Sumber: shutterstock

Keadaan yang gelap adalah salah satu penghambat manusia untuk beraktivitas. Di dalam keadaan yang gelap, apalagi gelap total, manusia hanya bisa meraba-raba sesuatu di sekitarnya. Oleh karena itu, bagi sebagian orang, kegelapan adalah hal yang menakutkan. Situasi itu membuat kita tidak bisa tahu dengan pasti apa yang kita lihat dan apa yang sedang terjadi.

Seorang novelis asal Jerman, Elias Canetti, pernah berkata, “tak ada yang lebih menakutkan manusia daripada persentuhan dengan yang tak dikenal.” Di dalam kondisi itu, otak manusia dapat memanipulasi pikirannya sendiri. Pikiran akan menciptakaan bayangan-bayangan paling mengerikan saat berada di tengah kegelapan, entah itu setan, binatang seram atau menjijikkan, pembunuh, atau apapun yang mengerikan. Mereka ini bisa jadi senewen dan lemas bila ditinggalkan sendirian dalam kegelapan.

Pernahkah Anda menemukan suatu perasaan yang aneh pada diri Anda saat sedang mandi lalu tiba-tiba listrik mati? Setelah daya khayal yang ditimbulkan pikiran Anda, apakah Anda akan melanjutkan mandi atau tunggang-langgang keluar kamar mandi sebelum sempat melilitkan handuk?

Ada cara-cara agar Anda tidak perlu merasa ngeri jika sedang berada dalam kegelapan. Salah satu caranya adalah berguru kepada mereka yang sudah ahli dalam mengatasi kegelapan. Mereka adalah para pertapa yang mengasingkan diri ke dalam pelosok hutan raya. Mereka ini yang bisa bertahan berbulan-bulan di dalam gelapnya hutan saat malam hari. Dengan hanya mengandalkan cahaya bulan, bintang dan ketajaman mata mereka, mereka bisa melihat dengan jelas di dalam kegelapan. Jika Anda beruntung, ilmu mereka akan diwariskan kepada Anda.

Kalau Anda tidak mau bersusah-susah berguru pada pertapa, mungkin Anda bisa menempuh atau memanfaatkan jalan ilmu pengetahuan. Cara ini cukup sukses. Terbukti dari lahirnya para ilmuwan yang menghadirkan teknologi penerangan pada zamannya, yang hasil kerja mereka bisa Anda nikmati sekarang. Mulai dari kebiasaan awal zaman primitif membakar hutan, lalu membakar minyak hewan, lilin, lampu minyak, lampu gas, dan klimaksnya 140 tahun yang lalu ketika Thomas Alva Edison memploklamirkan diri telah menemukan lampu listrik. Anda bebas ingin memilih cara penerangan yang mana, ilmu pengetahuan dan teknologi macam apa yang akan Anda gunakan. Tapi, dengan membakar hutan, kewarasan Anda mungkin patut dipertanyakan.

Cara yang lain, jika Anda masih tidak ingin repot, adalah dengan mempercayai Tuhan Yang Maha Esa. Sebenarnya, mempercayainya-Nya saja tidak cukup. Anda harus yakin terlebih dahulu akan eksistensi-Nya, yang tentu tidak mudah. Lalu setelah yakin akan eksistensi-Nya, Anda harus benar-benar menyerahkan diri kepada-Nya tentang apa yang akan terjadi atas diri Anda. Dengan cara ini, di dalam kegelapan mungkin Anda akan merasa aman. Ya, Anda harus mampu menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.

Namun, pertanyaan mendasarnya, apakah berada di tempat yang terang adalah tujuan kita? Apakah keadaan yang terang selalu memberi manfaat kepada kita? Lalu apakah keadaan gelap atau bayangan hanya menghasilkan sesuatu yang buruk bagi kita?

Karena kita lantang menyatakan jika gelap adalah musuh kita, kita telah menanamkan dalam pikiran kita jika sesuatu yang gelap harus diterangkan. Maka instalasi lampu dipasang di sudut-sudut ruang, di lorong-lorong gang, setiap gedung, bahkan di setiap menara yang sudah megah berdiri di tengah kota, kita masih berpikir jika menara itu kurang indah jika belum dihiasi oleh gemerlap lampu. Sejak Edison menemukan lampu listrik, bumi perlahan menjadi belantara lampu—belantara cahaya yang menyilaukan. Tanpa kita sadari, cahaya telah menelan dunia, menelan semesta, dan mungkin bisa juga menelan umat manusia.

