Foto: Alvin
Foto: Alvin

Kerumunan orang memadati Perpustakaan Fakultas Filsafat pada Kamis (02-14) pukul 09.00 WIB untuk menghadiri peluncuran Jurnal Mahasiswa Filsafat COGITO Vol.4 No.2. Dr. Rr. Siti Murtiningsih selaku Wakil Dekan Fakultas FIlsafat mengungkapkan bahwa peluncuran jurnal ini merupakan angin segar untuk Fakultas Filsafat yang akan membawa atmosfer keilmuan yang lebih baik kedepannya. Terdapat dua tulisan yang dibahas dalam acara ini, yaitu Kematian Tuhan (Tentang Bahasa, Logika, dan Metafisika) yang ditulis oleh Risalatul Hukmi dan Kategori The Social dalam Filsafat Politik Hannah Arendt yang ditulis  St. I Nyoman A. W. . Pembedah jurnal kali ini adalah St. Sunardi.

Topik pertama yang dibahas adalah Kematian Tuhan (Tentang Bahasa, Logika, dan Metafisika) oleh Risalatul Hukmi. Ia mengklarifikasi banyak pembaca salah memahami konsep Nietzsche tentang kematian Tuhan. “Kenapa Tuhan mati?” ia memberikan asumsi, “sebab Nietzsche menolak metafisika dan Tuhan yang selama ini dipahami oleh kaum agamawan yang mengasumsikan Tuhan secara metafisis.” Risalatul mengatakan bahwa penolakan Nietzsche atas metafisika ada hubungannya dengan kritiknya terhadap logika, bahasa, dan metafisika. Ia menjelaskan bahwa Nietzsche hanya ingin mengatakan bahwa Tuhan yang selama ini kita percaya adalah sebuah konsep. Pada akhirnya Tuhan tetaplah mati sejauh Ia dipahami sebagai sesuatu yang-ada-di-dalam-dirinya-sendiri.

Setelah Risalatul membahas tulisannya, St. I Nyoman A. W. memaparkan tulisannya tentang Kategori The Social dalam Filsafat Politik Hannah Arendt. Untuk mengerti kategori The Social, Nyoman mengajak audiens untuk memahami terlebih dahulu tentang kritik filsafat politik Hannah Arendt terhadap tradisi filsafat barat. “Jika kita membaca Plato dan tradisi filsafat Yunani klasik sampai Marx, ada tendensi dalam memahami (bahwa) ruang publik itu sekunder,” paparnya. Nyoman menjelaskan bahwa ruang publik hanya dijadikan sebuah instrumen tanpa ada yang mengetahui sebenarnya apa itu ruang publik.

Menurut St. Sunardi orang yang akalnya sehat dan hatinya masih bersuara akan berpikir sama seperti Hannah Arendt. Sunardi menyampaikan bahwa Arendt mengkhawatirkan kualitas The Social yang tidak manusiawi. “Sebab menurut Arendt kualitas sosial tidak lagi menjadi tempat manusia itu menampakan dirinya secara spirit popularitas,” tuturnya.

Selanjutnya, Sunardi berkomentar tentang pemaparan yang disampaikan Risalatul. Menurutnya, Nietzsche mempunyai kegelisahan yang mendalam bahwa dirinya mengalami hambatan ketika ingin memaknai hidupnya. Hambatan itu adalah agama, sehingga dia tidak bebas memaknai hidupnya. Ia juga mengingatkan audiens agar berhati-hati memaknai kematian Tuhan. “Atas dasar kepentingan apa mencari tentang kematian Tuhan, entar yang ada malah murtad,” ujar Sunardi sambil tertawa. Ia juga memberikan saran jika ingin menulis tentang Nietzsche tulislah dengan kreatif. “Jangan sampai hanya terjebak dalam segi pemikiran metafisik Nietzsche saja,” pesannya. (Alfin)

LEAVE A REPLY