sumber pangan jelas akan berdampak pada masalah lingkungan yang serius dan menyeluruh.

Secara umum kita telah lihat bagaimana industri makanan hewani merusak lingkungan secara menyeluruh. Industri makanan hewani mengakibatkan kerusakan lingkungan meliputi efek rumah kaca, polusi air, polusi udara, dan mengancam keanekaragaman hayati.[5]

Mengurangi konsumsi daging

Tanggung jawab tidak dilakukan oleh kapitalis yang bergerak di industri makanan berbasis hewani. Mereka menjadi penyedia makanan cepat saji, sumber penyakit manusia dan tidak peduli dengan kerusakan yang sudah terjadi. Ini berbeda dengan menu nabati yang lebih sehat dan ramah lingkungan dari menu hewani.

Banyak fakta yang telah kita tahu tentang kerusakan lingkungan. Jika keadaan terus-menerus seperti ini, rasanya benar bahwa bumi ini sedang menuju kehancuran. Hal tersebut  didukung oleh fakta-fakta kerusakan lingkungan yang kita peroleh hari demi hari.

Beralih secara perlahan ke menu nabati dan mengurangi menu hewani merupakan upaya untuk menyelamatkan lingkungan. Menurut perkiraan yang dilakukan Marco Springmann, seorang peneliti dari Oxford Martin School’s Future of Food Programme, emisi yang dihasilkan dari pengelolaan pangan akan berkurang 60% jika semua orang menjadi vegetarian dan 70% jika semuanya menjadi vegan.[6] Selain itu studi dari University of Chicago menegaskan bahwa sajian makanan dalam piring lebih penting daripada kendaraan di dalam garasi sebagai transportasi yang kita gunakan. Studi tersebut pada intinya menunjukan bahwa apa yang kita makan bisa lebih berbahaya bagi lingkungan daripada transportasi yang dipakai.

Jauh sebelum saat ini, Phytagoras yang hidup sekitar abad enam sampai lima masehi adalah seorang vegan atau vegetarian murni. Orang-orang yang menerapkan pola makan nabati disebut pythagorean sebelum istilah vegetarian muncul pada abad ke-19 di Inggris. Pola makan nabati juga dianut oleh Bernard Shaw, William Ralph, Charles Darwin, Albert Einstein, Mark Twain, dan masih banyak lagi.[7]

Kita memiliki kebebasan untuk memilih apa yang kita makan. Kita bebas untuk memakan makanan cepat saji yang rasanya lezat meskipun kita tahu itu tidak sehat. Sama halnya dengan memakan menu hewani jika dianggap sebagai sesuatu yang lumrah, walaupun kita tahu bahwa itu berbahaya bagi lingkungan dan penyebab masalah kesehatan. Tidak ada yang memaksa untuk melarang atau mengurangi konsumsi menu hewani, semuanya bergantung pada kehendak manusia, bebas! Kepedulianlah yang pada akhirnya membuat manusia bisa menentukan apa yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri. Mengurangi menu hewani sebagai cara untuk merawat lingkungan dan memberi perhatian lebih pada kesehatan bisa juga dijadikan pilihan terbaik yang kita buat.

[1] Prasasto Satwiko, Saya Vegan (Yogyakarta: Kanisisus, 2012) hlm.17

[2] Ibid, hlm.65

[3] loc.cit

[4] Ibid, hlm. 83

[5] Food and Agriculture Organization, Livestock Impacts on the Environment, http://www.upconline.org/environment/livestock_impacts_on_the_environment.pdf

[6] Smith Galer, The Consequences If The World Decided To Go Meat-free, http://www.bbc.com/future/story/20170612-the-consequences-if-the-world-decided-to-go-meat-free

[7] Op.cit, Prasasto Satwiko, hlm. 18-19

Referensi :

Food and Agriculture Organization of the United Nations. 2006. “Livestock Impacts on the Environment”.Diakses pada 12 maret 2018. http://www.upconline.org/environment/livestock_impacts_on_the_environment.pdf

Nuwer, Rachel. 2016. “What would happen if the world suddenly went vegetarian?”. Diakses pada 12 maret 2018. http://www.bbc.com/future/story/20160926-what-would-happen-if-the-world-suddenly-went-vegetarian

Piper Hoffman. 2012. “Save the Planet: Eat Meat Less”. Diakses pada 12 Maret 2018. http://www.worldwatch.org/system/files/Care2%20041812.pdf

Satwiko, Prasasto. 2012. Saya Vegan. Yogyakarta: Kanisius.

Smith Galer, Sophia. 2017. “The Consequences If The World Decided To Go Meat-free”. Diakses pada 12 maret 2018. http://www.bbc.com/future/story/20170612-the-consequences-if-the-world-decided-to-go-meat-free

 

LEAVE A REPLY