Dunia sebelum era belantara cahaya punya cara kerjanya sendiri. Alam diatur sedemikian rupa untuk menjaga lingkungan agar tetap berada dalam keseimbangannya. Di era “gelap”, cahaya yang menyinari bumi adalah cahaya yang berasal dari benda-benda langit yang memiliki cahaya alami. Bumi saat siang disinari oleh matahari yang memancarkan cahayanya sendiri, dan bumi saat malam hari disinari oleh cahaya bulan dan benda-benda angkasa lainnya yang memantulkan sinar atau memiliki cahaya sendiri. Kita tahu, galaksi Bima Sakti bisa terlihat di langit malam saat lingkungan kita belum menjadi belantara cahaya.

Kehadiraan lampu listrik yang ditemukan Edison menandai era baru bagi dunia, di mana cahaya yang diciptakan oleh manusia (cahaya artifirsial), menimbulkan efek negatif yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Memang sudah tabiat manusia ingin mudah dalam segala hal. Tanpa hirau pada lingkungan sekitar, ternyata penggunaan cahaya artifirsial menyebabkan langit malam terasa jadi tambah gelap. Cahaya dari benda langit terhalangi oleh cahaya yang dari daratan yang menuju ke angkasa. Ini menyebabkan langit malam yang dulunya indah oleh cahaya benda langit, menjadi gelap. Kita seolah-olah kehilangan salah satu keindahan semesta, padahal keindahan itu berada tepat di atas kita.

Bukan hanya itu, ekosistem pun terancam rusak oleh penggunaan cahaya artifirsial yang berlebihan. Burung-burung yang bermigrasi sepertinya memiliki peta bintang yang tertanam dalam otak mereka untuk membantu navigasi saat terbang ke arah utara pada musim semi dan ke arah selatan saat musim gugur. Ketika burung-burung terbang di atas perkotaan, burung-burung itu menjadi kebingungan karena tak ada navigasi, dan mereka akan terbang menuju cahaya yang menarik perhatiaannya, menabrak tiang lampu jalan, menabrak billboard, menabrak kaca gedung yang di dalamnya ada cahaya yang cerah, dan burung burung itu mati karena kebingungan. Seperti apa yang terjadi di Toronto, Amerika Serikat pada tahun 2010 lalu, lebih dari 1000 ekor dari 89 spesies mati hanya dalam kurun waktu 3 bulan.

Belum lagi cahaya artifisial juga mengganggu kegiataan penelitian astronomi. Kasus ini sudah terjadi di Komplek Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat. Bintang menjadi tampak berkelip cepat berkas cahayanya. Hal ini menandakan turunnya kualitas cahaya pada suatu waktu, dikarenakan cahaya dari perkemahaan warga sekitar yang menuju ke langit. Hal ini menjadi pemicu sosialisasi yang diinisiasi oleh para aktivis Bosscha, tentang pentingnya penggunaan tudung lampu untuk memfokuskan cahaya dan mencegah agar cahaya tumpah ke langit.

Cahaya artifisial ini juga berpengaruh terhadap tubuh manusia. Sebagai contoh kecil, menurut beberapa saintis, termasuk Epemiolog Richard Stevens dari Pusat Kesehatan di University of Connecticut, mengatakan bahwa ada bukti yang mengaitkan naiknya kasus kanker payudara di negara-negara industri dengan semakin banyaknya perempuan yang bekerja pada malam hari di bawah cahaya artifisial. Ini adalah salah satu contoh jika sebagian dari kita terlalu berlebihan berada pada paparan cahaya dan tidak lagi mendapatkan cukup kegelapan bagi tubuh kita. Ternyata tanpa kita sadari, tubuh kita ini, pada dasarnya, juga butuh gelap. Malam sudah sama seperti siang, tersinari cahaya. Orang-orang bekerja pada siang hari dengan cahaya matahari dan pada malam hari waktu istirahat atau melanjutkan aktivitasnya, orang-orang diterangi dengan sinar lampu. Dengan terus-terusan hidup dalam keadaan terang dan menolak keadaan gelap, bisa menyebabkan kesehatan kita dalam keadaan beresiko dan menyebabkan tubuh kita malah jadi tidak seimbang. (Ozi/Nanda/Jofie)

LEAVE A REPLY